Peran Alisa Khadijah Kota Bogor dalam Memajukan UMKM Halal dan Toyib

0
Alisa Khadijah, ICMI, Kota Bogor, UMKM, Halal, Toyib
Webinar Raker Alisa Khadijah ICMI Kota Bogor, pada Sabtu, 3 April 2021

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Topik webinar Alisa Khadijah adalah “Bersinergi dan berkontribusi Alisa Khadijah dalam Memajukan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Bogor”. Sebuah topik bahasan ini sangatlah menarik dan urgent, yang dittunggu oleh masyarakat khususnya warga kota Bogor yang jumlah UMKMnya tidak kurang ada sekitar 8000 sampai 11 000 unit usaha yang tersebar di 7 kecamatan di Kota Bogor.

Dalam melihat keragaman UMKM yang ada terdapat sejumlah peluang dan tantangan yang menghadang, mereka memerlukan uluran tangan pihak luar termasuk LSM, Ormas dan barangtentu Pemkot Bogor berperan membantu usahanya.

Peranan UMKM sangat besarnya kontribusinya dalam perekonomian Kota Bogor, income keluarga (household income), lapangan kerja (job), terutama di saat “krisis ekonomi” dampak pandemi Covid 19 bisa berperan sebagai katub pengaman sosial.

Kita tahu bahwa para pelaku UMKM Kota Bogor para pebisnisnya adalah didominasi kaum perempuan pengusaha (enterpreuner). Dengan besarnya peranan kaum perempuan, konsekwensinya peran dan kontribusi Alisa Khadijah ICMI Kota Bogor sebagai salah satu Badan Otonom ICMI Orwilsus Bogor.

Posisi Batom (Badan Otonom) Alisa Khadijah ICMI begitu sangat strategis untuk menjalankan misi ICMI yang kita kenal 5 K ICMI. Misi 5K ada 5 kualitas manusia, masyarakat/ ummat dan bangsa Indonesia sebagai long march untuk meningkatkan kualutas SDM dalam imtaq dan ipteks. Rincian 5 Kualitas tersebut adalah sbb:

1. Keimanan dan ketaqwaan kpd Allah SWT (bertauhid)
2. Pikir, penguasan ipteks
3. Karya, inovasi-2 antara lain spt produk UMKM Alisa Khadijah ICMI ini
4. Hidup, pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat spt para pelaku UMKM Kota Bogor yg menjadi objek/subjek sbg ladangan garapan amal Batom Alisa Khadijah, dsb
5. Kualitas hidup Berkeluarga menjadi Keluarga yang penuh kasih-sayang dan cinta (Sakinah Mawaddah Warohmah) yang menjadi idaman kita sebagai kaum mukmin dan mukminat.

Misi ICMI ke-5 inilah peran dan fungsi kaum ibu yang tergabung dalam Batom Alisa Khadijah ICMI mutlak adanya, tidak perlu disangkal dan diperdebatkan lagi.

Al Quran dan Sunnah Rasul sebagai pedoman hidup dalam Dinnul-Islam cukup jelas dan tegas, yang mengungkapkan apa dan bgm peran dan fungsi kaum perempuan muslimah seperti peranan usaha-ekonomi yang di-suritauladani istri Rasul yang amat dicintainya, Siti Khadijah; Ibu dalam Keluarga sebagai Madrasyah utama dan pertama (sukses dan gagal anak keturunannya pada umumnya ditentukan faktor utama ibu yang melahirkan, menyusui, mengasuh, membesarkannya dan mendidik serta terus membimbing putra-putrinya bahkan cucu-2nya.

Baca :  Kota Bogor Dapat Bantuan 11000 Unit Rutilahu

Dalam kontek topik Webinar Alisa Khadijah ICMI tentang pangan bergizi dan halal (halalan toyibban) dalam kontek membangun keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah ini sangat vital menentukan kualitas SDM baik secara individual, keluarga dan masyarakat.

Makanan halal dan baik (toyiban) ini Al Quran banyak ayat-2, firman Allah SWT bahwa kita wajib mengkonsumsi yang halal dan baik. Beberapa firman Allah SWT dalam Al Quran surat (QS) agar kita mengkonsumsi makanan yang halal, diantaranya terdapat dalam QS Al Baqarah: 168, QS Al Maidah: 68, QS Mu’minin: 51, QS Al-An’am: 119, dan sebagainya.

Sedangkan lawannya dari yang halal adalah haram, dilarang syara’, berdosa jika melakukannya dan berpahala jika meninggalkannya. Terhadap sesuatu atau barang-2 yang haram, baik haramnya itu bendanya, zatnya atau hasil dari yang haram juga, kita diperintahkan Allah untuk menjauhi sejauh-jauhnya, seperti di firman dalam QS Al Baqarah: 188, QS An-Nisa: 10, QS Al Maidah: 3, QS Al Baqarah: 173, dan sebagainya.

Cukup jelas mana yang diperbolehkan (halal) dan yang dilarang (haram) jenis-jenis dan kriterianya disebutkan dalam beberapa surat dan ayat ayat-Nya.

Imam besar Al Ghazali dalam sebuah kitabnya “Benang Tipis antara Halal dan Haram (2002), Penerbit Putra Pelajar Surabaya, menjelaskan bahwa pola berperilaku manusia itu sangat ditentukan oleh faktor apa yang dia konsumsi (makan) sehari-hari, sebab makanan itu dalam tubuh manusia akan membentuk darah yang mengalir dalam urat nadi kehidupan manusia.

Dalam hal ini ulama besar Imam Ghazali berpendapat, jika makanan yang halal yang kita konsumsi selama hidup kita maka hasilnya pola berperilaku seseorang itu insya-Allah akan baik dan mulia (akhlaqul karimah) dan demikian pun sebaliknya, jika seseorang gemar mengkonsumsi yang haram (dilarang agama Islam) seperti memakan bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih bukan atas nama Allah (QS 2 ayat 3), termasuk pula binatang yang menjijikan yang diharamkan, termasuk sesuatu makanan yang sering dikonsumsi, dan barang (pakaian) yang dipakai sehari-hari dari hasil perbuatan jahat (kriminal) seperti mencuri, menjarah, merampok, memeras dan korupsi dsb, akibatnya makan dan memakai yang haram pola berperilaku manusia (keluarga, suami-istri dan anak-anaknya) semakin jauh dari rahmat Illahi dan barang tentu dicabut keberkahannya oleh Allah SWT.

Baca :  ICMI Bedah Buku Riset Ekonomi Politik Korupsi

Gejala sosial perilaku buruk dan jahat pun akan tampak dalam kehidupan kesehariannya dan sering merugikan orang lain. Pada gilirannya, pola berperilaku buruk dan jahat (kriminal) yang diperbuat seseorang tersebut akan membawa kesengsaraan bagi manusia itu sendiri seperti mabuk karena minum khamar, merampas hak orang/rakyat (korupsi dana APBD dan APBN dll), menipu, mencuri dan menjarah menjadi hidup resah-gelisah karena buronan, mengurangi timbangan hidup tidak tentram, dll.

Jadi, jika seseorang, individu dan atau keluarga gemar mengkonsumsi barang2 (terutama makanan dan minuman) dan jasa jasa yang dilarang Dinnul-Islam (QnS) diharamkan, akan semakin jauh dari kehidupan keluarga yang berbahagia (the happiness) dan susah mendapatkan keluarga yang hidup tenang dan damai (Sakinah Mawaddah Warrohmah) sebagaimana misi 5K ICMI yang point ke 5 tersebut di atas. Bahkan maraknya mengkonsumsi dan memakai barang-barang dan jasa yang haram, maka justru yang muncul gejala sosial semakin meningkatnya perilaku yang menyimpang warga yang cenderung tidak bermoral, beretika dan berakhlaq.

Lantas apa ?, yang harus kita lakukan selaku warga dan aktivis Batom Alisa Khadijah ICMI dalam memasyarakat produk-produk halal dan baik (halalan toyiban) dalam lingkungan masyarakat UMKM sebagai produsen makanan dan juga membangun kesadaran dan kepedulian setiap anggota masyarakat sebagai konsumen makanan halal (halal food) yakni sbb:

1. Giat.mengembangkan produk-2 halal dan baik, yang beraneka ragam kemasan (packaging), higenis dari bahan baku yg dijamin halal;
2. Giat melakukan pembinaan.(penyuluhan, penataran, workshop, dan pendampingan kepada ibu-2 rumah tangga muslim agar terbangun komunitas Halal Consumers, dan.para pelaku bisnis UMKM Kota Bgr.
3. Khusus.untuk pelaku usaha makanan dan.minuman yang dilakukan para pelaku UMKM, Batom Alisa Khadijah ICMI giat.memberikan paket penyuluhan tentang kriteria san persyaratan produk-2 halal secara teknis, juga berikan pendampingan untuk kelancaran usaha mikro, ultra.mikro (para PKL) baik dalam kemasan, sajian, permodalan dan pemasaran dsb)
4. Dalam era pandemi Covid 19 dimana ketatnya pelaksanaan prokes (khususnya jaga jarak, dilarang berkerumun dsb), sehingga konsumen enggan keluar rumah, maka Alisa Khadijah sebaiknya membantu dalam hal pemasaran online (digital marketing) dengan aplikasi-2 digitalnya.

Baca :  Rumah Warga Dikosongkan, LBH KBR Gugat Presiden hingga Panglima TNI

Dalam hal ini Alisa Khadijah perlu me-lobby mencari dukungan dana Corporate Social Responsibity (CSR) perusahaan-perusahaan besar di Bogor, NGO al Halal Centre IPB yang memiliki banyak ahli (expertist) analis kimia pangan, dan atau Pemkot Bogor cq Dinas Indag dan Dinas Koperasi dan UKM Kota Bogor, Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor dll untuk bersama melakukan gerakan program aksi bersama untuk membangun kesadaran warga masyarakat sadar dan peduli akan bahan konsumsi yang halal dan toyib. Warga masyarakat hendaknya sudah mendapatkan penyuluhan materi tentang pentingnya pangan sehat dan makanan halal agar tercipta para konsumer (halal consumers).

Apalagi Kota Bogor sudah pernah mencanangkan (launching) sebagai Kota Halal (Halal City). Kira-kira satu dasawarsa yang lalu, semasa Wali Kota Bogor Diana Budiarto, MPW ICMI Orwil Khusus pernah mengadakan seminar Kota Bogor sebagai Kota Halal di Balai Kota Bogor, bekerjasama dengan Pemkot Bogor.

Ini adalah sebuah peluang Batom Alisa Khadijah ICMI Kota Bogor melanjutkan untuk berperan aktif dan berkontribusi dalam pemberdayaan UMKM, terutama Usaha Mikro seperti Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tersebar di 7 kecamatan di Kota Bogor, yang memerlukan uluran tangan LSM/NGO seperti Alisa Khadijah ICMI.

 

Judul asli: Peran dan Fungsi Alisa Khadijah Cabang Kota Bogor-Batom ICMI Orwilsus Bogor Untuk Memajukan UMKM Halal dan Toyib (Materi Webinar Raker Alisa Khadijah Kota Bogor, pada Sabtu, 3 April 2021)

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Pemerhati Sosial, Aktivis Ormas$Ketua Wankar ICMI MPW Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here