Islam Ditikam Umatpun Geram…?

143
0

Oleh : Teddy Khumaedi

Sejarah mencatat bahwa dahulu pernah ada seorang tokoh yang mempelajari Islam dengan begitu mendalam. Sayangnya, ia belajar bukan untuk kepentingan Islam dan umatnya, melainkan untuk mempertahankan eksistensi Belanda dengan hegemoni penjajahannya ditanah Nusantara. 

Dialah Snouck Hugronje, sarjana Belanda yang menulis tesis berjudul “Festival Mekah”. Karena dia mempunyai pemahaman Islam yang cukup mendalam, kemudian ia dilirik oleh Belanda yang masa itu sedang menjajah Indonesia. Hal tersebut dinilai akan sangat berguna dalam menjalankan misi Belanda menduduki Nusantara. Konsulat Belanda di Jeddah pun menawarinya belajar Islam langsung di Mekah. Pengetahuan Snouck yang cerdas tentang Islam semakin memuluskan langkahnya. Ketika berhasil menginjakan kaki di Masjidil Haram, ia mengabari teman dekatnya, Carl Bezold, membanggakan tentang betapa dirinya bersumpah syahadat tidak dipertanyakan sama sekali. Dalam misinya menyusup di Kota Mekah sebagai mualaf, diberikan gelar dengan berbagai sebutan seperti Mufti dan Sheikh al-Islam of Batavia. Untuk menjalan misi dan mengetahui seluk beluk nusantara, snouck belajar kepada Habib Abdoerahman Az-Zahir, ulama Mekah yang pernah ditemuinya disana, kemudian meminta untuk menjadi muridnya Habib Abdoerahman dengan tujuan ingin membantu rakyat nusantara melawan penjajahan Belanda. Penyamarannya sebagai agen Belanda bersamaan dengan kondisi apatisme politik di kalangan umat Islam pada waktu itu. Tak sedikit orang Islam yang menutup mata soal politik, umat islam hanya memusatkan diri pada ritual ibadah semata, dan hal seperti itu tidak dianggap sebagai ancaman bagi Belanda. Umat Islam menganggap Snouck yang sempat berganti nama menjadi Abdul Ghofur sebagai ulama terkemuka. Padahal fatwa-fatwa yang dikeluarkannya malah menjadikan umat Islam tetap jumud dengan kondisinya, sehingga tidak ada gairah perlawanan terhadap penjajahan, karena umat islam tidak mengerti makna Al-Qur’an dan isi khotbah snouck. Snouck Hugronje sudah lama belajar banyak tentang Islam, dia sadar bahwa sumber utama kebangkitan umat Islam adalah manakala mereka paham makna kitab suci yang dibacanya. Maka misi utama snouck pada saat itu adalah membodohi umat islam dengan fatwa-fatwa yang dia keluarkan dalam khotbahnya. Dengan seperti itu umat akan tetap pasrah dengan kondisinya yang terjajah. Semangat orientalisme semacam ini masih tetap ada saat ini. Miris lagi, betapa banyak orang yang belajar agama dengan beasiswa dari negara-negara barat. Pada akhirnya mereka kaji sejarah dan agama Islam demi mencari kelemahan dan kekacauan dalam agama islam. Kemudian membenarkan pendapat mereka sendiri melalui cara memaksakan pendapat mereka dengan dalih toleransi beragama ataupun Hak Asasi Manusia. 

Kondisi umat islam sekarang pun mengalami hal serupa seperti diatas khususnya umat islam di indonesia, selalu dicurigai, di intimidasi, dimata-matai bahkan sampai dilabeli Radikalisme, Terorisme, dan Ekstremisme, sungguh sedih sekaligus memilukan ada apa dengan umat ini yang notabene penduduk mayoritas Bangsa ini??memang 4 tahun terakhir umat islam di indonesia mulai bangkit dengan gerakan-gerakan kolektivitas mulai dari kebangkitan ekonomi umat, kebangkitan sosial dan ritualitas ibadah tetapi semua itu baru sebatas ditataran konsep semata realisasinya masih terbentur banyak kendala, faktor utama kendala tersebut masih kurangnya kesadaran umat islam itu sendiri dalam hal ukhuwah islamiyah khususnya dibidang ekonomi dan sosial responsbility sehingga umat islam baru sebatas jadi penonton saja dalam pertarungan perang dagang produk luar negeri, umat islam masih terlalu lemah, egoisme dan mudah di provokasi oleh pihak tertentu ataupun asing yang memiliki kepentingan di negara ini, tidak heran isu radikalisme dan terorisme menjadi menu utama media nasional setiap harinya disisi lain perekonomian negara terpuruk, kegaduhan politik terus berlangsung, bahkan sesama anak bangsa saling hujat dan menyalahkan hanya demi periuk nasi kelompoknya tidak terganggu, sungguh mengkhawatirkan..!! Disinilah tantangan besar umat islam indonesia untuk bangkit mampu bersaing dengan umat lainnya, harus mampu membuktikan bahwa umat islam indonesia adalah umat islam yang Moderat, Modern dan Berkemajuan dalam membangun peradaban umat seperti halnya yang sudah di contohkan oleh Nabi Muhammad Saw dengan konsep Masyarakat Madani pasca hijrah dan menetap di Kota Madinah Al Munawarah. Bagaimana umat islam berkembang pesat di kota Madinah dan menjadi contoh bagi umat lainnya dalam Toleransi sosial, Toleransi Budaya dan Hak asasi Manusia dengan saling menghormati umat beragama terhadap kepercayaannya masing-masing. Umat Nasrani dan Yahudi bebas melakukan ibadahnya tanpa ada gangguan sedikitpun dari umat islam yang menjadi Umat Mayoritas kota Madinah saat itu bahkan sampai sekarang, apabila ada oknum tertentu yang melakukan tindakan provokasi terhadap umat minoritas umat islam tidak mudah terpancing dan tersakiti, justru malah sebaliknya umat islam selalu menjadi penengah dan contoh bagi umat lainnya, lain hal dengan kondisi kita di indonesia saat ini, umat islam indonesia begitu mudahnya diadu domba, diframming habis-habisan, bahkan sampai ada oknum melakukan aksi anarkis yang merugikan banyak orang dan tidak mencerminkan ajaran islam, kenapa ini semua bisa terjadi? hanya karena ulah sekelompok orang yang tidak memahami ajaran islam seutuhnya, disisi lain juga ada penilaian dari umat bahwa pemerintahan Jokowi terlalu alergi terhadap segala bentuk kegiatan yang dilakukan umat islam, ini salah satu faktor dari sekian faktor lainnya yang membuat umat islam mudah geram terhadap pemerintahan saat ini, padahal mayoritas rakyat indonesia adalah Umat islam, salah apa umat ini?Islam ditikam, umatpun geram? WaAllahu’alam Bi Assawab.

 

Baca :  Sinergitas Perdagangan Arab, Indonesia dan Tionghoa

Penulis adalah Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan di Jawa Barat & Wakil ketua “KOMAS” Komunitas Masyarakat Santri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here