HMI Sulteng : Perusakan Rumah Ibadah Tumaluntung Harus Menjadi Pelajaran

0
HMI Sulteng, Perusakan, Rumah ibadah tumaluntung, pelajaran
Ketua Umum Badko HMI Sulawesi Tengah, Muhammad Rafiq

LEAD.co.id | Perusakan masjid (terakhir disebut Balai Pertemuan) di Perum Agape, Tumaluntung, Minahasa Utara berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di masyarakat. Pasalnya, kejadian itu memicu reaksi ummat Islam di penjuru negeri.

Karenanya, jika pemahaman toleransi lemah, kejadian serupa bisa saja terjadi di daerah lainnya. Hal ini mengingat, negara Indonesia memiliki banyak ragam suku, agama, ras dalam satu wilayah.

“Toleransi sangat penting bagi kelangsungan masa depan bangsa Indonesia,” terang Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Tengah, Muhammad Rafiq melalui siaran pers, Sabtu (1/2/2020).

Sebelumnya, sumber LEAD.co.id melaporkan, sekitar pukul 17.48 Wita, puluhan orang melakukan perusakan Rumah Ibadah (Musolah) Al-Hidayah, di Perum Agape, Desa Tumaluntung, Kec. Kauditan Kab. Minahasa Utara, Rabu petang (29/1/2020).

Baca :  PSI Bogor Kecam Perusakan di Tumaluntung, Harus Ditindak Tegas

Kejadian ini diduga dipicu adanya kegiatan Tabligh (pengajian) yang izin semula berjumlah 10 orang, namun yang hadir sekitar 20 orang. Atas itu mendapat penolakan warga (ormas) hingga berujung perusakan.

“Peristiwa miris ini harus menjadi bahan pembelajaran bahwa, masih minimnya pemahaman masyarakat dalam merawat dan menjaga toleransi antar umat beragama,” kata Ketum Badko HMI Sulteng.

Dia juga mengeluhkan, bahwa selama ini ummat Islam seringkali dicap sebagai kelompok radikal, padahal tidak pernah merusak rumah ibadah.

Saat ini pihak Kepolisian setempat telah menangkap beberapa pelaku perusakan rumah ibadah tersebut. Tindakan aparat kepolisian patut diapresiasi, namun, itu dinilai belum selesai. Peristiwa ini kata Rafiq, akan menjadi  sangat sensitif, apabila penangananya hanya sampai tataran hukum aja.

Baca :  Nunggu Izin, Rumah Ibadah di Tumaluntung Berstatus Balai Pertemuan

“Banyak aspek lainnya yang menjadi perhatian agar toleransi ini benar-benar dipahami bagian cara hidup berbangsa dan bernegara,” terang dia.

Perlu Pendekatan Local Wisdom

Penyelesaian perselisihan rumah ibadah di berbagai daerah memang sering menemukan masalah komunikasi antarumat beragama. Mestinya, dibangun komunikasi yang lebih komunikatif dengan mengendepankan pendekatan sosial yang beradab. Perlunya pendekatan local wisdom dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Jangan sampai ada istilah sekadar membuat program dan tidak menyentuh pada esensi beragama,”  tegas Muhammad Rafiq.

Apalagi, lanjut dia, adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri yang mengatur pendirian rumah ibadah dengan tanda tangan minimal 60 orang warga sekitar, mesti dijalankan dengan konsisten. Namun, pada pelaksanannya itu Pemerintah juga wajib memfasilitasi, shingga aktivitas ibadah berjalan kondusif.

Baca :  Pasca Rusuh Tumaluntung, Masyarakat Deklarasikan Damai

“Terakhir, saya mengajak kepada seluruh ummat Islam tidak terprovokasi atas kejadian tersebut. Meskipun tidak terjadi di Sulawesi Tengah, ini jadi perhatian pentingnya merawat semangat toleransi antar umat beragama di Sulawesi Tengah. Jangan sampai kejadian ini terulang terjadi Sulteng,” tutup Rafiq. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here