Filosofi Pendidikan Indonesia : Antara Kesejahteraan dan Kualitas Pendidikan

152
0

Oleh : Rendy Dwi Maulana

Saya ingin mengistilahkan tulisan ini sebagai keluh kesan, alasannya ketika mencoba memikirkan problematika yang ada, saya tidak dapat melepaskan emosi seseorang yang mengeluh dalam tulisan ini. Maka jangan heran jika saya melibatkan antara logika dan perasaan. Dan satu hal lagi, tulisan ini mengambil sudut pandang guru honorer, yang menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Efendi, jumlah guru bukan PNS ialah 1,5 juta, dan guru PNS yang berada di sekolah negeri dan swasta berjumlah 1,4 juta {dikutip dari detik.com media online tanggal 4 Juni 2018). Oleh karena itu, dengan populasi guru honorer itu separuh dari seluruh jumlah guru, maka sudut pandang guru honorlah yang menarik untuk dikemukakan. Selain itu, saya pun termasuk dalam populasi tersebut.

Bicara soal kesejahteraan dalam kehidupan guru honor selalu pelik, penuh dengan dilema. Tentu yang terbesit di kepala mengenai kesejateraan adalah materi. Jika dalam pekerjaan berarti erat hubungannya dengan pendapatan. Tetapi pada tulisan ini, ada dua kesejahteraan yang ingin coba dikupas dalam dunia pendidikan. Pastinya, menggunakan kacamata guru honor. Tulisan ini akan membagi kejahteraan ke dalam dua garis besar, yaitu kesejahteraan materi dan kesejahteraan waktu. Dua hal tersebut akan menjadi landasan yang paling vital dalam menciptakan pendidikan Indonesia yang ideal.

Tugas utama lembaga pedidikan sebagai representasi pemerintah adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu dasar yang akan membawa bangsa ini menjadi adil dan makmur seperti yang dicita-citakan para pahlawan dan pendiri bangsa Indonesia. Maka kesejahteraan sebenarnya menyusup secara eksplisit pada cita-cita bangsa ini. Lalu sudahkah idealisme kesejahteraan itu selaras dengan kenyataan di Indonesia ini?

Membayangkan cita-cita memang selalu terbentur dengan situasi yang ada, begitupun perihal kesejahteraan. Sebab masih sering kita lihat masyarakat Indonesia yang hidup serba pas-pasan bahkan kekurangan. Petani-petani kampung misalnya masih kesulitan menghidupi keluarganya; kepayahan untuk menyekolahkan anaknya. Tetapi kehidupan yang serba kekurangan bukan hanya terjadi terhadap petani melainkan menimpa pula kepada guru honor. Masih banyak guru honor digaji di bawah satu juta, terutama guru-guru yang mengajar di sekolah negeri karena keterbatasan alokasi dana BOS (Bantuan Operasioal Sekolah).

Kesejahteraan materi guru honor belum juga menemui titik terang. Pernyataan pemerintah mengenai pemerataan gaji guru honor masih sebatas wacana. Mungkin masih tersendat masalah anggaran, karena masih ada yang lolos menjadi CPNS 2018 pun belum menempati haknya. Ditambah seleksi PPPK 2019 yang baru selesai sebelum Pemilu pun tidak terdengar perkembangannya. Mungkin terseok-seok kisruh Pemilu serentak. Oleh sebab itu, tampaknya wacana pemerataan gaji guru honor setara UMR (Upah Minim Regional) masih akan terombang-ambing terpental arus politis pemerintah. Padahal masalah penghidupan yang layak bagi guru honor sudah tidak bisa lagi ditahan.

Garis kemamkmuran memang masih jauh dari kehidupan guru honor. Dengan setumpuk beban administrasi yang setara dengan guru PNS, tetapi penghasilan guru honor bisa dikatakan tidak manusiawi. Istilah tidak manusiawi terdengar sarkasme, tetapi realita menunjukkan demikian. Coba kita renungi guru honor di sekolah menengah misalnya, penghasilan yang didapat tergantung jumlah jam mengajar, dengan upah per jam mengajar mayoritas tidak lebih dari 35 ribu. Salah satunya saya dengan hitungan per jam 30 ribu. Bila seorang guru honor mengajar 30 jam selama seminggu dan kita ambil ukuran per jamnya ialah 30 ribu maka penghasilan yang didapat 900 ribu per bulan, begitulah nasib saya dan guru-guru honorer lain. Bahkan, masih banyak yang bernasib lebih miris dari ini, ada guru yang digaji hanya 450 ribu per bulan yang membuat kaget juga Presiden Joko Widodo. Mungkin akan timbul pemikiran dari sebagian orang jika ini terlalu subjektif tetapi saya berani mengatakan bahwa nasib guru-guru honor di daerah lain hampir sama, tidak menutup kemungkinan ada yang di bawah garis kemirisan saya. Itulah realitas yang ada, memang paradoks dengan cita-cita bangsa ini.

Berada pada peringkat berapa taraf gaji guru Indonesia sebenarnya? Menurut informasi dari 30 negara yang menajdi anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Devekopment), Indonesia menempati posisi terakhir. Dengan rata-rata Rp34.000.000,00. Tertinggal jauh dengan Swiss yang memuncaki daftar rata-rata gaji terbesar, sekitar Rp837.000.000,00.  Ini terlihat dari kacamata dunia yang dikutip dari The Guardian (Liputan6.com: 27 November 2014).

Kesejateraam jadi barang yang mahal bagi guru honor. Bukan hanya mahal melainkan langka. Sebab kehidupan guru honor seakan-akan jauh dari hal tersebut. Situasi hidup guru honor seperti terlihat sempit sehingga menjepit pula perasaan-perasaan bahagia yang timbul akibat suasana hati yang gembira. Gembira karena hidup yang serba berkecukupan. Selain hidup yang serba kekurangan dari segi materi, guru honor pun kekurangan kejseahteraan waktu. Artinya guru honor amat kekurangan waku istirahat.

Istilah kesejahteraan Timothy D. Walker dalam bukunya Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia), diungkapkan dalam buku tersebut pengalaman penulis bahwa di Finlandia bentuk kesejahteraan dalam lembaga pendidikan ialah waktu istirahat untuk guru dan siswa.  Istirahat dilakukan 15 menit setelah 45 menit pelajaran. Rutinitas istirahat itu bertujuan untuk mengembalikan kesegaran berpikir siswa, artinya setelah istirahat siswa akan kembali fokus untuk mengikuti pembelajaran berikutnya. Pendekatan ini sudah diamati dan ditulis dalam buku Recess: Its Role in Education and Development  karya Pellegrini (Timothy D. Walker: 8-9).

Sayangnya di Indonesia istirahat rutin setiap 45 menit ini belum dipikirkan lebih dalam, apalagi untuk direalisasikan. Padahal  pendekatan ini menarik untuk dicoba karena di negara yang memiliki pendidikan luar biasa seperti Finlandia, sudah diterapkan sejak lama, dan berhasil. Di Indonesia kadang jam istirahat dipotong agar dapat pulang lebih cepat, tanpa memerhatikan beban pikiran dan psikis guru dan siswa. Pertimbangannya memang masuk akal. Sebab jumlah jam setiap mata pelajaran memang banyak, seperti Bahasa Indonesia dalam satu minggu bobot jamnya ialah enam jam. Belum beberapa mata pelajaran juga memiliki bobot jam cukup banyak.tetapi situasi seperti ini sudahkah berhasil meningkatkan taraf pendidikan Indonesia? Sudah tepatkah rumusan Kurikulum 2013 Edisi Revisi ini? Jawabannya menurut Bank Dunia (World Bank) bahkan diibanding dengan Negara tetangga sekalipun, misalnya dengan Vietnam. Indonesia masih berada di bawah.

Hubungan antara Kesejahteraan dan Kualitas Pendidikan Indonesia

Baca :  Lapenmi PB HMI Dorong Pendidikan Manfaatkan Era 4.0

Sejak awal saya menyinggung pendidikan di Finlandia karena pendidikannya dianggap paling berhasil di dunia, bahkan mengumgguli negara adidaya seperti Amerika Serikat. Dengan alasan itu, tentu layak kita jadikan rujukan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.  Lalu seberapa pentingkah kesejahteraan materi dan istirahat untuk kualitas pendidikan di Indonesia? Jika kita merujuk pada pendidikan di Finlandia.

Kesejahteraan pertama dari segi materi. Bisakah materi menunjang kualitas pendidikan Indonesia? Jika saya merujuk pada buku Teach Like Finland karya Timothy D. Walker, penulis tidak sedikit pun menyinggung persoalan materi atau gaji. Dapat disimpulkan dan menurut infomasi di sana haji untuk guru sangat besar walaupun bukan terbesar di dunia. Akan tetapi penghasilan di Finlandia lebih dari cukup untuk kebutuhan hidup seorang guru. Maka tidak heran guru-guru Finlandia lebih berpikir maju untuk kebutuhan dunia pendidikannya. Berbeda dengan di Indonesia, guru-guru masih sibuk memikirkan urusan perut dan penunjang kehidupan mereka. Sehingga fokus kemajuan pendidikan dan kualitas pendidikan Indonesia tidak menjadi prioritas. Hal itu wajar sebagai manusia konsumtif guru pun membutuhkan materi yang mencukupi.

Sisi materi ini juga memengaruhi peningkatan kompetensi guru di Indonesia. Karena para guru kekurangan biaya hidup maka mereka tidak lagi memikirkan untuk kemajuan kompetensinya. Misalnya, guru-guru jarang sekali membeli buku-buku referensi terbaru sebab uangnya lebih prioritas untuk membeli beras. Padahal ilmu pengetahuan terus berkembang, maka banyak guru yang tertinggal. Berdampak pula terhadap hasil dari lembaga-lembaga pendidikan Indonesia. Tetntu ini tidak bias dibebankan sepenuhnya kepada guru, karena mereka terhimpit situasi hidup.

Kesejahteraan kedua, yaitu istirahat. Istirahat ini menjadi salah satu pendekatan yang mendasar tetapi berdampak begitu besar terhadap perkembangan pendidikan Finlandia. Menurut Timothy dalam bukunya, seperti yang sudah diceritakan di atas. Waktu istirahat yang dilakukan menjadi prioritas untuk menyegarkan pikiran siswa dan guru. Kesempatan istirahat itu tentu sering dijadikan ruang bermain gembira oleh siswa, sedangkan guru-guru di Finlandia memanfaatkan untuk santai-santai bersama guru-guru lain. Serta ada kebiasaan menarik dalam waktu istirahat tersebut, Timothy menceritakan ada kebiasaan guru-guru untuk bercerita tentang permasalahan mereka di kelas dan memecahkannya secara bersama-sama. Selain permasalahan, kadang mereka berbagi isu terbaru tentang pendidikan atau keilmuan. Tentu itu demi kemajuan pembelajaran. Tomothy mengistilahkannya dengan ‘kolaborasi lewat kopi’.

Kedua kesejahteraan tersebut akan saling berkaitan dalam praktiknya. Misalnya, seorang guru memiliki limpahan materi tetapi tidak punya waktu luang, tentu akan percuma. Karena guru mampu membeli buku tetapi tidak punya waktu leluasa untuk membacanya, terasa mubazir. Oleh karena itu, dua hal itu merupakan satu-kesatuan kebutuhan bagi guru.

Benarkah Kesejahteraan Indikator Satu-satunya yang Dapat Menjadi Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan Indonesia?

Baca :  Lapenmi PB HMI Dorong Pendidikan Manfaatkan Era 4.0

Sebenarmya banyak indikator lain yang menunjang kualitas pendidikan Finlandia. Akan tetapi menurut kajian saya. Dua dasar filosofis kesejahteraan guru-guru, khususnya guru honor itu menjadi fondasi kuat untuk mendorong guru tersadar, sehingga masuk pada ranah proses berpikir kemajuan pendidikan.  Karena selama ini, dalam keseharian guru-guru honor Indonesia adalah mencari sebanyak-banyaknya jam mengajar agar mendapat penghasilan lebih besar, hingga mereka kadang melupakan pentingnya istirahat. Padahal Finlandia sudah membuktikan kesuksesan pendidikannya melalui pendekatan tersebut.

Pemerintah harus mulai memikirkan dan memperjuangkan kesejahteraan guru. Selama ini pemerintah terkesan mendayung di antara dua pulau, pulau cita-cita memiliki bangsa yang cerdas dan pulau realita yang masih jauh dari cita-cita. Harusnya pemerintah harus membuat jembatan untuk menghubungkan keduanya. Dengan cara menyejahterakan guru-guru agar mereka mampu melayani para siswa dengan baik. Karena tugas guru itu berat, yaitu untuk merawat masa depan bangsa lewat siswa-siswanya.

Tulisan ini memang memang belum mengalami pembuktian lewat penelitian dengan situasi pendidikan yang sudah ada di Indonesia. Tetapi, ini semacam gagasan yang menyatukan antara, penelitian yang dilakukan praktisi pendidikan, realitas pendidikan Finlandia, dan kenyataan pendidikan Indonesia. Tiga hal itu dibaurkan sehingga menghasilkan konklusi bahwa segala gagasan mesti kita coba untuk kemajuan bangsa Indonesia. Tentu kami sebagai guru honor disebut buruh pendidikan tidak etis jika harus mendemo pemerintah untuk menuntut kesejahteraan sebagai bentuk keadilan terhadap kaum pendidikan. Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional harus jadi semacam introspeksi kita bersama bahwa keadilan itu mesti disadarkan dan dihadirkan. Seperti yang dilakukan Ki Hajar Dewantara lewar bukunya berjudul Pendidikan yang berusaha menyadarkan keadilan melalui pendidikan yang lepas dari kolonialisme. Dan hari ini saya ingin menyadarkan ada permasalah lain yang menjerat pendidikan Indonesia, yaitu kesejahteraan guru. Walaupun kesadaran itu sudah lama diketahui oleh banyak pihak tetapi kesadarannya masih sebatas harapan.

 

Baca :  Lapenmi PB HMI Dorong Pendidikan Manfaatkan Era 4.0

 

Oleh : Rendy Dwi Maulana

Penulis lahir di Bogor pada 02 Mei 1994. Anak kedua dari tiga bersaudara. Pendidikan terakhir menempuh jenjang perguruan tinggi di Universitas Pakuan Bogor dengan konsentrasi di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Beralamat di Jalan letkol Atang Sanjaya, RT 04/01, Desa Pasir-gaok, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Alamat Email rendydwi-maulana@gmail.com, Nama Pengguna Facebook Rendy Maulana, Nomor HP (WA) 089661951001 Serta sampai saat ini masih menjadi pendidik di SMPN 1 Rancabunugur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here