Oleh: Dr. Apendi Arsyad
(Dosen, Konsultan dan Pemerhati Sosial)
Subhanallah, Maha Suci Allah, saya dapat melihat postingan seorang pemuda berambut gondrong, yang mengungkapkan kata kata, begitu sayangnya anak muda ini kepada Maknya, ketimbang dengan seseorang kekasihnya (“pacar atau mungkin istrinya), yang mungkin baru dia dapatkan. Pemuda ini, ingat akan jasa Mak (ibu kandungnya).
Pemandangan yang menarik dan mendidik, sekilas wajah pemuda itu dikesankan agak nakal “pemuda berandal”, tapi hatinya begitu mulia dan akhlaqnya baik. Dia memuliakan Emaknya, dengan mengutip bahasa Al Quran surat Al Isra, berkata “ah” saja kepada ibu tidak boleh, dilarang Tuhan dalam hidup ini, demikian penuturannya.
Ibu dalam bahasa Melayu dipanggil Mak, Emak, Mondek etc, sedangkan ibu dalam bahasa (baso) Caghonti “Omak”. Ibu kandung disebut dalam banyak kata dan bahasa berdasarkan kebudayaan dan peradaban masyakat, antaralain mother, ummi, mama, mami, mom, etc.
Ibu atau Omak, adalah manusia hebat yang luar biasa, yang Allah SWT ciptakan di muka bumi, yang peran dan fungsikan dalam hidup ini tidak tergantikan yaitu: 1.Mengandung; 2. Melahirkan; dan 3.Menyusui (menyapih lk 2 tahun) kita hingga bisa hidup menjadi orang besar seperti saat ini.
Sangat masuk diakal kita, bahwa peran ibu memelihara kita menjadi manusia berbudaya dan berperadaban tidak tertandingi oleh siapa2. Begitu pun doa ibu sangat mustajab menentukan nasib kehidupan kita di dunia dan akhirat yg tidak terbantahkan lagi, super ilmiah.
Ketika kita tengah berjuang di rantau orang untuk menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi, kesuksesan hidup yg kita dapat itu juga adalah berkat doa-tulus-ibu yang telah memohon kepada Allah SWT untuk keselamatan dan keberhasilan anaknya. Berbagai kesulitan dalam proses belajar di sekolah dan kampus, serta urusan kehidupan yang pelik di rantau orang dimudahkan Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Hal2 seperti itu juga pernah aku alami semasa menjalani studi, dan alhamdulillah berhasil berkat doa yg tulus dari Omakku di kampuang halaman.
Jadi apa yang dinarasikan postingan “pemuda gondrong” pada kenyataannya benar adanya. Hal itu sekaligus merupakan peringatan bagi kita untuk selalu merawat dan menjaga pola relasi-silaturrahmi anak dan ibu, agar tetap sehat dan harnomis atas landasan penuh rasa kasih sayang krn Allah taalah.
Apa yang diajarkan agama Islam (Dinnulislam), sangat masuk di akal, super rasional bahwa dalam hadis Nabi, menyatakan bahwa untuk ibu mendapat 3, sedang ayah hanya 1, sebagaimana isi tausyiah ustadz UAS, ulama kondang dari kota Pekanbaru-Riau yg sempat viral di medsos.
Pangalaman kita semua, khususnya keluarga Sakinah-Mawaddah-Warohmah (keluarga yang bahagia dan berkasih sayang), ketika kita bicara mengenai ‘sesuatu’ hal, curhat dan minta nasehat kepada Omak (ibu kandungku) di rumah, resonansi rasa kasih-sayang pun muncul di hati, rasa haru, dengan mata yg ber’kaca-kaca’. Linangan air mata pun mengalir di pipi tanpa sadar, dan kita tak tahu bagaimana menghilangkannya. Itulah namanya “air mata kebahagiaan”, yang semua orang terkadang tidak bisa menikmatinya, dan agak sulit mendapatkannya.
Ibu (Omak) adalah sumber energi positif, menurut pendapatku Omak adalah “segalanya” buatku. Atas landasan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, memuliakan kehidupan Omak (ibu) adalah jalan keselamatan baik hidup di dunia maupun akhirats. Demikian pun sebaliknya, jika kita seorang menelantarkan orangtua (ayah dan ibu) apalagi berbuat durhaka, maka hidup kita manusia akan sulit, susah dan sengsara hidupnya, akan semakin jauh dari kebahagiaan (the happiness). Hati orang itu pun selalu resah-gelisah, pikiran kusut, dan hidup dimana pun berada tidak akan pernah tenang dan tenteram.
Jadi apa yang diungkapkan seorang Pemuda Melayu berambut gondrong tsb, yg telah viral di medsos (WAG), janganlah berkata “ah” dihadapan ibu adalah benar sekali.
Memang, dalam Al Quranulkariem ditemukan pada beberapa surat dan ayat, berkata “ah” saja dihadapan Omak (ibu) sudah ditegur keras oleh Allah SWT sebagaimana dalam QS Al Isra’ ayat 23..”….jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-sekali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkan kepada keduanya perkataan yang baik”).
Bersikap seperti berkata “ah”, membentak dan berkata kasar kepada keduanya adalah perbuatan dosa besar (durhaka) dan dimurkai Allah. Perbuatan jahat terhadap kedua orangtua bisa mencidrai dirinya dan menyakiti hati ibu (orangtua) jika diucapkan dengan bahasa kasar, dan tidak ada sopan-santunnya (tanpa etika); dan bukan lagi hanya sekedar berkata “ah”. Kita berkeyakinan suatu ketika nanti, akan datang malapetaka dan laknat Allah yang menimpa pada diri kita dan keluarga yg berbuat durhaka. Ingat cerita nasib Malin Kundang anak durhaka, yang ada dari Ranah Minangkabau dll, ini sebagai pelajaran hidup (ik’tibar) bagi kita manusia sebagai makhluk yang berakal.
Dalam Al Quran surat Al Isra’ ayat 24, Allah berfirman..”Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua orangtuamu dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”.
Kita sebagai anak yg telah dilahirkan ke dunia dengan susah payah, disapih, dibesarkan dan dididik sampai berumahtangga serta kini alhamdulillah hidup sukses di lingkungan masyarakat, bangsa dan bernegara. Kita sampai menjadi ‘begini’ adalah berkat usaha dan doa ibu yang mulia pada setiap waktu.
Kata orang bijak, “…Kasih sayang ibu sepanjang jalan, sedangkan rasa sayang anak kepada ibu hanya sebatas mata memandang…”. Mudah2an dan insyaAllah ungkapan ini tidak terjadi pada diri kita sendiri dan keluarga kita di rumah. Oleh karena itu wajar kiranya bahkan kita wajib berbakti, menjaga hubungan yg baik dan harmonis dengan orangtua kita semasa mereka masih hidup, dengan curahan waktu yg cukup dan penuh rasa berkasih sayang. Dan jika mereka tidak ada lagi disamping hidup kita, telah berpulang kerahmatullah, maka kita wajib mendoakannya agar orang yang amat kita cintai itu, dianugerahi Allah SWT tempat yang sebaik-baiknya di sisiNya yaitu di Surgajannatunnaim, Amin3 YRA. Selanjutnya kita memohon kepada Tuhan agar orangtua kita dilapangkan dalam kuburannya di alam barzah, sambil menunggu hari berbangkit menghadap Sang Pemilik langit dan bumi beserta isinya, Allah SWT.
Omak (ibu) adalah sumber kebahagian hidup yang abadi (dunia dan akhirats), yg kita miliki. Hendaknya, janganlah disia2kan kesempatan berbakti.kepadanya. Mari kita jaga dan rawat mereka dengan penuh rasa kasih dan sayang di hari tuanya, jika ibu masih diberi umur yang panjang dan alhamdulillah ada di tengah2 kehidupan kita. Alangkah sangat beruntungnya, anak yang masih punya orangtua, terlebih ibu (Omak). Kehadiran ibu adalah anugerah illahi dan rezeki yang berkah dan tak ternilai harganya, yang diberikan oleh Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah SWT. Mhn diingat dan waspadalah kehadiran orangtua lansia serumah rumah dengan kita bisa menjadi Rahmat dan Karunia bagi anaknya soleh yg berbakti, dan bahkan sebaliknya bisa juga membawa murka dan laknat bagi anak yg durhaka, jika kehidupan anaknya menjauh dari orangtuanya, dan mereka tidak peduli dengan kebutuhan orangtuanya lahir-batin.
Bagi para Sahabatku yg masih ada orangtua, banyaklah bersyukur atas nikmat rezeki (karuniaNya) yang telah kita dapatkan dengan orangtua berupa kebahagiaan yang tiada taranya, tak ternilai harganya, dan sulit diungkapkan dengan kata2 tentang rasa kebahagiaan tsb. Hanya kita dengan Allah SWT yg tahu tentang isi hati kita bagaimana nikmatnya, saat-saat bertemu dan berinteraksi dengan orang terkasih, ibu kandung kita.
Pada kesempatan ini, mohon izin saya bernarasi sedikit tentang apa yang pernah saya rasakan berinteralsi dengan ibuku. Hal ini dapat dijadikan sebagai bukti dan fakta kebenaran seperti yg diungkap dalam kitab suci Al Quranulkarim sbg petunjuk bagi ummat manusia (hudalilinnas)
Saat ini alhamdullah wa syukurillah bahwa saya masih mempunyai ibu yg sehat dan cantik Omak Hj.Darana Djamin, yang lansia sangat tua berusia lk 105 thn, hidup sehat walaffiat dan kini tinggal di kampuang halaman Desa Kampung Baru Kecamatan Cerenti (Caghonti), janda ditinggal suaminya H.Arsyad bin Kahar, almarhum thn 1971 ketika itu saya masih duduk di SD kelas 2; omak anaknya 10 orang, 5 laki2 dan 5 perempuan, cukup berpengalaman hidup ‘single parent’. Hingga sekarang anak Omak tinggal 7 orang, 3-5 thn terakhir meninggal 3 orang krn sakit. Beberapa dasawarsa terakhir, Omakku sudah lama beristirahat (‘pensiun’),…doeloe di masa mudanya, masih sehat profesinya berjualan sayur-mayur, aneka bahan masakan dan hasil perkebunan lainnya di pasar Cerenti, sebagai “saudagar” usaha ultra mikro di kampuang. Omakku itu orangnya ulet berusaha, pekerja keras untuk bisa menghidupi beberapa orang anak-yatim yang masih dalam tanggungannya antara lain seperti saya, kakak dan adik2ku. Alhamdulillah, beberapa minggu yang lalu di masa pandemi Covid 19 sekarang ini, Omak masih kuat dan senang dibawa jalan2 ke kota Pekanbaru oleh adikku di kampung. Omak begitu menikmati, kata adikku Latifah, alhamdulillah beliau sehat. Sehari-hari Omakku rajin mengaji Al Quran, sholat tahajut dan beribadah fardhu dan sunnah lainnya, dan belakangan ini krn semakin azur sdh banyak lupanya. Subhanallah, pola makannya masih baik, ‘lahap’ dan lumayan banyak. Penglihatan dan pendengarannya relatif masih bagus, cuma daya ingatan yg agak jauh berubah tapi pikun tidak terlalu berat. Kami anak2nya masih bisa berkomunikasi dan bercanda ria dengan beliau Omakku. Ibu yg sdh sangat lansia, pola berperilaku kembali seperti anak-anak balita lucu dan “aneh’, seperti kebenaran yang terungkap dalam Al Quran surat An Nahl ayat 70, yang berbunyi:
“..Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan, diantara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua-renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa..” ( QS 16: 70).
Dengan kita memandang Omak yg pikun, maka timbul rasa kasih dan sayang, juga menghibur diri karena perilakunya tampak lucu, dan terkadang muncul rasa iba (kasihan) kalau beliau ibu (Omak)ku sakit. Sikap saya, apabila mendengar ibuku sakit di kampung, saya bergegas untuk bisa pulang menemuinya, dan mengabaikan dan menunda segala pekerja yg lain, kecuali ibu mengizinkan dan rela aku tidak pulang.
Subhanallah… pengalamanku, bagaimana nikmatnya bisa bertemu dan berbicara dengan ibu. Aku telah menemukan dan mendapatkan Rasa Kasih dan Sayang itu yang sebenarnya, subhanallah. Ketika hari Lebaran tiba, aku bersama keluarga bersimpuh dihadapan Omak Hj.Darana Djamin, yg kini memasuki umur lk 105 thn di kampuang, manusia tertua di Caghonti. Alhamdulillah, begitu berbahagianya hati ini, yang aku rasakan pada saat sungkeman di pangkuan Omakku, rasa haru pun menyelimuti perasaanku sekeluarga. Aku tidak henti2 bersyukur kepada Allah atas rahmat dan karuniaNya.
Alhamdulillah, Allah SWT masih memberi nikmatnya yg begitu banyak kepada kami sekeluarga, dengan masih hadirnya seorang ibu terkasih dalam keluarga besar kami. Walaupun ibu sudah sangat tua-renta, dan terkadang daya ingatan timbul-tengelam (pikun), kadang2 ingat anaknya dan kemudian bertanya lagi dengan ‘lucunya’ ini kamu siapa?.
Momen yang beginilah, yang mengundang rasa kebahagiaan kita sebagai anaknya. Kemudian yang paling dahsyat kesempatan emas menemukan resonansi kebahagiaan, pada waktu mencium tangan, wajah dan kaki ibuku. Seketika itu pula perasaanku ini begitu bahagianya, penuh haru, dan melapangkan dada, melegakan. Apalagi ibu sempat berucap dengan membaca doa2 untuk keselamatan anaknya dan seraya memaafkan kesalahan2 anaknya baik sadar (sengaja) maupun tidak. Demikian lega dan “plong” rongga hati ini, dengan disertai linangan dan deraian air mata yang mengalir dan membasahi di pipi, atas sikap pemaafan ibu. Saat bersimpuh dan mendekap ibu itulah kenikmatan yg luar biasa yang dianugerahi Allah SWT, yang Rahman dan Rahiem. Kita merasakan begitu dahyatnya energi positif sebagai fondasi utama untuk mendapatkan keselamatan hidup di dunia dan akhirats kelak, insyaAllah.
Nikmat Allah yang manakah, yang kamu dustakan ? Demikian bunyi sejumlah ayat-ayat dalam Al Quran surat Ar Rahman, yang patut terus kita renungkan, sehingga hidup kita senantiasa berada pada jalan yang lurus, sirotolmustaqiem (on the track), tidak sesat dan menyesatkan.
InsyaAllah kita selalu berharap dan bercita-cita semasa ada nyawa ini masih di kandung badan, agar diberikan kekuatan dan kesempatan untuk berbakti dan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua kita bagi yg masih ada (hidup). Kita berharap ketika menghadap Allah dimasukan dalam golongan orang2 yang soleh, sebagai calon penghuni surga, dimana terdapat sungai2 mengalir dibawahnya dengan bidadari2 yang cantik dan menawan, serta mereka hidup dengan penuh rasa- kasih sayang, dengan kebahagiaan nan abadi. Amin3 YRA.
Ibu (Omak) adalah pintu gerbang untuk bisa kita masuk ke surganya Allah SWT. Ingat janji dan firman Allah SWT tentang eksistensi ibu diciptakanNya di muka bumi sebagai bukti Rahman dan RahiemNya. Ibulah yang hanya satu2 makhluk yang memiliki Rahiem (tempat peranakan dan ruh ditiupkan), sedangkan Ayah kita ataupun makhluk lainnya tidak bisa, bahkan tidak akan pernah mampu. Begitulah mulianya ibu (omak) dalam perspektif Sunnatullah sebagaimana ayat2 Allah.
Omak kita yg sudah melahirkan kita ke dunia yang fana’ ini dengan selamat sentosa dan berkat doanya hidup kita berbahagia.
Dengan ungkapan ini, wajar kiranya ketika kita berbicara ibu, …Omak, Mondek, Ummi, Mama, Mami etc terbayang wajah seorang sosok yg anggun, mulia dan teramat kita cintai, dan hati ini pun bergetar (beresonansi) begitu dahsyatnya di qalbu kita yang paling dalam. Kita pun mulai belajar paham tentang suatu kebenaran apa itu makna dan pentingnya ” Bismilllahir-Rahmanir-Rahiem” (Rahman dan Rahiemnya Allah), Kasih sayangNya Allah tersebut, yang sering kita baca sewaktu dalam sholat kita yg khusuk, dan bacaan diawal kita bertadarus Al Quranul Kariem.
Sekian renungan pagi ini untuk sekedar bisa berbagi kebaikan antar sesama, niatku krn Allah. Mohon saya dimaafkan, sekiranya ada hal2 yang kurang berkenan di hatl para pembaca sekalian, sukron, barakalah. Semoga Allah SWT memberkahi kita.. Amin3 YRA..
Wabillahit taufiq walihayah Wr Wb.
======
Wass.
Dr.Ir.H.Apendi Arsyad MSi (Pendiri-Dosen Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis UNIDA Bogor, Konsultan dan Aktivis Ormas di Bogor)





