Dengan Kolaborasi Penta Helix Kita Membangun Nagori Kuansing Riau

oleh -363 views
Apendi Arsyad, ICMI, Koperasi, Koperasi ICMI

Oleh: Apendi Arsyad

Menarik untuk disimak gambar-gambar postingan acara drama seni teater siswa-siswi SMAN Cerenti dalam acara perpisahannya, juga video lagu-lagu pop daerah yang dishare di media Youtube, yang telah dimuat di WAG FIKCI, sekitar setahun yang lalu, tepatnya Rabu tanggal 14 September 2022.

Saya sendiri terhibur, tergelitik untuk berpikir dan menulis untuk mengingatkan berbagai pihak agar sadar dan peduli, bahwa sebenarnya generasi muda Kuansing, anak-anak negeri Rantau Kuansing, terutama yang terlihat di daerah Cerenti, memiliki kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang cukup baik.

Mereka mempunyai berbagai minat dan bakat (punya genetik seniman-budayawan) yang luar biasa hebatnya untuk bisa kita bina dan kembangkan diri mereka baik secara individual maupun kolektif.

Harapan kita, suatu ketika nanti Rantau Kuansing bisa menjadi sumber persediaan (stock) SDM yang terdidik dan terlatih untuk membangun sentra-sentra industri kreatif di negeri ini, terutama yang kini ada di Kecamatan Cerenti Kuansing Riau, yang dibina abangku Syafrizal Syaf dan adindaku Yulizar. Mereka giat membina kaum muda di sanggar dan galeri Seni-Budaya yg mereka miliki.

Dengan berkembang SDM seniman-budayawan terampil ini, maka industri jasa- kreatif pun bisa tumbuh-berkembang, yang merupakan salah satu upaya dan instrumen untuk mempromosikan program pariwisata negeri Kuansing.

Industri wisata alam dan budaya daerah teruslah didorong agar lebih berkembang-maju guna menghela dan memacu perkembangan bidang/ sektor-sektor/ subsektor pembangunan ekonomi daerah lainnya dalam upaya penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan keluarga dan pendapatan asli daerah sendiri (PADS).

Jika tidak keliru, saya sudah pernah menulis, ada beberapa ide-ide lepas dan pemikiran awal untuk pilihan strategi dan pendekatan pengembangan kebudayaan dan perekonomian Kabupaten Kuantan-Singingi (Kuansing) ke depan.

Ada diantara tulisan-tulisan tersebut disampaikan sebagai narasumber di webinar IKKS se-Indonesia 2-3 tahun yang berlalu, yang diikuti puluhan peserta diantaranya Drs. H. Yose Rizal, MSi (Kadisparbud Provinsi Riau), bang Dr Indra (Kadisparbud Kuansing) dan sejumlah tokoh budayawan, tokoh masyarakat (tokmas) dan pemerhati pembangunan lainnya, para perantau (“diaspora”) asal Kuansing Provinsi Riau se-Indonesia, bahkan ada yang sedang studi di luar negeri.

Ada beberapa artikel (tulisan) saya tentang pemikiran strategis dan bagaimana langkah-langkah mengembangkan kebudayaan dan perekonomian Kuansing yang berkemajuan dan berkeadaban untuk 5 atau 10 tahun ke depan.

Baca :  Cegah Corona, Dompet Dhuafa Riau Dirikan Stasiun Cuci Tangan di Fasilitas Umum

Hal-hal yang menjadi fokus perhatian misalnya, seperti pembaharuan tata kelola dan peningkatan kapasitas/ kompetesi mega event Pacu jalur (pacu Kuyuang); memajukan dan mempromosikan kesenian lokal- tradisional seperti randai, pencak silat Pangean, zikir badontuang/ tawak-tawak-calempong; pengembangan bisnis masakan asli Caghonti yang khas dan lezat (bisnis kuliner); upaya pelestarian bangunan rumah “ino-datuak” kita tempo doeloe, yakni rumah-rumah kuno sebagai warisan para leluhur; membangun museum jalur sebagai pusat pendidikan budaya/ humaniora; penataan ibu kota Taluk Kuantan yang berbudaya dan berwajah menarik wisatawan (baik domestik dan mancanegara); pengembangan lembaga masyarakat Adat Melayu agar berperan membina masyarakatnya; pembinaan seni-budaya generasi muda Kuansing, dsb dsb, yang telah dimuat sebagian besar di media sosial seperti WAG IKKS se Indonesia, Sompec, AmanahNews, Lead.co.id, dll.

Adanya sejumlah gagasan tersebut seharusnya sudah menjadi perhatian (concent) dari para tokoh masyarakat (tokmas) dan para pemimpin daerah/ nagori Kuansing agar lebih responsif dan proaktif dengan ide-ide segar, kreatif dan inovatif tersebut. Sebab dinamika dan perubahan sosial akan terus bergerak maju sesuai tuntutan dan arah kebutuhan dan aspirasi warga masyarakat, yang demokratis, bercita-cita hidup lebih baik dan sejahtera (well-being) baik di sisi material maupun kebutuhan spritual.

Pembangunan Daerah tidak akan berjalan baik tanpa ada konsep four C yakni (1) Concent, (2) Concept, (3) Commitment and (4) Colaboration, yang harus dipahami secara holistik dan sistemik.

Untuk memajukan nagori Rantau Kuansing, kita tidak atau jangan lagi bekerja sendiri-sendiri, agosektoral, dan sdh waktunya kita bekerja bersama-sama (callaboration), menggunakan kebijakan publik dari hasil kajian yang tepat, pilihan strategi dan pendekatan pembangunan yang baik, yang sdh kita kenal yakni kalaborasi “Penta Helix” (PH).

Saya berharap jika ada masukan gagasan-gagasan pembaharuan, kreatif-inovatif dan kritikan merespon kondisi eksisting saat ini dari para Tokmas dan pejabat negeri janganlah kita sinis dan alergi membaca dan mensikapinya. Apabila kita bersikap “sinis dan alergi” itu perbuatan tidak terpuji, sehingga akan merugikan kita semua para pemangku kepentingan (stakeholders), rakyat tidak akan dapat apa-apa, selain musibah tiba, dan kesengsaraan pun menimpa.

Pendekatan dan strategi PH adalah cara kerja dalam membuat planning program/ kegiatan pembangunan dan melaksanakannya (actuating), serta mengawasi (controlling) pelaksanaan pembangunannya dalam beberapa aspek haruslah melibatkan beberapa pihak pemangku kepentingan (stakeholders).

Baca :  SD and SDGs dalam P3PD: Sebuah Usulan

Misalnya diantara aspek dan program itu seperti pembinaan seni budaya lokal ini, seharusnya Pemkab Kuansing sebagai regulator dan eksekutor melibatkan beberapa stake holders seniman dan budayawan setempat untuk bekerjasama dan bersinergi, minimal ada 4 pihak yang terlibat (harap dibaca tulisan saya berjudul “Pembinaan Seni-Budaya Generasi Muda Kuansing”) di media Lead.co.id, dipublish beberapa waktu lalu.

Empat pihak tersebut yakni birokrat Pemerintahan-Kabupaten (Pemkab)/Dinas terkait dengan tupoksi pembangunan budaya, para akademisi dari perguruan tinggi yg ahli dan berdedikasi, tokoh masyarakat (tokmas) yang paham akan kebutuhannya yang berpengalaman, serta pihak mass media yang bisa mempromosikan dan mengontrol sejauh mana pemanfaatannya bagi kepentingan rakyat dan masyarakat luas.

Agar negeri kita berkemajuan dan berkeradaban, sudah saatnya cara kerja birokrasi Pemkab Kuansing dalam melakukan aktivitas-aktivitas pembangunan, keproyekan dgn pendekatan dan strategi “Penta Helix” secara terintegrasi, dan tidak lagi parsial, kerja sendiri-sendiri, agosektoral yang ditonjolkan.

Dengan demikian ke depan tidak akan ada lagi proyek-proyek pembangunan terutama yang bersifat fisik seperti pasar moderen, bangunan hotel dan penyediaan meubeulernya sebagaimana terekspose beritanya ke media; kemudian kampus Universitas/PT “Kuantan-Singingi” yang belum berfungsi, bangunan mangkrak (terbengkalai), sehingga mubasir dan menghambur-hamburkan uang rakyat, APBD dan APBN seperti yang terjadi selama ini di Rantau Kuantan.

Mangkraknya proyek proyek ini selain disebabkan oleh planningnya yang buruk (tidak layak), pengawasan masyarakat yang lemah, juga disebabkan faktor korupsi para oknum pejabat daerah yang tak bermoral dan serakah.

Dana proyek fisik selalu dijadikan bancakan untuk memperkaya diri (oknum penguasa dan pengusaha) dengan mengurangi bestek dari desain/ material bangunan yang sudah direncanakan, dan RABnya pun dikuntil, diselewengkan oleh para oknum elite penguasa, pengatur dan pengelola anggaran (APBD dan APBN), begitulah fenomena yang terjadi akibat lemahnya bahkan nihilnya kontrol masyarakat sebab tidak dilibatkan dalam proses pembangunan daerah. Para pemimpin daerahnya dalam mengambil keputusan lebih cenderung dari atas (top down) ketimbang pendekatan dari bawah (buttom up).

Kita sangat berharap sekali agar ke depan masalah dan penyakit sosial korupsi para elite politik, birokrat dan Pemkab Kuansing (Bupati dan Wabup serta para legislator DPRD) tidak terulang kembali, solusinya pendekatan pembangunan daerah “Penta Helix” adalah strategi pembangunan daerah Kuansing yang terbaik, melibat 4 pemangku utama (main stakeholders) dalam proses dan implementasi program pembangunan yang terukur, terarah dan akuntabel.

Baca :  RUU HIP: Memperlemah atau Memperkuat NKRI ?

Jika perbuatan jahat KKN, yang dilakukan para elite penguasa Kuansing masih tetap berlanjut (belum bertaubat juga), tidak kita cegah dan kita biarkan secara permisif, maka sulit rasanya kita bisa meraih kemajuan nagori yang adil dan beradab, sebagaimana dicita-citakan menurut Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4.

Kemudian rakyat, kerabat perta para Dunsanak kita pun di kampuang hidupnya akan semakin sulit, susah dan sengsara, tertular penyakit sosial 3-S. Bahasa orang Melayu Riau, “kehidupan ini, bukannya senang, melainkan dirasakan semakin teruk saja”, teruk itu maknanya antara lain “terpuruk”.

Padahal sepasang Pemimpin Daerah (Bupati dan Wabub serta para anggota DPRD) tersebut yang telah dipilih secara demokratis dgn susah payah melalui proses Pileg (DPRD) dan Pilkadal (Bupati-Wabub), yang telah menguras dana, berbiaya sangat besar, tenaga dan pikiran serta perasaan utk melahir pemimpin yang amanah (jujur), cerdas (siddiq) dan profesional (fathanah dan tabliq), agar bisa mensejahterakan rakyatnya.

Akan tetapi sayang akhirnya berujung sia-sia, dengan kata lain, berakhir yang buruk (su’ul khotimah). Berbagai azab dari Allah pun datang, baik di kehidupan di dunia sebelum mati, apalagi di akhirat di hadapan pengadilan (mizan) Allah SWT. Na’uzubillahi minzaliq.

Semoga para elite politik dan birokrasi Pemerintahan, janganlah sampai di akhirnya masa jabatan menjadi “santri” predeo di Lembaga Pemasyarakatan, mendekam di penjara (lapaz) atau menjadi sorotan media pers, medsos dengan berita buruk (bad news) tentang korupsi yang barang-tentu sangat memalukan dan menurunkan harkat martabat kemanusiaan dari mantan pejabat/ keluarganya tersebut. Nauzubillahiminzaliq.

Demikian renungan pagi ini, semoga menjadi perhatian pihak-pihak yang terkait, teristimewa bagi para pemegang amanat sebagai pemimpin nagori, beserta tokoh masyarakat di Rantau Kuansing, Provinsi Riau.

Ingat Moto Kuansing
Basatu nagori maju….tigo tali sapilin
Salam kayuah kuyuang..
Go a head !

Penulis adalah Dosen-Pendiri Universitas Djuanda Bogor Konsultan, Pegiat dan Pemerhati Sosial, orang asli- lahir di Cerenti, kini bermukim di Ciawi Bogor