Harga Minyak Goreng Naik, Pedagang Gorengan di Leuwiliang Mengeluh

oleh -593 views
Harga Minyak Goreng, Minyak Goreng, Pedagang Gorengan, Pasar Leuwiliang, Keluhan Pedagang

BOGOR (LEAD.co.id) – Kenaikan harga minyak goreng menyebabkan para pembeli mengeluh. Hal itu disampaikan oleh pedagang sembako di Pasar Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

“Banyak pembeli yang mengeluh, khususnya tukang gorengan,” ujar Budiantoro, salah satu pedagang sembako di Pasar Leuwiliang saat ditemui tim LEAD.co.id, pada Selasa (16/11/2021).

Budiantoro mengatakan, terdapat kenaikan harga minyak goreng curah yang semula dijual Rp 13ribu per kilogram kini mencapai Rp 19ribu per kilogram.

Keluhan para pembeli, khususnya pedagang gorengan ini karena komoditas minyak goreng sangat berpengaruh terhadap pekerjaannya. Bahkan, sejumlah pedagang gorengan memilih untuk menutup dagangannya.

Baca :  Kelangkaan Minyak Goreng dan Penundaan Pemilu yang Inkonstitusional

“Karena minyak terasa berpengaruh oleh pedagang gorengan, engga jarang ada yang memilih untuk libur dulu jualannya,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu pedagang gorengan di pasar Leuwiliang mengaku sangat keberatan atas naiknya harga minyak goreng. Meski demikian, dirinya tetap membeli karena sudahbmenjadi kebutuhan.

“Naik dari 13 ribu sekarang 19 ribu, berat sebetulnya cuma ya mau gimana lagi karena butuh, ya tetep saya beli,” ujar pedagang gorengan saat ditemui di pasar Leuwiliang.

Kendati demikian, dia tidak menaikkan harga gorengan yang dijual, tetap normal di harga awal. Hal itu membuat keuntungan pedagang gorengan menurun.

Baca :  Sidak Pasar Citereup, Polres Bogor Akan Tindak Pemain Minyak Goreng

“Soalnya kalo dinaikin yang ada pembeli akan sepi, palingan kita selaku pedagang nerima untung lebih kecil dari biasanya,” lanjutnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan menjelaskan, kenaikan harga minyak goreng ini tak lepas dari pengaruh pasar global.

Menurut dia, terjadi gangguan pasokan minyak nabati, yang paling signifikan di antaranya pemasok Canada Canola Oil dan di Argentina terjadi gangguan produksi sehingga turun sekitar 7 persen.

Selain itu, gangguan produksi juga terjadi pada Crude Palm Oil (CPO) dari Malaysia hingga 8-9 persen akibat pandemi Covid-19.

Baca :  LPKP Minta Penegak Hukum Periksa Proyek RSUD Leuwiliang

“Pengaruh utamanya adalah pasokan minyak nabati dunia terganggu,” kata Nurwan seperti dikutip Kompas, pada Jumat (12/11/2021).

Dia menambahkan, faktor lain yang memengaruhi tingginya harga minyak goreng belakangan ini karena sebagian besar produsen nasional bergantung pada pasukan CPO global sehingga harga minyak goreng nasional ikut naik.

Atas naiknya harga minyak goreng itu, para pedagang dan pembeli minyak goreng di pasar nasional berharap, harga minyak goreng kembali normal seperti semula.

“Ya harapannya harganya turun lagi,” tutur Anggi, pembeli minyak goreng di Pasar Leuwiliang.

 

Reporter: Tebby A, Purbasari, Irwan H
Editor: Aru Prayogi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *