Renungan Bagi Para Koruptor dan Ingat Amanah Rakyatmu

oleh -298 views
Apendi Arsyad, New Normal, KAHMI, ICMI, Covid-19
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr.H. Apendi Arsyad

Astaghfirullahalaziem, saya baru membaca media online Riau Bangkit.Com, dan media online Riauin.Com (Jumat 14/8-2020) memberitakan mantan Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) tersangkut kasus hukum, yang tadinya sebagai saksi, kemudian berubah penyelidikan dan kini naik statusnya penyidikan terhadap kasus perbuatan “korupsi” pada Proyek pembangunan ruang pertemuan dan pengadaan perabot Hotel milik daerah yang sudah berdiri di kota Taluk Kuantan, Kabupaten Kuansing pada TA 2015 yang lalu. Saat ini Hotel tersebut mangkrak, proses pembangunannya terhenti agak cukup lama.

Menyimak isi berita dari 2 media online tersebut, dengan mengutip keterangan dari pihak Kejaksaan Negeri Kuansing, bahwa pihak kejaksaan Kuansing sudah mendapatkan 2 (dua) alat bukti kerugian negara dan terjadi malpraktek administrasi, sejumlah uang tidak jelas aliran dan pertanggungjawabannya. Itu keterangan yang disampaikan langsung Kepala Kejaksaan Negeri Kuansing kepada awak media sosial tersebut diatas. Sekarang pihak penegak hukum dari Kejaksaan Negeri tengah menghitung berapa besar kerugian negara dari proyek pembuatan ruang pertemuan dan pengadaan seperangkat Meubeiler Hotel tersebut dari pihak akuntan publik independen.

Dengan menyimak isi berita ini, kita cukup prihatin, miris dan memilukan hati kita akan kasus manipulasi tersebut masih saja terjadi. Dana APBD Kuansing yang begitu besar jumlahnya milyaran rupiah “dihambur-hamburkan” penggunaannya, dan “menguap” begitu saja entah kemana dan untuk apa ?. Padahal rakyat daerah ini membutuhkan dana yang cukup besar untuk mensukseskan program penanggulangan kemiskinan dan kemelaratan penduduk yg masih terjadi di daerah Kuansing.
Proyek hotel yang berdiri di tengah kota Taluk Kuantan tersebut, dari jalan raya tampak dalam kondisi ‘mangkrak’ sudah bertahun-tahun lamanya, dengan kata lain proyek itu mubazir dan tidak jelas manfaatnya untuk apa? jika dihubungkan dengan pemberantasan kemiskinan rakyat di desa-desa.

Inilah salah satu sumber (faktor) penghambat kemajuan nagori Kuansing, dimana para elite politik dan pemerintahanya (the ruling party) belum sadar, dan masih gemar ‘menggembosi’ dana APBD atas nama pembangunan sarana dan prasarana (insfrastruktur). Artinya ketika beliau2 itu berkuasa betul2 menjadi politikus (banyak tikus yang menguntil kantong APBD), bukan berbuat sebagai seorang tokoh bermoral negarawan yang taat pada konstitusi negara. Anehnya ketika menjabat dan berkuasa berbuat korupsi tidak tersentuh aparat penegak hukum, tetapi setelah melepaskan kekuasaannya, turun dari singga- sana kekuasaannya, tiba2 dipanggil pihak Kejaksaan sebagai saksi, kemudian diselidiki, disidik, menjadi tersangka, dan akhirnya terpidana sebagai Koruptor setelah terbukti di persidangan tindak pidana korupsi.

Baca :  Koperasi Indonesia Bagaimana Nasibmu Kini?

Seandainya betul ini terjadi, kasihan rakyat yg telah susah payah memilih untuk menemukan pemimpinnya yg terbaik dalam pesta demokrasi, agar.mereka para pemimpin bisa berperan dan berfungsi untuk mensejahterakan rakyatnya. Bahkan dalam Pilkadal pun sesama rakyat terkadang terjadi konflik sosial horizontal yg keras antar pendukung utk memperjuangkan calon bupatinya agar bisa menang dalam pesta Pilkadal, dan kantor KPUD Kuansing pun pernah dibakar massa rakyat yang kecewa. Dalam proses Pilkadal rakyat telah menunjukkan “kesetiaannya” pada nagorinya, dengan segala pengorbanannya untuk mendambakan lahirnya seorang vigur pemimpin yang baik. Tetapi sayang setelah memenangkan pertarungan pilkadal Bupati, rakyat pun ditinggalkan dan dilupakan begitu saja, ibarat peribahasa..”ketika mobil mogok didorong ramai2, setelah itu para pendorongnya ditinggalkan begitu saja..”, para elite politik, sang penguasa dan pejabatnya menikmati kekuasaan dengan bergaya hidup mewah dan bermegah-megahan (hedon) dengan menggunakan dana haram sisa proyek sarana prasarana (insprastruktur) pembangunan tadi. Sebaliknya kehidupan rakyat selama beliau2 itu memimpin tidak banyak perubahan nasib.

Sekali lagi, kasihan rakyatnya. Kapan kasus korupsi para pejabat Pemerintahan seperti ini berakhirnya di rantau Kuansing ?

Selain itu kita sebenarnya juga ‘kasihan’ melihat para elite yang sesat dan lupa diri itu. Mereka sudah capek2 bertarung dalam pileg dan pilkadal, merebut posisi puncak kekuasaan, menikmatinya berbagai fasilitas, akhirnya karena pola berperilaku yang salah gemar berbuat dosa (serakah) dan lupa ajaran agama (Al Quran dan Sunnahrasulullah), akhirnya berurusan dengan pihak Kejaksaan Negeri. Kemudian terbukti bersalah melakukan tindakan korupsi akhirnya dijebloskan dan masuk penjara. Sungguh kasihan kita mendengarnya, sebaiknya di masa hari tua (lansia) mereka menikmati hidup di rumah bersama anggota keluarga beserta anak-cucunya, kini mendekam di jeruji besi penjara.. Nauzubillahiminzalik, semoga Allah SWT melindungi dan menolong kita serta terhindar dari kasus korupsi yg membuat “sengsara” keluarga tersebut. Amin3 YRA.

Jika kita renungkan sebenarnya, kasihan juga pada keluarganya, anak dan cucu serta para dunsanak (the big family) yang menanggung malu, status sosialnya kini berubah secara tiba2 yang tadinya orang yang sangat dihormati dan disegani di lingkungan masyarakat, kini berubah drastis menjadi “koruptor” orang yang dibenci dan dimurkai, karena secara fakta hukum telah terbukti sebagai perampok, penjarah dana milik rakyat untuk memperkaya dirinya. Padahal dana APBD itu untuk pembangunan daerah, dan untuk memenuhi kebutuhan dan memakmurkan rakyat yang ia pimpin.

Baca :  Pentingnya Sosok Ibu Kandung Lansia dalam Keluarga Samarah

Maraknya kasus korupsi dana pembangunan ini merupakan sebuah fenomena sosial, yang sungguh sangat memperihatinkan kita semua. Terkadang saya cukup bingung memahami fenomena korupsi para penguasa dan politisi di negeri ini, yang mereka hidup beragama, dan bahkan taat menjalankan syariah agamanya dalam kehidupan sehari-hari, lima rukun Islam dijalankan (termasuk berhajji), tetapi mengapa ya? kok ahklaqnya begitu ?. Apakah Ini yang dikatakan KH Mustafa Bisri “.. orang hidup beragama tetapi tidak bertuhan.,”? seperti maksud dari tulisan saya terdahulu, yang telah diposting di WAG kita ini.?

Kita harus yakin bahwa para pemimpin yg gemar menyalahgunakan kekuasaannya (abuse of power) dengan menghambur-hamburkan uang rakyat, pastilah mereka tidak akan bisa menikmati kebahagiaan hidup di dunia,..itu sesuatu fatamorgana saja, indah dilihat tetapi sesungguhnya tidak ada apa2nya karena tidak berkah. Dikiaskan dalam Al Quran, pengertian “fatamorgana” itu seperti .. “debu/pasir digurun, apabila datangnya angin debu/ pasir akan berterbangan dengan mudahnya..hilang begitu saja”. Apalagi kehidupan akhirat kelak, hidup setelah manusia itu mati, karena setiap makhluk bernyawa pasti mati, ada ajalnya (pada waktunya dicabut nyawanya oleh Malaikat Maut). Tempat mereka para koruptor adalah di neraka jahannam. Itu menurut firman Allah SWT dalam Al Quran, dan kita harus wajib mempercayainya, jika ingin selamat hidup di dunia dan akhirats. Makanya kitab sucinya, dibaca dengan baik, disimak dengan khusuk, dipahami maknanya dengan cerdas, dan dikhayati di qalbu serta diamalkan dengan sebaik2nya. Dan tetaplah istiqomah selama memegang amanah, dan jangan lupa kendalikan napsu dengan gaya dan pola hidup cukup saja (sederhana), itu ajaran yang tertera dalam Al Quranul karim. Saya yakin jika gaya dan pola berperilaku “hidup cukup dan sederhana” tersebut ada dalam jiwa- raga para pemimpin dan elite politik serta pemerintah daerah (the ruling party), maka mereka akan tercegah dari perbuatan jahat korupsi yang merampas hak-hak rakyat. Implikasinya kemajuan nagori dan kesejahteraan rakyat pun di kampuang2, insyaAllah akan lebih cepat bisa terwujud. Syaratnya para pemimpinnya beragama dan juga hidup harus bertuhan. Setiap langkah dan perbuatannya sehari-hari dalam memimpin rakyatnya, ingat peringatan dan berita gembira dari Allah SW tentang makna sebuah amanah, dan kemudian mematuhi segala perintahNya dan mejauhi segala laranganNya, jika mau sukses dan hidup selamat serta berbahagia dunia dan akhirats.

Baca :  Catatan Kecil hasil Silaturahmi dengan Prof Dodik Ridho

Sebuah renungan bagi para elite politik, khususnya di Kuansing yang “haus” kekuasaan, mau bertarung habis2an merebut singgah sana puncak kekuasaan. Sesungguhnya hakekat apa yang.mereka cari dalam kekuasaan itu.? sepatutnya terus direnungkan.

Maaf saya sedih, gemas dan muak, jika membaca dan mendengar berita2 ada para oknum pejabat negara yang tersangkut kasus hukum-korupsi..miris hati ini…dan mau “marah”…tapi ngak bisa,…marah kepada siapa?.ya ngak bisa..ya jadinya cukuplah dengan tulisan ini untuk melepaskan kekesalan (uneg2) atas kebobrokan (amoral) birokrasi Pemerintahan daerah kita hingga saat ini masih juga terjadi. Kita berharap tata kelola pemerintahan yang baik (good and clean governance) di daerah kita Kuansing segeralah terwujud dan diisi oleh para aparatur dan penyelenggara pemerintahan dari orang yang baik2, jujur (berintegritas), terpelajar, profesional dan loyal-berdedikasi, sehingga rakyat mendapat pelayanan yang baik dalam segala aspek kehidupannya.

Bagi para politisi dan elite bangsa, agar selalu diingat secara konstitusional (UUD 1945) tugas dan kewajiban kekuasaan yg diraih itu sebenarnya sangat mulia. Kekuasaan yg diraih dalam pileg dan pilkadal itu, agar digunakan untuk mewujudkan cita2 bernegara yaitu: (a) melindungi seluruh tumpah darah Indonesia/segenap rakyat Indonesia, (b) memajukan kesejahteraan umum, (c) mencerdaskan kehidupan bangsa dan; (d) ikutserta aktif menciptakan dan memelihara perdamaian abadi dan hidup rukun antar sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta damai antar bangsa di dunia.

Jadi kekuasaan itu sebuah kepercayaan (amanah) yg diemban seorang pemimpin secara bergiliran di muka bumi ini, yang tujuannya mulia untuk mensejahterakan rskyatnya, bukan untuk hidup bergaya mewah dan berpoya-poya (hedonist) dengan berbuat korupsi dana publik. Harapan kita para tokoh politik dan pemerintah yang berperipaku menyimpang segeralah sadar dan bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sebelum nyawamu dicabut Sang Pemiliknya, Allah SWT. Kepada mereka sebagai generasi pelanjut Kepemimpinan Daerah Kuansing hendaknys bisa memetik pelajaran.

Semoga Allah SWT masih membuka pintu taubat buat mereka2 para koruptor di negeri ini. Amin3 YRA… banyak-banyaklah kita beristighfar dan mensyukuri nikmat yang ada… Sukron Barakallah.
Wass.

Penulis adalah Hamba Allah yang mencintai Keadilan dan Kebenaran (Pendiri, Asosiate Professor/Dosen pada Universitas Djuanda Bogor dan Aktivis Ormas di Bogor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *