Site icon LEAD.co.id

WhatsApp Diretas Jelang Simposium, Aktivis Bifa Sebut Krisis Demokrasi

BOGOR (Lead.co.id) – Dugaan aksi teror digital kembali menyasar kalangan aktivis mahasiswa dan pemuda. Akun WhatsApp milik aktivis muda, Mohammad Bifa Agusriyanto, dilaporkan mengalami peretasan tidak lama sebelum menjadi pembicara dalam Simposium Kebangsaan yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMARA), pada Rabu (1/7/2026).

Meski diwarnai insiden tersebut, simposium bertajuk “Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Republik” tetap berlangsung dengan dihadiri ratusan mahasiswa yang mengikuti jalannya diskusi mengenai kondisi demokrasi dan arah kebangsaan.

Dalam pemaparannya, Bifa menilai peretasan yang dialaminya bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari fenomena yang menurutnya patut menjadi perhatian di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.

“Aksi peretasan hari ini bukan hal baru. Namun, ini menjadi sinyal kuat bahwa kekuasaan sudah mulai ketakutan dengan suara-suara kritis masyarakat, terlebih di tengah kondisi kepercayaan publik yang kian merosot terhadap republik,” ujar Bifa di hadapan peserta simposium.

Pada kesempatan itu, Bifa juga menyoroti pentingnya pembenahan sistem kepartaian sebagai langkah awal memperbaiki arah demokrasi di Indonesia. Menurutnya, berbagai persoalan nasional tidak terlepas dari tata kelola partai politik yang dinilai belum demokratis.

“Semua permasalahan hari ini datang karena sistem kepartaian kita bermasalah. Hal itu terlihat jelas dari keabsolutan masa jabatan ketua partai. Oleh karena itu, demokratisasi negara ini harus dimulai dari akarnya, yaitu mendemokratisasikan partai politik terlebih dahulu,” tegasnya.

Menutup pemaparannya, Bifa mengajak mahasiswa untuk tidak gentar menghadapi berbagai bentuk tekanan, baik secara fisik maupun digital. Ia menilai risiko tersebut merupakan konsekuensi dari perjuangan menyuarakan kepentingan masyarakat.

“Saya menegaskan bahwa saya tidak akan pernah takut, walaupun harus dihadapkan pada berbagai teror. Ini sudah menjadi konsekuensi logis dari perjuangan rakyat yang harus kita menangkan,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta.

Melalui forum Simposium Kebangsaan tersebut, Bifa turut mengecam keras segala bentuk dugaan teror digital yang menyasar kelompok-kelompok kritis. Ia juga mendesak agar ruang demokrasi digital tetap dijaga secara aman, bebas, dan inklusif sehingga setiap warga negara dapat menyampaikan pendapat tanpa rasa takut terhadap intimidasi maupun serangan siber.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan maupun informasi yang mengidentifikasi pihak yang diduga bertanggung jawab atas peretasan akun WhatsApp tersebut.

Surya Sp

Exit mobile version