LEAD.co.id | Pasca-KLB (Kejadian Luar Biasa), pemerintah juga masih melanjutkan program pemenuhan gizi dan pendampingan bagi keluarga yang anak-anaknya mengalami gizi buruk. Semenjak status KLB akibat gizi buruk dan campak di Asmat dicabut sejak 5 Februari 2018. Tercatat korban meninggal mencapai 72 anak-anak, yakni 66 karena campak, dan enam karena gizi buruk. Selama KLB, berbagai penanganan kesehatan dilakukan pemerintah Indonesia. Antara lain memberikan vaksinasi terhadap lebih dari 10.000 anak Asmat yang ada di 224 kampung di 23 distrik, dan perawatan para korban di RSUD Agats, Jumat (1/11/2019).
Menurut dr. Yeni Purnamasari, MKM sebagai General Manajer Kesehatan Dompet Dhuafa, mengatakan “Dompet Dhuafa berkontribusi dalam penanganan kasus gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, bahkan melakukan pendampingan selama 2018 hingga saat ini termasuk dengan Pos Sehat. Kegiatan yang dilakukan adalah layanan kesehatan dan pojok nutrisi keluarga, yang di dalamnya terdapat pelayanan holistik berupa kegiatan penanganan dan pencegahan gizi buruk dan campak. Selain itu Dompet Dhuafa fokus pada kegiatan non medis, penanganan media, dan kegiatan relief. Dalam kasus Asmat, program yang dijalankan oleh Dompet Dhuafa bersifat kontinyu dan berkelanjutan. Bukan hanya program temporer, tapi juga program yang dapat mengedukasi masyarakat setempat dan membangun kapasitas budaya lokal dengan membentuk Pos sehat yang terdiri dari kemitraan masyarakat untuk terlibat sebagai kader dan relawan sehat serta mitra lainnya seperti pemerintah daerah, puskesmas, dinas kesehatan, tokoh masyarakat dan lainnya”.
Kasus KLB Gizi Buruk di Asmat menjadi salah satu pembelajaran bahwa Indonesia masih mengalami beban ganda malnutrisi pada anak. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan 17,7 persen bayi usia di bawah 5 tahun (balita) masih mengalami masalah gizi. Angka tersebut terdiri atas balita yang mengalami gizi buruk sebesar 3,9 persen dan yang menderita gizi kurang sebesar 13,8 persen.
“Untuk memperoleh informasi pencapaian kinerja pembinaan gizi masyarakat secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan , perlu dilaksanakan kegiatan surveilans gizi di seluruh wilayah provinsi dan kabupaten/kota. Pelaksananan surveilans gizi akan memberikan indikasi perubahan pencapaian indikator kegiatan pembinaan gizi masyarakat. Selain itu, pelaksanaan surveilans gizi diperlukan untuk memperoleh tambahan informasi lain yang belum tersedia dari laporan rutin, seperti konsumsi garam beriodium, pendistribusian MP-ASI dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pemantauan status gizi anak dan ibu hamil risiko Kurang Energi Kronis (KEK) atau studi yang berkaitan dengan masalah gizi mikro, dll,” ucap Ivonne Kusumaningtyas selaku Direktorat Bina Gizi Masyarakat,Kementerian Kesehatan.
Adapun prevalensi balita yang mengalami stunting (tinggi badan di bawah standar menurut usia) sebesar 30,8 persen, turun dibanding hasil Riskesdas 2013 sebesar 37,2 persen. Meski tren stunting mengalami penurunan, hal ini masih berada di bawah target RPJMN 2019 yakni 28 persen dan rekomendasi WHO (World Health Organization), yang mensyaratkan prevalensi stunting kurang dari 20 persen. Artinya prevalensi stunting Indonesia masih tergolong kronis, dimana satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting.
Belajar dari kejadian luar biasa yang dialami di Kabupaten Asmat, bukan hanya di Indonesia bagian Timur ternyata masih banyak wilayah kota besar dan modern di Indonesia mengalami masalah gizi pada anak. Sebaran kasus gizi buruk dan stunting juga terjadi berbagai wilayah lain di Indonesia.
Stunting pada balita perlu menjadi perhatian yang khusus karena dapat menghambat perkembangan anak, gangguan perkembangan otak, intelegensia (IQ) rendah dan daya tahan tubuh menurun. Stunting juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas di kemudian hari. Yang perlu diingat adalah, efek stunting dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Anak perempuan yang terlahir kekurangan gizi dan menjadi kerdil saat masa kanak-kanak akan tumbuh menjadi ibu yang kekurangan gizi, yang pada gilirannya melahirkan bayi yang kekurangan gizi juga. Siklus ini akan berulang jika tak diputus dengan intervensi yang tepat.
Selain dampak kesehatan, stunting juga mempengaruhi kecerdasan anak, produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Diperkirakan stunting dapat menimbulkan kerugian ekonomi setiap tahunnya sebesar 2-3% dari GDP dan dapat mengurangi PDB suatu negara sebanyak 12 persen (the worldbank, 2016).
“Dompet Dhuafa bersama gerakan kesehatan bertumpu pada pilar pelayanan kesehatan yang berkualitas, pembelaan dalam bentuk pendampingan terhadap akses jaminan kesehatan nasional dan pemberdayaan kesehatan masyarakat dengan upaya aktivasi UKBM berbasis Pos Sehat, telah mengimplementasikan program JKIA (Jaring Kesehatan Ibu dan Anak) serta SNGI (Saving Next Genertaion Institute) berbasis pemberdayaan kader dan komunitas masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan kematian ibu dan anak, pendampingan tumbuh kembang bayi balita serta upaya lain dalam mendukung tercapainya goal SDGs no. 2 dan 3 terkait Nol kelaparan dan hidup sehat sejahtera”, tutup dr. Yeni Purnamasari, MKM.
Pada pelaksanaan programnya telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Puskesmas wilayah program dan seluruh stakeholder di wilayah tersebut, termasuk PKK, organisasi masyarakat, mitra perusahaan, NGO atau LSM, dan pemerintah daerah sampai Desa. Diperlukan upaya kolaborasi multistakeholder dan kesinambungan program untuk mendukung tercapainya program pemerintah dalam penguatan RPJMN 2020-2024.Pada acara Launching Buku dan Diskusi Publik Duka Asmat Belum Berlalu turut hadir Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SP. A (K), Ivonne Kusumaningtyas dan Bonefasius Manafin.
Menurut Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SP. A(K) mengatakan “Ada 5 upaya dalam membentuk anak Indonesia yang unggul yaitu: Memberi makanan yang seimbang dan cukup seperti ASI, MPASI, hingga sarapan pagi; cegah penderitaan mulai dari kebersihan makanan hingga imunisasi secara teratur; Stimulasi dan kasih sayang setiap hari; serta pantau pertumbuhan hingga perkembangannya”.
Permasalahan stunting, memiliki penyebab yang kompleks, sehingga upaya penurunannya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah namun memerlukan kolaborasi berbagai sektor termasuk lembaga swasta. Meskipun stunting ini sifatnya tidak bisa dibalikkan, namun dapat dicegah yakni dengan meningkatkan nutrisi bagi wanita dan anak-anak dalam 1000 HPK (hari pertama kehidupan) mulai dari kehamilan hingga anak usia dua tahun.
“Adanya Gizi kurang karena adanya kurangnya pemahaman akan Gizi. Pemahan dengan masyarakat harus butuh pendampingan baik dari puskesmas,Dompet Dhuafa ataupun pemerintah setempat untuk tindakan. Permasalahan bahasa yang mengakibatkan sosialisasi tentang gizi terkendala jadi para pihak yang ingin Mau terkontak langsung dengan masyarakat asli sana mengalami kendala. Sangat luar biasa peran Dompet Dhuafa ,masyarakat asmat sangat menerima bahwa kehadiran mereka untuk langsung terjun kelapangan. Relawan dari Dompet Dhuafa terdiri dari 10 orang terdir dari 2 dokter dengan tenaga gizi sama kader kader orang disana. Kader kader di sana sendiri dilatih oleh Dompet Dhuafa di adakan pelatihan ” ucap Bonefasius Manafin Perawat Puskesmas Ayam sekaligus Relawan Dompet Dhuafa. (Red)





