Bahlil Lahadalia: Persulit Investor, DAU dan DAK Dipangkas

0
BKPM, Bahlil Lahadalia, DAK, DAU
Kepala BKPM RI, Bahlil Lahadalia

LEAD.co.id | Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (BKPM RI) mengingatkan, akan ada sanksi bagi pejabat daerah yang mempersulit investor untuk berinvestasi di Sulawesi Tengah. Hal itu disampaikan oleh Kepala BKPM RI Bahlil Lahadalia pada peresmian kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng dan Mall Pelayanan Publik (MPP), Rabu (15/7/2020).

“Ada sanksi yang akan diberikan, salah satunya memangkas dan menunda Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus,” tegasnya.

Pemberian sanksi itu berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) antara BKPM RI Kapolri dan Jaksa Agung di Istana Negara dihadapan Presiden RI, Joko Widodo pada Februari 2020 lalu. Dalam kesepakatan itu, menegaskan bagi pejabat daerah dan aparat penegak hukum yang menghambat akan diberikan saksi.

Bahlil menjelaskan, salah satu sanksi yang akan diberikan pemerintah pusat kepada pejabat daerah yang terindikasi menghambat atau mempersulit investor untuk berinvestasi adalah memangkas atau menunda DAU dan DAK yang akan digelontorkan oleh pemerintah pusat bagi daerahnya.

Baca :  PB HMI Bantah Melaporkan Bahlil ke KPK

“Saya sudah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Polri dan Kejaksaan Agung. Tujuan hanya satu supaya investasi ini tidak dihambat – hambat,” tegas Bahlil.

Menurut Bahlil, apapun dan bagaimana pun kondisinya, investasi harus tetap berjalan. Sebab, suatu daerah tidak akan maju karena pemerintah dan aparat tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Yang ditugaskan untuk mengawal dan mengurus investor, mengurus rakyat, biasanya terbalik. Cara berpikir seperti ini yang harus diubah. Polisi Pak Jaksa tolong bantu, jangan dipersulit,” jelasnya.

Mengenai kondisi investasi di Sulteng, Kepala DPMPTSP Sulteng, Christina Sandra tobondo menyampaikan realisasi investasi di wilayahnya meningkat tajam. Untuk realisasi investasi pada tahun 2018 sebanyak Rp21, 7 triliun menjadi Rp31,5 triliun di tahun 2019.

“Realisasi investasi Sulteng mengalami peningkatan 45,2 peren di tahun 2019. Angka tersebut melebihi target yang telah ditetapkan oleh BKPM RI yaitu Rp20,08 triliun,” jelasnya.

Baca :  Dampak Covid-19: Investor Cemas, Lira Turki Jatuh

Atas capaian realisasi investasi, Sulteng berada di peringkat pertama untuk kawasan regional timur Indonesia selama dua tahun berturut-turut. Di mana Sulteng membawahi Provinsi Papua pada 2018 dan Sulawesi Tenggara pada 2019.

Peringkat pertama juga masih diduduki Sulteng selama dua tahun berturut-turut untuk wilayah se-Sulawesi membawahi Provinsi Sulawesi Selatan pada 2018 dan Sulawesi Tenggara pada 2019.

Selain itu, berdasarkan data Realisasi Investasi Sulteng 2019 untuk lokasi proyek dengan nilai realisasi terbesar berada di lima kabupaten, diantaranya Kabupaten Morowali, Morowali Utara, Kabupaten Poso, Banggai dan Kota Palu.
“Kabupaten Morowali menjadi daerah yang paling besar realisasi investasi mencapai Rp25,8 Miliyar dari target Rp10,0 Milyar,” jelasnya.

Kemudian, capaian realisasi investasi Sulteng berdasarkan negasa asal Penanaman Modal Asing (PMA) sepanjang 2019, diantaranya Tiongkok sebesar Rp21,77 triliun atau 80 persen dari negara-negara lainnya yang berinvestasi.
Disusul Hongkong sebesar Rp2,42 triliun atau 9 persen, Singapura Rp2,12 triliun atau 8 persen, Taiwan Rp230,84 miliar atau 1 persen dan Korea Selatan sebesar Rp227,84 miliar atau 1 persen.

Baca :  Lompatan Daya Saing, Mudik, dan Hilirisasi

Menurutnya, capaian realisasi investasi dipengaruhi lima sektor usaha, yakni industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya dengan nilai realisasi mencapai Rp19,82 triliun atau menguasai 50 persen dari total investasi.
Selajutnya, disusul sektor kelistrikan, gas dan air dengan total investasi sebesar Rp6,33 triliun atau sebesar 20 persen. Kemudian, sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp1,04 triliun, dan industri kimia dan farmasi sebesar Rp1,03 triliun. Terakhir, sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp374,95 milyar.

Masing-masing capaian realisasi dari lima sektor usaha tersebut, terbagi berdasarkan realisasi investasi PMA dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Sumber: Rafik/Palu
Editor: Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here