Revolusi Corona dan Runtuhnya Human Interaction

0
Dekadensi Moral, Konsep, Madani
Teddy Khumaedi (Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan di Jawa Barat, dan Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Madani Indonesia)

Oleh : Teddy Khumaedi

Situasi negara kita saat ini sedang mengalami kondisi tersulit dalam sejarah, akibat hantaman mewabahnya coronavirus disease (Covid 19) yang hampir menyebar rata ke seluruh provinsi di indonesia. Namun, sedari awal masyarakat menyayangkan sikap yang diambil oleh seorang Jokowi selaku kepala Negara di negeri ini. Dengan jelas bahwa sikap Presiden soal penanganan penyebaran virus corona. Pemerintah pusat menyatakan tidak akan mengambil opsi lockdown melainkan lebih memilih menerapkan social distancing sampai dengan rencana Darurat Sipil.

Sikap tegas Jokowi tersebut disampaikan oleh Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo. “Sekali lagi saya tegaskan, Pemerintah dalam hal ini adalah Presiden Jokowi yang juga telah memberikan instruksi kepada Kepala Gugus Tugas, tidak akan ada lockdown,” kata Doni lewat video yang beredar sejak Sabtu (21/3). Ketika penyampaian itu wajah Doni terlihat letih. Bisa dipahami dengan penyebaran virus yang sangat mengkhawatirkan. Seperti sudah diketahui banyak orang, bahwa Covid-19 tidak hanya akan mematikan orang. Efek domino virus ini adalah bisa meruntuhkan berbagai struktur sosial-politik-ekonomi. Bisa dibayangkan mana kala sistem pemerintah disuatu negara rontok bukan disebabkan karena terjadinya perang antar negara melainkan akibat dari mewabahnya suatu virus di negara tersebut, sungguh betapa lemahnya negara itu.

Bagian paling urgen dan utama dari tradisi struktur masyarakat modern (post modern society) adalah human interaction between others  (interaksi antarmanusia), inilah yang selama ini menjadi kekuatan manusia di zaman modern, teknologi hanyalah alat perantara manusia dalam memudahkan (simple interaction) antarsesama. Dan memasuki era mellinium seperti sekarang ini, mengapa jaringan internet menjadi sesuatu yang begitu berpengaruh dalam 15 tahun terakhir ini? Alasannya karena interaksi antarmanusia yang makin intensif, simple dan easy meeting tanpa batas ruang dan waktu. Interaksi tak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Apa akibatnya? Tentu akibatnya komplek dan dinamis, sejak 15 tahun yang lalu para pakar dunia marketing sudah menjadikan hal ini dalam setiap pembicaraannya bakal terjadi runtuhnya prinsip-prinsip dasar marketing dalam dunia bisnis yang mana sudah dipakai selama beberapa tahun terakhir. Ekonomi model baru banyak bermunculan. Tentu saja, pada saat yang sama sistem ekonomi model lama rontok berguguran tersapu tsunami digitalisasi dan modernisasi. Puluhan dan bahkan ratusan model bisnis yang rontok. Dan sebagian disebabkan manajemennya gagal total tidak mampu bertransformasi. Sebagian lagi karena habitat dan populasi untuk bisnis itu sudah tak lagi tersedia (punah). Pergerakan dan Perubahan cepat terjadi dimana-mana, suatu hal yang tak dibayangkan orang sebelumnya 15 tahun yang lalu kini terjadi dan telah mempora-porandakan segala sendi dan bangunan serta jaringan bisnis yang telah dibentuknya. Ini merupakan resiko besar yang memang harus siap ditanggung oleh berbagai pihak khususnya pemerintah pusat selaku penyelenggara pemerintahan dan pembuat kebijakkan publik (public regulation).

Baca :  Dampak Corona, Harga Bahan Pokok di Bogor Meroket

Pada saat ini masyarakat melihat bagaimana penanganan pemerintah pusat terkait wabah Coronavirus Disease (Covid 19) yang sangat lambat dan cenderung menganggap enteng, menjadikan terjadinya public distrust yang sangat luas dikalangan masyarakat. Bukan hanya dari kalangan domestic, tapi juga dari komunitas internasional. Bagaimana ada beberapa negara yang sudah mulai mengambil langkah preventif save the asset terkait perusahaan yang ada di indonesia. Nilai Tukar Rupiah terjun bebas. Bursa efek IHSG runtuh. Dana-dana investor luar negeri sudah mulai banyak terbang melayang menjauh. Masyarakat yang punya duit (konglomerat), banyak yang kabur ke Singapura dan negara-negara tetangga lainnya. Banyak juga yang memilih negara-negara eropa sebagian dikawasan balkan yang relatif aman, seperti Rusia dan German. Sebagian masyarakat sudah mengambil inisiatif mengurung diri di rumah (stay at home). Kegiatan ekonomi, di luar kebutuhan rumah tangga sudah banyak yang mentok, mandek dan berhenti total. Tinggal para pekerja harian yang terpaksa nekad, masih memberanikan diri keluyuran dimana-mana demi bertahan mendapatkan penghasilan dan pemasukan, demi bertahan hidup walaupun harus mempertaruhkan nyawa terpapar Covid 19. Jangan bingung, apalagi sampai kaget kalau kita masih melihat banyak yang berdesak-desakan di kereta komuter, berkerumun dipasar tradisional, dikendaraan umum, bahkan sampai diwarung-warung kopi pun masih banyak orang-orang berkumpul. Mereka tidak makan bila tidak bekerja. Keluarga mati kelaparan. Andai saja, pemerintah Jokowi berani menjamin kehidupan mereka yang mengisolasi di rumah atau dimanapun tempatnya.  Mereka akan dengan senang hati berdiam diri di rumah, bercengkerama dengan keluarga, mengikuti segala instruksi dan himbauan dari presiden atau kepala daerah tanpa memikirkan hari ini akan makan apa?.

Baca :  Cuci Tangan Efektif Bunuh Virus Corona

Saat ini Rakyat indonesia benar-benar membutuhkan hadirnya sosok seorang pemimpin yang mampu menenangkan Gejolak Jiwa dan Bathin Rakyat indonesia, sekaligus memotivasi seluruh penduduk Negeri ini untuk optimis menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya melalui ujian dan tantangan melewati wabah Corona di Negeri yang kita cintai ini. Rakyat butuh pemimpin yang Jujur, Rakyat butuh Pemimpin yang Tegas, Rakyat butuh Pemimpin yang Peduli Kepentingan Rakyatnya, Rakyat butuh pemimpin yang bisa Menenangkan dan Menghilangkan Rasa Takut yang kian hari kian menjelma menjadi monster Covid 19, Tapi Rakyat tidak butuh Janji-janji dan Buaian Mimpi-mimpi Ilusi wahai sang Presiden.

Baca :  Pelemahan Pancasila di saat Pandemi

Penulis adalah Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan di Jawa Barat, Sekjen Pusat Kajian Social Riset and Politic Development “Madani Indonesia”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here