Oleh: Dr Apendi Arsyad
Terima kasih onga Edward Arfa, SH (EA) atas cerita nostalgianya yang kian seru, menarik, asyik. Adinda AA (Apendi Arsyad) membaca dan menyimak isinya.
Sebagian dari cerita onga EA itu, adinda AA paham dan tahu sedikit riwayatnya, pernah menyaksikan dan masih ingat peristiwa dalam ingatan adinda AA seperti onga EA bertunangan dengan anak omak Minat, namo oo Sijan.? cerita agak sedih.. mereka “bertepuk sebelah tangan” ..nggak enak diulas disini. Uwo Sijan itu, kembang desa Cerenti ya memang gadis cantik-jelita dan lincah-ceria….ha ha.ha.
Oh ya waktu ayah kita pindah bekerja, bersawah di daerah Indragiri Hilir, Tembilahan, adinda dibawa omak, balita masih berumur 3-4 tahun, memori adinda AA ada sedikit ingat akan peristiwanya.
Adinda AA banyak diasuh udo Rohani di kota Tembilahan, abang ipar Slamet Sutikno bekerja kasar buruh angkut di pelabuhan, mereka menyewa rumah di dekat pelabuhan. Adinda AA banyak berada di rumah sewa udo Rohani. Sekali-kali omak bawa adinda AA tidur di peladangan/sawah ayah, ngak tahu nama desanya. Tapi adinda AA masih terbayang jika ke pondok/pangguan ayah naik perahu dayung menyelusuri muara sungai yang buayanya cukup banyak.
Adinda AA sering menangis dan balita “protes” jika di panggung yang becek yg berawa-rawa banyak kepiting jalan dan bersarang di bawa panggung. Adinda AA merasa geli dan jijik dan takut melihatnya, maksnya tidak betah tinggal di lokasi ayah menyawa. Tapi anehnya, kalau adinda AA diberi lawuk kepiting senang, adinda suka pahanya.
Oh ya, waktu onga EA ke Tembilahan menjumpai ayah, H. Arsyad Kahar, terus terang tidak ada dalam ingatan (memory) adinda AA. Barangkali onga EA waktu itu tidak bertemu/menimang adinda AA yang masih balita. Atau bertemu tapi belum kenal dan akhirnya lupa.
Bercerita kehidupan ayah H.Arsyad memang.benar cerita onga EA tersebut..Adinda AA tahu.dari omak Hj.Daranah setelah berusia baligh bahwa kehidupan keluarga waktu berladang di daerah Tembilahan, (daerah Kuala Enok.jika tak keliru), memang kondisi kehidupan ekonomi susah. Hal ini situasi akibat pengaruh pergolakan politik nasional tidak stabil, resesi ekonomi, ditambah lagi rongrongan G 30 S PKI thn 1965. Cerita ini saya dapat juga setelah mempelajari sejarah nasional Indonesia di sekolah.
Simpulannya, ayah memang pekerja keras, pandai bersawah-ladang, mencari ikan, disamping berdagang. Dalam bahasa ilmu usaha tani, ayah telah menerapkan diversifikasi usaha. Sumber penghasilan rumah tangganya (household income) dari berbagai sumber, tidak dari hasil memotong karet (manakiak ghotah) di hutan dan atau berdagang bareng/berjualan makanan di kios semata-mata. Akan tetapi waktu betul-2 digunakan sebaik mungkin, yang bermanfaat. Suatu waktu, ayah pernah mengingat saya kamu jangan tiru itu, “ughang banyak yang maota-otah” di kedai kopi itu.
Soal pemanfaatan waktu, misalnya saja jika ayah mandi siang atau sore hari ke tepian sungai Kuantan di belakang rumah omak, ayah juga membawa alat penangkap ikan jala (bahasa Cerentinya “Jalo”), sambil mandi, menjala ikan dan udang. Juga sambil membawa barang daganganya (hasil bumi) naik kapal motor “Blungkang” milik tauke Chino Cerenti (abang Songkuang dan Senci) dan ughang Melayu bpk Akub-Lina, pergi ke kota Rengat.
Ayah selama dalam perjalanan masih sempat membuat (menjirek) jaring dan atau jala di kapal motor Blungkang, dan memasang jaring atau menjala ikan di tempat berlabuhnya Blungkang, biasanya di Selunak dll. Setelah ikan dan atau udang yang didapat, tertangkap jaring/jala, kemudian ayah memasaknya, digoreng ikan dan udang di dapur Blungkang tersebut. Kemudian goreng belado (sambel cabe) masakan ikan dan udang disimpan di toples atau alat Sia untuk dibawa pulang ke rumahnya, disantap anggota keluarganya diantaranya adinda AA.
Begitulah watak ayah kita seorang pekerja keras (hard worker) dgn banyak jenis pekerjaan yang diperankannya, tidak ada waktu yg dibuang. Istilah orang Barat.. the time is money. Makanya adinda AA lihat ayah semasa hidupnya suka makan enak, ngajak makan siang tamu teman-dekatnya di rumah bakdah Jumat, plesiran dan pakaian yang dipakai bagus-2, berpenampilan tampan, bergaya “necis” (basege), karena uangnya ada dan terkadang banyak, diperoleh dari keuntungan dagangnya.
Soal menu makan, ayah kita berselera tinggi, sehingga omak Hj. Darana terpaksa belajar memasak ke maktuo Tilau, dan akhirnya pintar memasak, tidak hanya pintar memasak rendang Paku (sayur Pakis) saja, akan tetapi bisa memasak anek gulai dan sop daging kambing, sapi dan kerbau, memasak aneka ikan (gulai sempode, panggang paluit, ikan panggang, ikan goreng balado, pakasam, dsb).
Alhamdulillah, sebagian warga keturunannya (zuriatnya) meniru watak ayah kita seperti uwo Hj. Rusmani Arfa andak Hj. Nurmi Arsyad, mereka rajin berkebun, berdagang dengan aneka usaha hidup di desa. Sedangkan onga EA dan saya, adinda AA hidup di daerah perkotaan juga bekerja banyak jenis pekerjaan yang disentuh, selain berprofesi hakim dan dosen spt adinda AA, kita juga menyambi sebagai penjual jasa konsultan, usaha rumah kontrakan, dsb. Rezekinya banyak pintu, termasuk gemar menanam di sela-2 waktu di pekarangan dan di kebun. Mudah-2an watak pekerja keras dan diversifikasi usaha ditiru oleh anak-kemekan dan cucu/cicit kita.
Smg Allah SWT melindingi dan menolong hambNya yang ber-imtaq dan berbuat kebajikan. Ingat firman Allah soal waktu: Wa’lasri innalinsana lafilhusrin…illalazi naamanu waamiluus sholihati.watawashau bilhaq watashau bissobri. Ayah kita H. Arsyad bin Kahar nampaknya telah mengamalkan surat Al Asry tersebut selama hidupnya di dunia.
Penulis adalah Dosen, Konsultan, Aktivis Ormas, Pegiat dan Pemerhati Sosial





