Site icon LEAD.co.id

Dekadensi Moral dan Konsep Masyarakat Madani

Dekadensi Moral, Konsep, Madani

Teddy Khumaedi (Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan di Jawa Barat, dan Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Madani Indonesia)

Oleh : Teddy Khumaedi

Krisis kepemimpinan di beberapa belahan Negara bisa terjadi kapan saja, lemahnya regenerasi kepemimpinan suatu negara di tentukan pula dengan tata kelola kaderisasi ditingkat partai politik. Di indonesia khususnya dalam rentang waktu 10 tahun terakhir sempat mengalami krisis figur kepemimpinan nasional. Kenapa hal ini bisa terjadi? karena Negara luas dan besar seperti Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang berani mengambil resiko dan keputusan segera, pemimpin negara yang tidak bisa dikendalikan oleh keadaan. Dia mampu mengambil tindakan dan siap menanggung segala resiko demi kepentingan negara, salah satu ciri di negara demokrasi lebih cenderung membutuhkan pemimpin yang tegas dan kuat (fight and strong).

Seluruh umat Islam tentu meyakini bahwa sosok Nabi Muhammad Saw adalah sosok pribadi yang sempurna dan seorang leader atau pemimpin yang sukses dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari konsep pengembangan diri (self development), konsep bisnis dan kewirausahaan (entrepreneurship), serta pemimpin dalam peperangan (fighting leadership). Dalam kehidupan berumah tanggapun beliau juga merupakan suri tauladan rumah tangga  yang harmonis, dalam membangun masyarakat beliau juga menerapkan konsep tatanan masyarakat yang akur serta memberikan jaminan keamanan dan perlindungan warga negara, beliau menerapkan sistem politik yang bermartabat, sistem pendidikan yang bermoral dan beradab, sistem hukum yang berkeadilan, dan lain sebagainya.

Nabi Muhammad Saw adalah manusia pilihan yang luar biasa, namun beliau tetap sosok manusia biasa dengan seluruh sifat kemanusiaannya. Sebagai manusia biasa beliau dilahirkan dengan ayah dan ibu yang jelas, bermain, belajar, bekerja, menikah, dan memiliki keturunan. Beliau berjalan-jalan dipasar, membawa barang dagangannya, menyapu rumah, menjahit pakaiannya yang robek, memotong daging serta menyiapkan sayuran di dapur. Beliau juga merasakan apa yang pernah dirasakan oleh manusia pada umumnya, seperti rasa harap dan cemas, miskin dan kaya, lapang dan susah, menyendiri dan bermasyarakat. Akan tetapi kepemiminan beliau diakui keberhasilannya oleh lebih dari ¼ penduduk bumi sejak 14 abad yang lalu, dan konsep kepemimpinan beliau masih relevan diterapkan hingga saat ini.

 

Krisis Figur Pemimpin

Sungguh menarik memperhartikan beragamnya reaksi masyarakat saat menanggapi kritik terhadap pemerintahan Jokowi, kegagalan, dan kekurangan tegasnya sebagai kepala negara, sedangkan gejala yang sudah terlihat jelas saat ini adalah para pejabat pemerintah malah menjadikan kekuasaan jabatan (amanah) yang diberikan oleh rakyat kepada mereka, malah tidak dijadikan sebagai jalan bukan untuk melayani rakyat, melainkan melayani kepentingan sendiri dan kelompoknya, seolah-olah republik ini sudah menjadi milik pejabat, penguasa dan kroni-kroninya. 

Yang sangat memprihatinkan lagi adalah ketika wakil rakyat sudah tidak mengutamakan kepentingan rakyatnya dalam berpikir dan bertindak bahkan sampai berperilaku pun mereka sudah tidak sesuai harapan rakyat, mereka sudah tidak pernah peduli dengan segala keluh kesah rakyat yang telah memilihnya. Mereka lebih memilih untuk menikmati fasilitas yang mereka dapatkan tanpa berpikir sehat bahwa fasilitas yang diterimanya sebenarnya untuk kepentingan rakyatnya tapi malah dinikmati dirinya sendiri dan kelompoknya sebagai anggota dewan perwakilan rakyat.

Faktor utama terjadinya ketimpangan diatas adalah virus akut penyakit korupsi yang sudah mendarah daging, menjadi budaya mulai dari pejabat di pemerintahan pusat sampai aparat pejabat ditingkat daerah, mulai dari wakil rakyat di DPR, menteri, penegak hukum, sampai kepala daerah setingkat bupati ataupun walikota bahkan sampai pula ke level camat, dibeberapa daerah lebih tragisnya lagi sudah sampai ketingkat pengurus RT/RW begitu dahsyatnya virus korupsi menjalar kuat dan cepat kemana-mana khususnya bagi mereka yang memiliki kesempatan dan kekuatan menjadi aparat dan pejabat pemerintahan.

Saat ini begitu sulitnya mencari pemimpin yang benar-benar mau melayani rakyatnya, bisa dipercaya sepenuh hati oleh rakyatnya, tidak mudah tergoda bujuk rayuan virus korupsi yang bisa merugikan orang lain, sungguh ironis, padahal bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki dan menjunjung tinggi budi pekerti, nilai-nilai agama dan budaya ketimuran yang melekat kuat, akhlakul karimah senantiasa selalu menjadi patokan utama.

Tapi pada kenyataannya dalam kehidupan sosial beragama di masyarakat masih banyak muncul pelanggaran norma dan nilai agama, bahkan ajaran agama sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan, perilaku kotor masih dianggap hal yang biasa terjadi dilingkungan masyarakat seperti; berjudi, berzina, mengkonsumsi barang-barang terlarang yang jelas bisa merusak akal sehat dan masih banyak lagi perilaku-perilaku yang menyimpang dari etika dan moral yang telah diajarkan semua agama. Intinya hampir sulit sekali di zaman sekarang mencari pemimpin yang benar-benar bisa melayani, mengayomi dan melindungi rakyatnya sepenuh hati. Tidak mudah menyelewengkan kekuasaan, mampu menampung dan menyampaikan aspirasi rakyat dan mensejahterakannya, malah bukan sebaliknya membuat rakyat semakin menderita sengsara, melarat dan sekarat.

Memang dampak arus globalisasi telah banyak menimbulkan perubahan transformasi nilai dan norma dalam kehidupan masyarakat, moral dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara seringkali dikesampingkan yang akhirnya hilang ditelan arus revolusi teknologi insformasi, mungkin saat ini etika tata kerama sopan santun telah hilang dari kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini tidak akan lepas dari semua pelanggaran jika kesadaran moral dan etika lebih diutamakan dalam menjalankan kepercayaan keyakinan beragama, memahami lebih dalam apa arti daripada tujuan hidup kita sebenarnya di dunia ini. Gaya hidup dan kebutuhan hidup tidak selalu menjadi prioritas utama dalam realita kehidupan sehari-hari.

 

Membangun Karakter bangsa

Apa yang terjadi dengan kondisi sekarang bahwa negara ini memiliki kebebasan, tetapi bagaimana dengan normative dan pelaksanaan dari norma-norma tersebut. Apa yang telah terjadi dalam keseharian dilingkungan kehidupan kita perlu didalami bersama, jangan sampai yang muncul adalah proses kemunduran, baik kemunduran sebagai bangsa ataupun kemunduran sebagai pribadi generasi bangsa sejatinya. Beberapa ciri sudah cukup mengkhawatirkan seperti; politician yang power seeking, ataupun ciri birokrasi yang seat seeking, dan bukan tidak mungkin akan memberikan pengaruh pada perilaku masyarakat atau rakyat secara umum dan dapat berakibat buruk bagi karakter suatu bangsa. Kedepan bangsa ini tentunya masih berharap ada suatu kondisi yang mampu menjamin kelangsung eksistensi bangsa Indonesia dengan jati diri dan ciri khas karakternya sendiri. Disisi lain wakil rakyat mestinya menjadi corong bagi rakyat untuk mengingatkan penguasa agar siap mengemban amanah penderitaan rakyatnya.

Pejabat yang menjadi penguasa dititipi mandat oleh rakyatnya unuk berjuang sekuat tenaga bagi kesejahteraan rakyat, wajib hukumnya bersikap amanah, fatonah, tabligh dan siddiq. Jika menyimpang dari kebenaran, maka penguasa harus siap dikoreksi dan dikritik bahkan bila perlu dikenakan sanksi hukuman yang berlaku dinegara ini, wakil rakyat seyogyanya dimanapun berada akan selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat tidak mesti merasa berhutang kesejahteraan dan loyalitas kepada eksekutif, ini keliru besar andaikan ada wakil rakyat yang merasa berhutang kepada eksekutif. Karena mengemban sebagai wakil rakyat penuh resiko, tantangan dan rayuan untuk berlaku tidak amanah (khianat).

Memang sudah menjadi tantangan hampir diseluruh negara khususnya negara berkembang dan negara terbelakang, kemiskinan dan korupsi selalu menjadi momok yang menakutkan, sumber penyakit utama yang telah menjalar dan sangat sulit untuk berantas, karena korupsi dan kemiskinan memiliki hubungan timbal balik yang positif, korupsi mengakibatkan kemiskinan semakin merajalela dan kemiskinan menyuburkan perilaku tindakan dan watak korup. Hal inilah yang membuat sistem ekonomi yang ada sudah tidak mampu untuk mensejahterakan rakyat secara merata dan menyeluruh, karena perekonomian yang sesungguhnya terjadi hanya menumpuk pada bagian masyarakat tertentu saja. Sedangkan tujuan luhur demokrasi adalah terjadinya kompetisi yang terbuka dan adil untuk meraih posisi dalam pemerintahan dengan menampung aspirasi rakyat, dengan harapan tercipta partisipasi politik yang berkualitas dalam ajang setiap seleksi pemimpin politik dan pejabat publik untuk menentukan regulasi dan kebijakkan publik yang benar-benar pro rakyat agar bisa lebih dirasakan oleh publik dalam realisasinya (grow up the effect influence).

 

Konsep Masyarakat Madani

Masyarakat madani merupakan konsep yang memiliki banyak arti, sering juga diartikan dengan makna  yang berbeda-beda, bila merujuk kepada bahasa Inggris berasal dari kata Civil Society artinya masyarakat sipil, sebuah kontraposisi dari masyarakat militer. Namun yang lebih mendekati dengan arti diatas adalah bahwa konsep “Masyarakat Madani” merupakan penerjemahan daripada konsep Islam yang merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. Karena masyarakat Madinah dianggap sebagai legitimasi histori pembentukan civil society dalam masyarakat muslim modern.

Prinsip terciptanya masyarakat Madani bermula sejak Nabi Muhammad Saw hijrah dari kota Mekkah ke Yatsrib beserta para pengikutnya. Hal tersebut terlihat dari tujuan hijrah sebagai sebuah refleksi gerakan penyelamatan akidah dan sebuah sikap optimisme dalam mewujudkan cita-cita membentuk masyarakat yang beradab (Maddaniyyah).

Masyarakat kota Madinah di zaman Nabi Muhammad Saw adalah contoh (sample) paripurna masyarakat Madani yang pluralis, harmoni kehidupan benar-benar tercipta, mulai dari perbedaan tradisi antar suku yang berbeda agama maupun seagama. Kesiagaan untuk berinteraksi aktif – positif benar-benar terjamin dan tercipta saat itu, padahal sebelumnya masyarakat ini amat sangat sulit dipersatukan dalam satu kesepakatan dikarenakan perbedaan yang sudah mendarah daging, lebih lagi jika itu perbedaan terkait keyakinan.

Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? yakni keharmonisan bisa terbentuk dengan mudah?jawabannya, karena adanya satu komando yang dipatuhi dan diikuti yang menyeru kepada sikap menerima perbedaan pendapat sekaligus bagaimana cara menjalani hidup dalam perbedaan pandangan sampai perbedaan keyakinan dengan cara-cara sikap yang baik. Komando yang dimaksud adalah ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, Nabi yang diutus langsung Allah Swt untuk membawa dan menciptakan kasih sayang, bukan hanya kepada sebagian umat pengikutnya saja tapi kasih sayang terhadap sesama umat manusia lainnya sekalipun berbeda keyakinan, inilah yang biasa kita sebut rahmatan lil alamin.

 

Penulis adalah Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan di Jawa Barat, Ketua Bidang Sosial dan Budaya Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Barat

Exit mobile version