Globalisasi dan Disintegrasi Bangsa

0

Oleh : Teddy Khumaedi

 

Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, kita telah banyak menyaksikan kelahiran organisasi pergerakan, seperti; Budi Utomo, Serikat Islam, Muhammadiyah, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, Partai Nasionalis Indonesia, dan organisasi lainnya. Dari sana, kita semua bisa mencatat bahwasanya bangsa ini pernah banyak melahirkan tokoh-tokoh pemikir besar seperti; HOS Tjokroaminoto, Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, Tjipto Mangukusomo, Haji Agus Salim, BJ Habibie dan tokoh pemikir lainnya. 

Banyak pemikir politik yang muncul di Indonesia pada abad 20 itu, mengingatkan kita pada abad pertengahan dan renaissance di eropa, yang mana pada masa itu penuh dengan pergolakan pemikiran ahli-ahli pikir politik. Dan indah sekali zaman itu, meski kita tahu situasi seperti itu kemudian menghasilkan suasana perbedaan pendapat, ketidaksamaan jalan pemikiran, serta perbenturan ideologi, namun dari sini kita dapat banyak belajar momen-momen penting sebagai ilhistoire realite (sejarah sebagai peristiwa), yang sudah menjadi i’histoire recite (sejarah sebagai kisah), karena yang bangsa besar adalah bangsa yang senantiasa menghargai jasa pahlawannya dengan selalu mengingat sejarah.

Tidak lupa juga sejarah panjang bangsa Indonesia telah mencatat peristiwa-peristiwa dramatis dan heroik, yang menorehkan tinta emas, mulai dari peristiwa Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, Orde Baru 1966, dan Reformasi 1998. Semua babakan sejarah itu harus selalu dimaknai sebagai akumulasi perjuangan segenap anak bangsa yang dipelopori pemuda, dimana sarat dengan “Ruh” Nasionalisme perjuangan dan pergerakan optimisme kaum muda yang selalu menjadi pelopor secara progresif jejak-jejak penting sejarah panjang bangsa ini. Perjuangan bangsa seabad lampau merupakan mozaik Indonesia yang bisa diambil nilai dan tarikan energinya untuk era kekinian (generasi millennial) menjadi semangat dalam menggelorakan nilai-nilai pengabdian nasionalisme dan patriotisme bagi Indonesia raya di masa depan.  

Membicarakan keterpurukan Indonesia dalam kancah persaingan politik pentas global, selalu berkaitan dengan pembentukan karakter bangsa khususnya generasi muda (millennial gen). Karakter yang bertalian erat dengan peta sejarah dan kebudayaan selalu dianggap sebagai salah satu faktor kunci yang mampu menjadi kekuatan pendorong (driving force) perubahan sosial, namun demikian terlalu menganggap bahwa sejarah hanya sebagai literature masa lalu yang telah usang tentunya tidak terlalu bijak. Hal ini yang tidak kalah pentingnya adalah memandang penting pembentukan karakter bangsa dari sudut pandang kebudayaan dan sejarah, berkenaan dengan hal tersebut perlu dilakukan refleksi atas konsepsi pembentukan karakter yang sejatinya menempatkan generasi millennial (young man) sebagai tujuan dan fokus target pembangunan. Tapi sebaliknya apa yang terjadi dengan kondisi di Negara kita sekarang ialah bahwa kita memiliki kebebasan dan kebablasan diwilayah politik (political wil). Akan tetapi bagaimana dengan normative dan pelaksanaan dari norma-norma tersebut.

Apa yang sering terjadi dalam kehidupan keseharian disekitar kita, perlu kita dalami dan pelajari bersama, justru jangan sampai yang muncul malah sebaliknya proses kemunduran yang endingnya menjadi bagian dari keterpurukan bangsa ini dalam kancah persaingan, bahkan saat sekarang ini sudah banyak kita lihat indikasi-indikasi ataupun gejala-gejala kemunduran sebagai suatu bangsa yang besar. Salah satu contoh yang sudah cukup mengkhawatirkan Narkoba yang sudah dianggap bagian dari gaya hidup anak muda, free sex dan pergaulan bebas dikalangan mahasiswa, aksi geng motor dan tawuran dikalangan pelajar sekolah, terus dikalangan elit politik banyak sekali ciri politician yang power seeking ataupun ciri birokrasi yang rent seeking, dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan pengaruh dan perilaku yang buruk terhadap pembentukan karakter building secara umum dan dapat pula berakibat buruk pada cerminan generasi muda bangsa ini. 

Pengaruh Globalisasi dan Disintegrasi Nasional

Baca :  Menelisik Kembali Pancasila Sebagai Ideologi Negara

Kondisi aktual kini, memasuki era globalisasi millenial, pasar bebas, masyarakat ekonomi asean (MEA), bagi Negara ekonomi maju dengan daya saing kuat dan tinggi, kemandirian ekonomi yang relative tinggi berarti “peluang”, bagi Negara lemah akan tertinggal dan tertindas, daya saing lemah dan tingkat kemandiriannya relative rendah, globalisasi, pasar bebas menjadi sumber ancaman yang cukup menakutkan karena membawa potensi persaingan yang ketat dan timbulnya gesekan serta konflik yang cukup tinggi, disadari ataupun tidak dalam era globalisasi Negara-negara lemah (soft state) dipastikan akan menjadi mangsa empuk serbuan kekuatan Negara-negara kuat dan maju (strong state) berupa tikaman neoliberalisme dan kapitalisme yang tamak. Jika tidak memberdayakan dan segera membangunkan suatu kekuatan (empowering) segala potensi diri yang dimilikinya maka akan menjadi Negara pelayan (service state) selamanya bagi Negara kuat.

Liberalisme dan Kapitalisme telah muncul menjadi kekuatan yang menakutkan dengan cara menguasai dan mengeksploitasi banyak Negara-negara lemah dibelah dunia termasuk Indonesia, cengkremannya dibidang politik, ekonomi, sosial dan budaya mengakibatkan terjadinya pelemahan ekonomi Negara-negara yang menjadi korbannya, kondisi seperti ini pernah dirasakan oleh Negara kita. Negara yang menjadi korban, bagian daripada ketidakadilan sehingga menimbulkan respon berupa paham “radikalisme-terorisme” yang juga berkembang dalam jaringan global. Beberapa tahun belakangan ini banyak muncul juga ideologi yang bersifat imperial-global seperti agenda untuk mendirikan khilafah atau sebutan istilah lainnya “khilafahisme”, berbagai warna ideologis tersebut telah lama hadir di Indonesia dan sangat berpotensi menimbulkan konflik keagamaan khususnya, ataupun konflik sosial-budaya dengan latar belakang berbagai aspek, mulai konflik antar agama, antar etnik, ekonomi, separatisme, terorisme, kriminalisme, dan lain sebagainya. 

Gambaran diatas menunjukan bahwa sesungguhnya secara ilmiah kodrati Negara dan bangsa Indonesia mengandung potensi konflik dengan spektrum yang cukup luas, apalagi jika dihadapkan pada dinamika kondisi aktual yang pasti juga mengandung banyak kerawanan setelah tujuh puluh empat tahun merdeka, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya peta potensi konflik di Indonesia dari waktu ke waktu malah semakin bertambah besar layaknya bola salju. Secara aktual potensi konflik tersebut bisa muncul kapan saja dan secara tiba-tiba (spontanity early) dari berbagai perspektif bisa saja terjadi, mulai ideologi, politik, ekonomi bahkan yang relative sangat rawan lagi konflik melalui perspektif budaya.

Dari uraian diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa baik kondisi natural maupun aktual Negara dan bangsa Indonesia mengandung warisan potensi konflik vertikal ataupun horizontal yang sangat luas sehingga dapat dikatakan tidak ada satu aspek pun dari kehidupan bangsa dan Negara Indonesia yang tidak mengandung konflik. Bahkan sebenarnya kalau kita mau jujur dan disadari ataupun tidak pada saat ini Negara kita sedang terlibat dalam peperangan nonmiliter (proxywar) di segala bidang terkhusus perang ekonomi, dengan Negara-negara maju baik dikawasan Asia maupun benua lainnya, dengan cara menyerang Negara kita dengan menggunakan kekuatan “soft power” lewat perang ekonomi, perang imformasi, perang budaya, dan perang pembusukan dari (proxy war) menggunakan pihak ketiga. Oleh karena itu, mulai saat ini idealnya kita sebagai anak bangsa harus selalu meningkatkan kewaspadaan kita bahwa semua itu bertujuan untuk melemahkan sekaligus menghancurkan Negara dan bangsa kita mulai dari sisi disintegrasi bangsa.

Semoga para generasi millenial masa kini, bisa lebih peduli terhadap apa-apa yang sedang terjadi dengan kondisi bangsa ini, senantiasa tertanam dalam diri mereka jiwa-jiwa nasionalisme dan patriotisme layaknya seperti para pahlawan terdahulu yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya demi tegak berdirinya Negara dan bangsa Indonesia yang kita cintai ini.

 

Baca :  Corona Musuh Bersama

Penulis adalah Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan di Jawa Barat, Sekjen Pusat Kajian Social Riset and Politic Development MADANI INDONESIA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here