Oleh: Dr Apendi Arsyad
Wah, alhamdulillah di ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru City kini sudah ada tambahan sarana prarasana wisata alam sungai yg menghibur masyarakatnya yaitu munculnya event ecotoerisme based River Basin (daerah aliran sungai = DAS) dengan kapal pesiar di sungai Siak. Alhamdulillah sdh ada kemajuan dan peradaban baru muncul. Walaupun agak terlambat sebenarnya, jika dibandingkan negeri dan negara maju di belahan dunia lainnya. Tapi tidak apalah dari pada tidak sama sekali dikerjakan, lebih baik terlambat.
Adanya wisata air dgn kapal pesiar (cruise) mengingatkan saya bersama keluargaku, berwisata ke beberapa negeri pada beberapa waktu atau tahun lalu di :
1. Kota Melaka, Malaysia;
2. Kota Bangkok,Thailand
3. Kota Seoul, Korea Selatan..etc
dan saya pernah juga berwisata air di Palembang City yang mengarungi DAS Musi, kira2 sebelas tahun lalu (2009) ada acara Silaknas ICMI disana. Saya menikmati wisata kapal pesiar (cruise) di DAS Musi Palembang Sumsel tsb, dengan hiburan musik dan kuliner pada malam hari, sungguh menghibur, menakjubkan dan mengesankan. Demikian juga berwisata alam dengan berlayar di sungai Melaka, sambil melihat perkampungan Melayu asli “haritage” yang didesain artistik “warna-warni” dan ditata apik dan menarik serta sorotan lampu (lighting) yang membuat wahana wisata semakin mempesona, para wisatawan pun dibuat takjub.
Kegelisahan intelektual saya sdh lama muncul atas belum dikelolanya potensi sumberdaya alam dan lingkungan (SDAL) secara optimal untuk nemakmurkan rakyat Indonesia, bahkan yang ada dan terjadi adalah maraknya tindakan pengrusakan2 ekosistem alam saja oleh manusia2 yang “serakah dan bodoh”. Saya pernah menulis soal pemanfaatan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) ini untuk pengembangan bisnis wisata alam berbasis ekosistem DAS/sungai dan daerah rawa2 (ecotoerisme based river and wetland) di dalam buletin Canang IKC se Jabodetabek beberapa edisi. Kritik terhadap kondisi pembiayaran Peti di DAS Kuantan dan DAS Singingi juga telah disampaikan, sepulang berwisata dari luar negeri negara Thailand sekeluarga banyak hal, saya mendapatkan pelajaran (lesson learned) dan inspirasi. Dengan rasa penasaran,…kok negara orang bisa mengelola DASnya, mengapa ? negara kita tidak melakukannya, begitulah kegelisahan intelektualku.
Pemerintah Bangkok City daerah sungai dan rawa2 (wetland ecosystem) saja bisa mereka kelola dengan baik untuk menambang devisa negara, lapangan kerja bagi local community, industri handicraft pun menemukan pasarnya, dll. Begitu banyak para wisman berkunjjung ke lokasi wetland (rawa2) di sekitar Bangkok, begitu juga DAS yg melintasi kota Bangkok tertata rapi dan banyak event2 wisata yg memanjakan mata wisatawan. Padahal potensi SDAL yg kita miliki lebih hebat dari mereka. Potensi SDAL kita melimpah, terutama SDAL Wetland (lahan gambut, rawa2, danau dan DAS beserta vegetasi-flora dan fauna yg kaya keanekaragaman hayatinya, ekosistem hutan tropikanya) dibuang-buang percuma begitu saja, dicemari sebagai tong sampah etc, bahkan dibakar yg membuat udara tercemar dengan asap, wabah penyakit pun berjangkitan. Sedangkan DAS2nya di Riau dicemari limbah pabrik, rumah tangga dan penambangan emas liar (Peti) juga masih marak dengan menggunakan bahan kimia yang berbahaya beracun (B3, al Merkuri/air raksa dll) yg mematikan itu. DAS Siak selama dijadikan belakang rumah, yang sekaligus penerima tinja manusia dan limbah domestik lainnya. Dan pola budaya masyarakat pun belum menjadi DAS sebagai halaman pekarangan rumah yg harus dijaga kebersihannya dan didesain bernilai estetika, asri dan indah enak dipandang mata, tidak kumuh dan sembrawut.
Itulah gambaran watak buruk pejabat Pemda/ Indonesia bakatnya hanya menghancurkan ekosistem hutan dan DAS serta danau yg ada.
Ini menandakan bahwa masih rendahnya kualitas SDM daerah kita. Padahal kaum cerdik pandai, para pakar manajemen SDAL lumayan banyak, tetapi jarang dan bahkan tidak dilibatkan merencanakan tata kelola ekosistem DAS, danau dan hutan.
Saya bersama anggota keluarga pernah 2-3 tahun yang lalu pernah berwisata ke Seoul City Korsel. Bagi mereka ke sana, sangat paham bagaimana DAS Hans yg berada melintasi kota metropolis Seoul begitu bersihnya (tertata rapi, airnya jernih, tanpa bau busuk/amis-sampah, aneka ikan berkeliaran, fauna2 air hidup spt itik tampak bersuka ria di sungai, dll) berbagai aktivitas manusia di sepanjang-sepadan/badan sungai, Hans River Korsel hidup dan cukup ramai, seperti: berolah raga sepeda, jogjing, bisnis kuliner/ restoran, rekreasi taman tepi sungai orang2 santai bercengkrama, dan aktivitas paket wisata kapal pesiar dengan route2 yg sudah terprogram dengan baik dan profesional. Saya bersama keluarga pernah juga menikmati paket wisata kapal pesiar (cruise) Hans River di Seoul Korsel, yang mengasyikan dan mengesankan. Kami menikmati betul pemandangan pada malam hari Soul City, sambil mendengar dendangan musik group band dengan lantunan syair lagu2 pop Korea yg lagi ngetop nan romantis, kami sbg wisman sangat terhibur. Begitu tingginya kemajuan peradaban modern berbasis ekowisata- sungai di Korea Selatan, yg berkesempatan saya amati dan nilmati. Pemimpin mereka sangat visioner dan strong leader, sehingga telah mampu mengelola ekosistem DAS Hans yg sangat panjang dan cukup lebar tsb, yang melintasi Kota Seoul (ibaratnya DAS Ciliwung yg melintasi DKI Jakarta), kini memiliki pola pemanfaatan terpadu yang berorientasi pada multi-purpose dengan perolehan manfaat (benefitsary) yang besar baik secara ekonomi, konservasi SDA maupun sosial, karena banyak didatangi para wisatawan domestiknya dan wisatawan mancanegara.
Dengan adanya “Quantung-Cruise” di DAS Siak Kota Pekanbaru, dengan servis aneka kuliner dan musik Melayunya, sambil melihat fanorama tebing DAS Siak dengan hiasan gedung2 tua “haritage” tempo doeloe di malam hari, dengan cerita sejarah masa lalunya tentang asal-muasal Provinsi Riau. Saya melihat vidio “Quantung Cruise” yang sedang berlayar di DAS/sungai Siak daerah Senapelan Kota Pekanbaru, yang telah diposting videonya di WAG IKKS Forkom ini oleh abang Firdaus/IKKS Pku (Jumat 23/10-2020). Ini menandakan era peradaban baru nan maju mulai muncul di bumi Lancang Kuning Riau, alhamdulillah.
Ya …saya dan kita tentunya banyak bersyukur, bahwa para pejabat Riau sudah berpikir maju mencontoh daerah dan negara maju lainnya yang telah sukses mengelola potensi DAS, wetland zone, dan danaunya sbg sumber “income generating” daerah, PADS, dan juga memberikan wahana hiburan dan edukasi berbasis ekosistem DAS bagi warganya, yang cukup menyenangkan. Tergambar dari kegiatan river-ecotourisme menyelusuri badan air sungai Siak di daerah Senapelan, dengan menggunakan kapal pesiar “Quantung Cruise”, sungguh mengembirakan kita, orang Riau. Ini suatu pertanda bahwa sebuah peradaban baru yg maju telah mulai hadir di bumi Lancang Kuning, Riau.
Kita tentu sangat berharap pemikiran2 kreatif dan inovatif dengan terobosan yg cerdas harus dilakukan saat ini oleh para pemimpin visioner Riau, agar masyarakat Riau tidak lagi tertinggal jauh dengan daerah lain yg telah maju dan hidup berkemakmuran.
Buanglah jauh2 penyakit sosial korupsi (KKN), life style hedonis dari lingkungan birokrasi Pemprov Riau dan Kabupaten/Kota se Riau, agar sikap dan perbuatan para Penyelenggara Pemerintahnya berpikiran jernih dan cerdas, yang terpancar dalam pola pikirannya (mindset) para pejabat pemerintahan dan didukung para pemangku kepentingan (main stakeholders) lainnya, yang sehat, sadar dan peduli kelestarian lingkungan.
Ingat berdasarkan konsep dan teori bahwa kekayaan alam dan jasa2 lingkungan yang potensinya melimpah akan berpeluang besar mensejahterakan rakyatnya, jika dikelola dengan baik dan bijaksana sesuai dengan prinsip2 dan kaidah2 konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) yg berbasis keberlanjutan ekonomi, ekologi dan ekososial secara saling berkaitan satu sama lainnya (Integrated River Basin management). Norma2 dan teknik2 managemen SDAL sdh banyak dalam ipteks, bisa dipelajari untuk dipahami, dihayati dan dijalankan dalam membangun masyarakat Melayu Riau.
Di era millenial yg saat ini tengah berlangsung setiap negara di dunia termasuk NKRI anggota PBB, telah berkomitmen mewujudkan 17 agenda dan tujuan/target Sustainaible Development Goals (SDGs).
Kita berharap para pemimpin Riau Bpk Gubri dan para Bupati dan Wali Kota yg terpilih adalah seorang Tokoh pemimpin yang visioner yang ‘strong leader’ yg berkualitas dari hasil pesta demokrasi Pilkadal nanti (tanggal 9 Desember 2020). Mereka hendaknya sudah paham, mengerti dan mau serta mampu menjalankan agenda SD and SDGs United Nations tsb, dengan visi dan misi pembangunan yang jelas dan tegas komitmennya.
Bangunlah masyarakat Riau berbasis saintek dan seni-budaya Melayu, jangan lagi ngobral nafsu serakah 3 Ta (Tahta, Harta dan Wanita/sex) jika berkuasa dan mendapat amanah Pilkadal. Sebab perbuatan 3 Ta tsb, hasilnya dan dampak negatifnya luar biasa yaitu ketertinggalan dan kemiskinan bagi rakyat dan masyarakat lokal Riau. Padahal ketersediaan SDALnya kaya dan melimpah, yang dianugerahi Allah SWT di bumi Lancang Kuning Riau. SDAL tersebut bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat sebesar-besarnya (ingat pesan dan komitmen politik negara berdasarkan UUD1945 pasal 33).
Janganlah seperti kondisi saat ini kekayaan hutan tropika, DAS, danau2 dan rawa2 yg berpanorama indah dihuni berbagai jenis ikan air tawar dan payau tropis di bumi Riau, kini menjadikan “kutukan” SDA bagi penduduk lokalnya, meminjam istilah peraih hadiah Nobel dalam bidang ekonomi thn 2001, Joseph E Stighlitz. Hal itu terjadi selama ini, akibat lemahnya kepemimpinan daerah dan nagori.
Demikian narasi saya buat tentang peradaban baru yg maju berupa wisata air kapal pesiar Quantung “Cruise” di sungai Siak telah lahir di Kota Pekanbaru Riau, tulisan ini menjelaskan persfektifnya, semoga bermanfaat untuk kemajuan nagori kita. Sukron dan barakallah.
Wassallam.
Artikel oleh: Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi
Penulis adalah Dosen, konsultan dan Pemerhati Sosial, serta aktivis beberapa Ormas di Bogor

