Site icon LEAD.co.id

Webinar PB HMI, PB Jamsostek; Perlindungan Sosial Untuk Seluruh Pekerja Indonesia

LEAD.co.id | Pengurus Besar (PB) Himpuan Mahasiswa Islam (HMI) Bidang Kemitraan BUMN sukses menggelar Webinar Series bertajuk “Pentingnya Perlindungan Jaminan Sosial Bagi Milenial” melalui aplikasi Zoom, Kamis (10/12/2020).

Pada kegiatan yang juga live secara daring di Youtube Yakusa.ID itu, panitia mengundang Irvansyah Utoh Banja (Deputi Direktur Bidang Hubungan Masyarakat Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan).

Kemudian, Ajib Hamdani (Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP HIPMI), Arifki Chaniago (Pengamat Politik Milenial), sebagai narasumber dan Rifaul Awaliyah (Ketua Umum Kohati Cabang Salatiga) sebagai moderator.

Deputi Direktur Bidang Hubungan Masyarakat Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan, Irvansyah Utoh Banja menjelaskan, jaminan sosial adalah Perlindungan jaminan sosial bagi seluruh pekerja di Indonesia.

Adapun program BPJS meliputi ada 5 diantaranya, jaminan kecelakaan kerja, jaminan Kematian, jaminan Hari tua, jaminan pensiun, dan program jaminan kehilangan pekerjaan. “Pada program jaminan kehilangan pekerjaan ini antara lain, Cash benefit, Job placement, dan training. Namun pada program ini belum berjalan maksimal,” katanya.

Dijelaskan, para penerima jaminan pada seseorang yang mengalami kecelakaan kerja maka akan mendapat perawatan tanpa batas biaya sesuai dengan kebutuhan medis, santunan upah selama tidak bekerja.

“Kemudian, santunan kematian akibat kecelakaan kerja. Bantuan beasiswa untuk dua orang anak maksimal sebesar Rp. 174 Juta. Bantuan untuk kesiapan kembali bekerja,” ucapnya.

Lebih lanjut, kata Utoh Banja, dalam kategori jaminan kematian sebesar 20 juta. Santunan berkala 24 bulan sebesar Rp 12 Juta yang dibayar sekaligus. Biaya pemakaman sebesar Rp 10 Juta.

Bantuan Beasiswa untuk dua orang juta dan Bantuan beasiwa untuk 2 orang anak maksimal sebesar Rp 174 Juta.

“Jaminan hari tua meliputi hasil pengembangan JHT selalu di atas bunga deposit Bank Perintah dan manfaat layanan tambahan seperti bantuan perumahan,” tegasnya.

Sementara untuk jamiman Pensiun, lanjut pria berkacamata itu, diberikan kepada janda atau duda, pensiunan yang cacat, pensiun anak dan pensiun orang tua. Hal itu diterima secara berkala mencapai 40 persen dari upah setiap bulannya.

“Targetnya 15,7 juta, mekanisme pembayaran 2,4 juta dan total anggaran 37,7 juta,” tandasnya.

Terakhir, kata Utoh, jaminan sosial dalam kondisi pandemi dilakukan dengan beberapa cara seperti, penyesuaian iuran, perubahan pola layanan (LAPAK ASIK), lapak asik online. “Kemudian, lapak asik kolektif perusahan, lapak asik reguler atau online, dan program bantuan subsidi upah (BSU),” ungkapnya.

Sementara pemateri kedua, Arifki Chaniago, Pengamat politik millenial menjelaskan, ruang-ruang generasi dalam jaminan sosial perlu diperhatikan melihat beberapa hal, seperti, kelompok ini sebagai bonus demografi menentukan kemajuan Indonesia kedepan. Dan sistem kerja yang diminati millenial dengan yang lebih senior itu berbeda.

“Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah pertama, segi kebijakan dan kelompok milenial,” katanya.

Menurutnya, jaminan sosial yang ada di Indonesia ini, masih tergolong lemah. Dalam isu sosial dalam studi politik, kesehatan dan lain-lain. “Para penyelenggara jaminan sosial harus berusaha menarik generasi millenial ke dalam sistem jaminan sosial yang sesuai dengan cara hidup generasi millenial itu sendiri,” tegasnya.

“Upaya pendekatan dengan para millenial diperlukan usaha kreatif dan penyesuaian dengan dunia generasi tersebut,” imbuhnya menjelaskan.

Adapun pemateri ketiga, Ajib Hamdani Ketua Bidang keuangan dan perbankan BPP HIPMI menjelaskan, kunci keterlibatan generasi millenial dalam jaminan sosial dapat diupayakan dengan bagaimana mereka mengetahui secara proporsional, presisi dan komprehensif hak dan kewajiban yang melekat atas jaminan sosial yang mereka miliki.

“Pengetahuan yang komprehensif harus diberikan kepada generasi millenial, agar mereka mendapatkan pemahaman secara mendalam,” ujar dia.

Generasi milenial, kata dia, lebih memilih bergerak dalam kewirausaahaan. Hal tersebut menjadi fenomena yang kekinian. Kecenderungan yang ada adalah literasi keuangan mereka masih
rendah.

“Jaminan sosial bagi generasi sangat penting. Dan mereka kadang melupakan adanya jaminan sosial bagi mereka,” jelasnya.

Sumber : Yakusa.id
Editor : Aru Prayogi

Exit mobile version