Direktur Gagas Nusantara Minta BNPT Libatkan OKP dalam Penangkalan Radikalisme

oleh -946 views
FOTO. Gerbang Masuk Gedung Badan Nasional Penanggung Terorisme (BNPT)

JAKARTA (LEAD.co.id) – Radikalisme dan terorisme ibarat pohon pisang, jika ditebang satu tumbuh lagi. Realitas ini setidaknya dapat dilihat ketika Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri menangkap sembilan terduga teroris di Sumatera Utara.

Pasalnya, belum sampai sepekan Densus 88 menangkap oknum di salah satu petinggi di institusi Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang diduga kuat terlibat dalam tindak pidana kejahatan terorisme.

Ironis, karena berbagai upaya pencegahan dan penanggulang terorisme faktanya tak dapat mengakhiri aksi-aksi kemunculan paham radikalisme dan terorisme. Aparat penegak hukum dan Badan Nasional Penanggung Terorisme (BNPT) telah melakukan operasi pencegahan dan penindakan untuk menghentikan pergerakan dalam rangka mengakhiri radikalisme dan terorisme.

Penegakan hukum serta pendekatan lunak atau soft approach berupa pencegahan dengan pendekatan kontraradikalisasi dan deradikalisasi telah dilakukan. Namun, implikasinya rupanya tak signifikan sehingga diperlukan cara atau metode lain yang jauh lebih efektif.

Direktur Gagas Nusantara, M. Thoha Nashira meminta kepada pihak BNPT untuk melibatkan organisasi kepemudaan (OKP) seperti HMI, PMII, GMNI, Gagas Nusantara dan beberapa organisasi kepemudaan lain yang sebetulnya memiliki cara pandang dan pemahaman yang sama tentang radikalisme dan terorisme sebagai musuh bersama.

Menurutnya, meski telah dikerahkan pelbagai upaya pencegahan dan penanggulangan tindak pidana kejahatan terorisme dan radikalisme tetapi rasanya efektifitasnya tak terlampau signifikan.

“Saya tidak ingin mengatakan pemberantasan terorisme gagal, tetapi kita perlu memperkuat upaya pencegahan sebab ini yang paling penting walaupun udah dilakukan tapi tidak siginifikan, disinilah pentingnya melibatkan OKP disitu ada anak-anak muda moderat lainnya coba ajak mereka, itu kan ribuan jumlah anggotanya fungsikan,” katanya kepada media di Jakarta, Senin (20/12/21).

Selain itu, kata Thoha, dengan melibatkan dan memanfaatkan OKP dengan jumlah ribuan anggota yang tersebar di kampus-kampus di seluruh Indonesia, maka sosialisasi penguatan ideologi Pancasila dipastikan akan sangat efektif dan signifikan hasilnya. Sebab dengan sosialisasi yang masif, nilai-nilai pancasilan lebih mudah menyentuh kalbu para generasi muda millenial yang paling rentan dan potensial terpapar radikalisme dan terorisme.

“OKP ini ribuan anggotanya bahkan jutaan, kalo SDM itu dimanfaatkan betul ajak sinergi untuk memperkuat Pancasila biarkan mereka sosialiasi di kampus-kampus itu pasti efektif dan hasilnya maksimal,” urainya.

Karena itu, pencegahan dan penanggulangan terhadap munculnya bibit-bibit radikalisme dan terorisme sebetulnya harus dimulai dari kampus-kampung yang menjadi basis anak-anak muda sebagai target dan sasaran penyebaran ideologi transnasional radikal-teroris. Pencegahan tersebut salah satunya dengan memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai pancasila yaitu hidup rukun, damai, harmonis, dan toleran.

“Pencegahan bisa saja dimulai dari kampus sebagai basis anak-anak muda yang rentan terpapar, mereka ini kerap jadi target kelompok radikal-teroris karena mudah sekali didoktrin atau diajak jihad, karena itu penguatan pemahaman mereka tentang nilai-nilai pancasila penting supaya ngak mudah ikut ideologi transnasional takfiri itu,” tuturnya.

Dengan begitu kata Thoha, kelibatan OKP bukan saja keniscayaan tetapi ‘wajib’ sebab dengan jaringan kepemudaan antara organisasi, mereka bisa menjadi volunter untuk mengedukasi dan mengadvokasi. Tentu selain memelopori kegiatan sosialisasi penguatan ideologi Pancasila kepada seluruh kampus-kampus di Indonesia.

“Pelibatan generasi muda millenial di OKP itu bukan hanya keniscayaan tapi wajib diajak sinergi dan kolaborasi mencegah dan melawan ancaman radikalisme dan terorisme,” pungkasnya.

Kontributor : Permana
Editor : Aru Prayogi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *