Dari Pertiwi hingga RWP: Revolusi Kesetaraan Perempuan di Pertamina

oleh -260 views

Jakarta – Di tengah transformasi industri energi yang menuntut kecepatan dan ketangguhan, Pertamina mengambil langkah maju dengan merancang sistem pemberdayaan perempuan secara sistemik dan terukur. Lewat empat pilar utama, perusahaan energi milik negara ini tidak sekadar berbicara soal kesetaraan gender, tetapi juga menjadikannya bagian tak terpisahkan dari daya saing korporat.

Empat pilar tersebut meliputi: pembentukan komunitas Perempuan Pertamina Tangguh Inspiratif Wibawa Independen (PERTIWI), implementasi kebijakan Respectful Workplace Policy (RWP), penyediaan fasilitas kerja ramah perempuan, dan pelaksanaan program afirmatif yang dimonitor langsung oleh pimpinan senior. Empat elemen ini saling menopang dan menjadi tonggak dari agenda inklusivitas di lingkungan Pertamina Group.

Komunitas PERTIWI yang dibina langsung oleh Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini, menjadi wadah perempuan di lingkungan perusahaan untuk saling berbagi, memperkuat kapasitas kepemimpinan, dan menginspirasi satu sama lain. Emma menyebut komunitas ini sebagai ruang bagi perempuan untuk tumbuh dan menunjukkan kontribusinya secara lebih leluasa di lingkungan kerja.

Baca :  PB HMI Tepis Tuduhan Fadli Zon Terkait Densus 88

“Komitmen kami bukan hanya simbolik. Kami ingin perempuan di Pertamina berkembang, tidak merasa sendiri, dan punya jejaring yang mendukung penuh perjalanannya,” ujar Emma dalam talkshow “Identitas dalam Sebuah Karya” di Jakarta, Jumat (1/8/2025).

Romadhon Jasn, Direktur Eksekutif Gagas Nusantara, mengapresiasi pendekatan ini sebagai model inspiratif BUMN yang serius membangun kesetaraan berbasis komunitas, terangnya, Sabtu (2/8)

Pilar kedua, Respectful Workplace Policy (RWP), diterapkan sejak 2021 untuk memastikan lingkungan kerja bebas dari diskriminasi, pelecehan, dan bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender. Kebijakan ini tak hanya berlaku di kantor pusat, tetapi juga di seluruh unit kerja Pertamina Group. Emma menekankan bahwa RWP bukan hanya regulasi, tapi juga refleksi dari nilai etis dan kultural perusahaan.

Tak berhenti di ranah kebijakan, Pertamina juga memperkuat dukungan fisik melalui penyediaan ruang laktasi, penataan area kerja yang lebih inklusif, serta pengaturan fleksibilitas kerja untuk perempuan yang menjalankan peran ganda sebagai ibu dan pekerja. Fasilitas ini dirancang agar perempuan dapat bekerja lebih aman dan produktif tanpa harus mengorbankan peran sosial lainnya.

Baca :  Antam Menang di Pengadilan, Tapi Sudahkah Luka Tata Kelolanya Benar-Benar Sembuh?

Langkah keempat adalah pelaksanaan program afirmatif berupa pelatihan kepemimpinan perempuan, mentoring, dan rotasi jabatan strategis. Seluruh kegiatan ini tidak sekadar seremoni, tetapi dilengkapi dengan action plan yang diawasi langsung oleh jajaran pimpinan. “Kami pastikan bahwa pelatihan dan promosi bukan karena kuota, tapi karena kompetensi yang dibangun dengan sistematis,” tambah Emma.

Menurut Romadhon, pelibatan pemimpin senior dalam pemantauan program afirmatif menjadi langkah strategis dalam memastikan keberlanjutan dan dampak nyata dari setiap kebijakan.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menegaskan bahwa keempat langkah ini adalah bagian dari strategi besar Pertamina dalam memperkuat ketahanan perusahaan melalui keberagaman. “Kami ingin setiap pekerja perempuan punya ruang yang sama untuk tumbuh, memimpin, dan berdampak. Kesetaraan adalah kunci produktivitas dan loyalitas,” ujar Fadjar.

Dukungan dari para pekerja perempuan Pertamina juga terasa kuat. Vina dan Dinda, dua anggota PERTIWI yang menjadi peserta talkshow, mengaku bangga dapat menyaksikan langsung Emma menjadi pemateri dan role model yang inspiratif. “Pertamina benar-benar memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang dan menunjukkan diri,” ujar Vina.

Baca :  Ketegasan Menteri Mukhtarudin: Empati Negara Hadir di Kamboja

Talkshow “Identitas dalam Sebuah Karya” menjadi bagian dari kolaborasi Pertamina dengan Tulola dalam pameran budaya dan kerajinan perempuan Indonesia. Upaya ini menunjukkan bahwa komitmen Pertamina terhadap pemberdayaan perempuan tidak hanya berlangsung di lingkungan kerja, tetapi juga menyentuh ranah sosial dan ekonomi kreatif.

Romadhon Jasn menyebut pendekatan lintas sektor ini sebagai upaya strategis Pertamina dalam menjembatani kesetaraan di ranah profesional dan kultural secara bersamaan.

Ke depan, langkah ini diharapkan menjadi contoh nyata bagi BUMN lain untuk mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan dan keberagaman dalam strategi bisnis. Dengan pendekatan sistemik dan humanistik, Pertamina sedang membuktikan bahwa revolusi kesetaraan perempuan bisa berjalan berdampingan dengan efisiensi dan kemajuan perusahaan.