Pelestarian Gedung Sekolah Muallimin Muhammadiyah Cerenti

0
Apendi Arsyad, Pelestarian, Sekolah, Muallimin, Muhammadiyah, Cerenti
Foto: gedung "Rumah Rajo" dalam buku Autobiografi 70 Tahun Edward Arfa SH

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Terima kasih add Yulizar/Guru dan budayawan Cerenti atas postingan fhotonya. Wah.. alhamdulillah ternyata masih ada yang menyimpan foto gedung “tua” Muallimin, salah satu sekolah/sarana pendidikan yang sangat bersejarah (warisan sejarah/harritage) yang pernah dimiliki dan dibangun oleh para pemuka masyarakat dan tokoh Muhammadiyah Cerenti pada thn 1930-an.

Warisan budaya tersebut berupa Sekolah Muallimin Muhammadiyah Cerenti, kini gedungnya sudah hilang, yang dulunya berlokasi di Desa Koto Peraku Kecamatan Cerenti, Provinsi Riau. Sekarang lahan sekolah tersebut berganti menjadi Madrasyah Tsanawiyah Muhammadiyah Cerenti, dan sarana Perkantoran Perserikatan Pimpinan Cabang/Ranting Muhammadiyah Kecamatan Cerenti Kab.Kuantan Sungingi (Kuansing) Riau.

Fhoto gedung “harritage” ini seharusnya sudah ada dan disimpan di kantor Dinas arsip Pem Kab.Kuansing Riau, tidak lagi hanya dimiliki pribadi-2. Atau Pemkab Kuansing sydah waktunya berinisiatif segera membangun gedung “Mesium Budaya” di Kota Taluk Kuantan ibu kota Kab. Kuansing, dan segala produk-2 bidaya tradisional berupa budaya benda (fisik) dan non benda (pacu jalur, randai, pantun dll) dokumen (narasi budaya.dan gambar-2nya) tersimpan rapi di mesium budaya tersebut.

Keberadaan Mesium ini sangat penting bagi upaya pelestarian dan berfungsi merawat dan mengawal marwah sebuah negeri, dan sekaligus juga sebagai wahana edukasi bagi generasi muda kita Kuansing (kaum millenial). Generasi muda millenial Kuansing harus tahu dan paham mengenai warisan leluhurnya nenek moyangnya yg luar hebat-2 itu, sudah punya peradaban (civilitation) di zamannya, terbukti bukanlah makhluk primitif, bodoh dan terbelakang.

Dengan pemahaman pola budaya tradisional ini, rasa kebanggaan komunitas (sense of community) akan kebesaran budaya leluhur Rantau Kuansing sebagai jati diri dan identitas masyarakat berperadaban maju, tentu akan dimiliki oleh para anak cucu dan cicit kita di kemudian hari nanti sebagai generasi penerus.
Soekarno.pernah berujar jika ingin.menjadi bangsa yang besar, jangan melupakan sejarah, istilah populernya “Jasmerah”.

Adanya mesium budaya Kuansing, termasuk mesium perjuangan Kuansing di dalamnya, juga bisa sebagai arena dan destinasi wisata budaya yang biasanya dibutuhkan dan menjadi daya tarik para wisatawan yg berkunjung ke daerah Kuansing baik wisnu maupun wisman.

Apa yang saya kemukakan ini sebenarnya tidaklah merupakan sesuatu gagasan yang baru. Daerah atau negara-2 maju lainnya yg ada di Indonesia dan bahkan di dunia global sudah banyak yang berbuat seperti itu, mengembang wisata budaya lokal untuk meningkatkan industri wisatanya melalui strategi pembangunan sapras mesium-2 seperti halnya yang pernah saya lihat di kota Seoul Korea Selatan, Kota Kuala Lumpur Malaysia, Kota Bangkok Thailand dan beberapa negara maju lainnya.

Baca :  Renungan Pagi: Nikmatnya Kasih Sayang Ibu

Pada kesempatan ini, saya hanya mengingatkan saja semua kita para pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya kepada para elite politik (the ruling party) yang tengah berkuasa dan para elite birokrasi Pemerintahan Kuansing, beserta para tokoh masyarakat adat dan tokoh masyarakat Rantau Kuansing Riau.

Saya berpendapat bahwa sudah waktunya kita berpikir, punya mindset dan berbuat untuk pengembangan dan pelestarian budaya lokal Kuansing kita, sehingga produk-2 budaya tradisional yang ada sebanyak lebih 1800 itu (data Dinas Pariwisata Prov. Riau, 2020) tidak sampai lekang, punah, hilang ditelan bumi akibat kelengahan dan ketidakpedulian kita sebagai pemuka dan pemimpin negeri.

Sebenar kita ini memiliki daerah yang kaya dan beraneka ragam dengan warisan sejarah lokal (local wisdoms), tetapi belum didokumentasikan dan diarsipkan dengan baik, bahkan tidak dikelola secara kreatif dan inovatif. Seharusnya berbagai produk budaya tradisional (local wisdoms) tersebut kita tulis dalam bentuk buku-2 sejarah dan produk budaya, yang menjadi tugas seniman, budayawan dan ilmuan/pakar sosial-budaya.

Saya melihat karya-2 tulis mengenai pola budaya Kuansing sdh ada yg ditulis oleh sebagian para budayawan dan ilmuan kampus spt bpk UU Hamidy, Prof. Suwardi MS, H. Radja Roesli, Prof. Muchtar Lutfi, Prof. BM Diah, Buchari Jakum, Rustam Abrus dan banyak lagi yang lain. Tapi karya budaya dan sastra mereka tersebut masih terserak-serak dimana-mana. Dengan adanya gedung museum budaya Kuansing, semua karya tersebut bisa dikoleksi pada suatu tempat yg representatif, dan bisa diakses dan dinikmati publik.

Kuansing telah punya icon budaya yang cukup populer atraksinya seperti Pacu Jalur Kuansing, sangat bagus kita kemas dengan baik, profesioal dan kita promosikan ke masyarakat Indonesia dan dunia (global), sehingga Rantau Kuansing dikenal yang memiliki budaya maha karya, yang mengangkat harkat dan martabat (marwah) nagori.

Baca :  Kesan Terhadap Budayawan Besar MH Ainun Najib

Hayyolah kita mulai berbuat, bukan hanya sekedar moto atau slogan kosong “Basatu nagori Maju”, …Tigo tali Sapilin’. Ini sdh terbukti kita bisa berbuat yg produkstif, seperti yg telah dicontohkan para Sahabat kita yg tergabung IKKS Jakarta. Mereka telsh berhasil merenovasi dan menkonstruksi sarana Taman Jalur Kuansing (The Kuansing of Canoe Park) di anjungan Riau Taman Mini Indonesia (TMII) Jakarta. Ini patut kita beri appresiasi dan mencontohnya sebagai warga “diaspora” dan dunsanak IKKS dimana pun berada.

Ini salah satu bukti implementasi motto Kuansing “Basatu Nagori Maju dan Tali Tigo Sapilin” terbukti ampuh melahirkan sesuatu yg bermanfaat buat marwah nagori. Semoga kerja-2 kreatif dan inovatif tersebut dalam upaya pembinaan dan pemgembangan budaya tradisional daerah (local wisdoms) harapan kita terus bermunculan.

Termasuk dalam tahun 2021 ini menggelar “perhelatan budaya” Mega Event Pacu Jalur di Rantau Kuansing sebagai salah satu rangkaian event untuk membangkitkan industri wisata Kuansing sebagai mana ide-2nya, yg pernah saya tulis terdahulu dan viral di medsos. Smg bisa dijadikan inspirasi dan rujukan. Kita sudah saatnya keluar dari “zona nyaman”, dan bekerja “extraordinary”, jika aparat Birokrasi bekerja seperti biasa-2 saja (tanpa etos, tanpa etika, tanpa motivasi berprestasi etc) cukup minimalis saja.

Maaf janganlah berharap Kuansing bisa bangkit dari ketertinggalannya, apalagi perbuatan jahat korupsi masih tetap ada dan merajalela di Rantau Kuansing, belum juga bertaubat. Maka….Ala mak..hancurlah nagori, smg hal ini tidak lagi terjadi di bumi Lancang Kuning Riau, terutama Rantau Kuansing.

Mudah-2an pembangunan gedung Museum Budaya Kuansing sdh bisa diresmikan (launching) pelaksanaan pembangunan fisik tahun ini, harapannya. Hal ini tentunya sangat tergantung kemauan politik dari bpk Bupatinya insyaAllah.

Jika ada dana APBD Kuansing gedung “harritage” seperti gedung Sekolah Muallimin Muhammadiyah Cerenti yg sudah hilang ini, agar dibangun lagi, direplikasi/rekontruksi kembali gedungnya, agar warisan budaya yg bersejarah sebagai wadah pendidikan kader intelektual Kuansing tempo doeloe tetap lestari. Dengan langkah ini kita baru tahu dan mengenal bahwa masyarakat Cerenti sudah memiliki peradaban maju dan modern dalam bidang dakwah dan pendidikan Islam, sebelum Indonesia Merdeka.

Dan kita harus paham soal politik negara ini, bahwa kontribusi Muhammadiyah di wilayah Cerenti sudah berbuat dan berperan dalam memperjuangkan, mempertahan dan mengisi Kemerdekaan RI di Riau merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan sebagaimana ketokohan dan jasa kepahlawan bpk H.Radja Roesli yang saya narasikan autobiografinya di media sosial Amanahnews, dll.

Baca :  Bertadharus Al Quran sebagai Basic Human Needs

Nampaknya kita sepertinya harus buat sebuah Yayasan Pelestarian Warisan Budaya Cerenti dibawah koordinasi Pengurus Cabang Muhammadiyah Cerenti. Dengan gerakan sosial Yayasan, Kita bisa agak leluasa mengumpulkan dana sosial untuk.membiayai rekontruksi gedung Sekolah Muallimin Cerenti tersebut.

Saya minta bantuan add Yulizar untuk mereflikasi gedung Sekolah Muallimin Muhammadiyah Cerenti tersebut. Kita harus merapatkan barisan dan diawali dengan berkonsolidasi segera dgn Wakil Ketua DPRD Kuansing/ Dunsanak awak adinda Zulhendri tempo hari dia mengontak onga. Juga komunikasikan dengan senior kita pakcikgu bang Abbas Main, bang Syafrizal Syafii, Ir. Asriadi, Khairudin, Kmd Yean Asnudi, Asnaldi, bang Sabran, bahg Misran, adinda Latifah Arsyad dll.

Yuk kita buat Yayasan Pelestarian Budaya Cerenti, agar gagasan cerdas dan mulia ini bisa diwujudkan. Nanti kita buat berbagai program dan kegiatan-2 untuk mewariskan nilai-budaya lokal kepada generasi muda, selain program pelestarian gedung-2 bersejarah, termasuk kita harus menyelamatkan gedung istana rajo yang ada di desa Koto Cerenti.

Dokumen fhoto gedung “rumah rajo” tersebut ada di buku autobiografi 70 tahun onga Edward Arfa SH, yang tampaknya mulai hancur atau barangkali jangan-2 sudah hilang. Hayoo kita bertindak cepat untuk kegiatan pelestarian budaya Kuansing yang bernilai strategis dan mulia ini.

Saya tunggu informasi tindak lanjutnya dari add Yulizar.. onga siap membantu, tanah wakaf onga di Desa Kompe Berangin Kecamatan Cerenti bisa kita manfaatkan untuk pengembangan sarana pendidikan Muhammadiyah Cerenti.

Marilah kita bapak dan ibu Camat, dan Kades serta kawan-2 kita yg sadar dan peduli akan pelestarian budaya leluhur kita ajak untuk berperan-serta.

Demikian renungan pagi untuk kemajuan nagori. Syukron barakallah. Amin-3 YRA.
Wassalam.

Dr Ir H. Apendi Arsyad.MSi (Orang Cerenti mukim di Ciawi Kawasan Puncak Bogor, pendiri/Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, dan Aktivis Ormas-2 di Bogor dan Nasional).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here