Ilmuwan Tidak Netral, Dia Wajib Berpihak Kepada Kebenaran

oleh -272 views
Apendi Arsyad, Paradoks, Anomali, Pilpres 2024

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Syukron adindaku Hidayatsyah, Pku
Saya kenal baik adikku ini, lulusan SMA Pku exellence, lulusan Sosek Faperta IPB. Adinda Hidayat memiliki kadar intelektual berlebih, seorang pemikir kritis yang baik. Kecerdasan IQ melebihi rata-rata, orang kritis dan analitik dengan referensi yang cukup banyak, adikku ini pembaca buku mania. Sehari-hari life sytlenya gaya “coboy”, nyentrik spt seniman dan filosof, maaf, sorry hanya sekedar becanda adindaku agar “sersan”.

Kali ini, adikku memberikan kritik yang tajam, merespon tulisan abangnya AA kakak senior satu almamater di IPB University, pernah hidup bersama di asrama Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Riau (IKPMR) “Dang Merdu” di Bogor sekitar tahun 1984-1986, tulisan abang yang direspon positif tsb, berjudul “Menkeu Purbaya versus Ketua DEN Luhut Binsar Panjaitan: Buat Kita Renungkan Bersama Warga Bangsa”, terbit Ahad 19/10-2025, beredar di sejumlah WAG di Indonesia, salah satunya WAG Alumni IKPMR Bogor, Alhamdulillah, subhanallah, sudah banyak nitizen meresponnya. Jika ada respon, saya hanya bisa berucap syukur “alhamdulillah” bagi mereka memuji dan mengapresiasi, dan sebaliknya “astaghfirullahalaziem” bagi mereka “menolak” dan mengkritik, ndak apa-apa, dan saya minta ampun apabila ada khilaf dan salah sesuai fitrah manusia, dianugerahi Tuhan Allah dengan berbagai keterbatasan (limited, not unlimited). Oleh karena seorang ilmuwan tahan kritik, berlapang dada, open mind agar tidak jumud, teliti, bersingguh, tanpa pamrih-bekerja ikhlas krn Ridho Allah semata-mata,… etc watak terbaiknya (the best characters)

Baca :  "New Normal Society" di Era Covid 19

Kita sadar dan paham bahwa sains itu lahir dan muncul akibat adanya “dialektika”, analisa dan sintesa, etc, etc berkat adanya berbagai interaksi antar manusia dengan lingkungannya (fisik dan sosial) secara akumulatif dan terus.menerus dan berkesinambungan (continyuity and sustainaibility). Kata filosof, sains itu lahir dari hasil berbagai pemikiran.dan penemuan riset terdahulu hingga saat ini, berlangsung secara akumulatif dan terus.mengalami penyesuaian dan penyempurnaan (adaptif dan relativity).

Komentar adindaku itu berbunyi spt ini…”Tulisan bagus, sayang sekali perspektifnya sangat “hater”. Sebagai ilmuwan, abangda seharusnya memberikan perspektif yang lebih “netral”..”
Maaf….

Senang sekali abangda membaca respon adindaku tsb pagi ini (Senin 20/10-2025), beliau betul-betul membaca konten artikel saya itu dgn teliti, objektif dan analitik.

Mohon izin, dan berikan hak jawab untuk abangda AA, agar perbedaan pandangan, persepsi dan opini, melihat kasus Menkeu Purbaya vs Ketua DEN Luhut Binsar Panjaitan, bisa “clear” or sebaliknya “not clear” Kita paham dalam mensikapi sebuah fenomena sosial, sdh bisa dipastikan ada “diffrence versus similarity”, ngak apa-apa, demikian itu sesuatu yang wajar dan biasa, krn karya pemikiran manusia itu bersifat dinamik dan relatif, demikian itu kata filosof Albert Einstain, sosok jenius, ahli fisika dan penemu Bom Atom.

Kira-kira jawabannya begini adindaku.Hidayat yang jenius..sbb:

Ilmuwan itu tidak bisa netral, dia harus berpihak (affirmatif) kpd kebenaran dan keadilan. Jadi, bukan “netral” adindaku.
Sumber kebenaran (the truth) tsb adalah firman (wahyu) Allah SWT yang terkandung.dalam ayat-ayat Al Qur’an, dan diperjelas Sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Wahyu Allah SWT yang difirmankan Allah dalam sejumlah.ayat dalam Al Quran adalah kebenaran/Haq (QS Al Baqarah dll).
Dalam Al Quran surat Sabah (34) ayat 48-49, Allah SWT berfirman, terjemahan sbb:

Baca :  Mengenang Almarhum BJ Habibie

Ayat 48:
“Katakanlah, Sesungguhnya Tuhanmu mewahyukan kebenaran. Dia maha mengetahui segala yang ghaib”,

Berikutnya ayat 49, bunyi tecemahan Al Quran dan Terjemahan, Kemenag RI thn 2002, sbb:
“Katakanlah kebenaran telah datang dan yang batil tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi”,
Penjelasan pada catatan kaki, ayat 49 tsb, adalah tertulis…”apabila kebenaran sudah datang, maka kebatilan akan hancur binasa, dan tidak dapat berbuat sesuatu untuk melawan dan meruntuhkan kebenaran”.

Demikian narasi penegasan salah satu bentuk sunnatullah tentang kebenaran versus kebatilan. Harapanya setiap mukmin harus dan wajib meyakininya sebagai pedoman hidup (way of life) agar kita berada pada jalan yang benar/ lurus (sirotol mustaqiem), merupakan jalan keselamatan hidup di dunia-fana (limited, makmur-sejahtera, rukun.damai, keluarga samarah) dan selamat pula kehidupan akhirats alam baqanya (unlimited), insyaAllah masuk syurgajannatunnaim, Aamiin-3 YRA.

Ditambah dgn sumber ilmu pengetahuan (sains) yang kian berkembang pesat dgn ramifikasi disiplin baik mono maupun multi serta sistem ilmunya dengan pemanfaatannya (utility) berupa berbagai inovasi-teknologi untuk menopang kehidupan umat manusia di muka bumi (fit dunniyah) dalam memenuhi kebutuhan baik material maupun spiritual masyarakat yang semakin kompleks baik potensi maupun tantangan yang dihadapi.

Baca :  Kenangan Bersama Mas Ai-Satrio Wiseno Kodel TPB IPB 1980

Mahzab filosofis Positivisme, mendefinisikan bahwa
Kebenaran ilmiah bersumber dari produk riset sains (empirical, factual/data, rasional, objektif and controling) yang menemukan konsep dan teori. Konsep sains based on disiplin ipteks, sedangkan teori merupakan suatu gejala yang ditunjukan adanya hubungan (korelasi or causalitas) 2 atau lebih variabel yang telah diuji kebenaran ilmiah, berdasarkan 4-5 ciri-ciri karakteristiknya yaitu empiris, factual/data, rasional (common sense), objektif dan terkontrol/teruji).
Kadar kebenaran yang tertinggi adalah integrasi atau keterpaduan antara imtaq (QnS) dengan iptek (Prof.BJ Habibie, Ketum MPP ICMI, Presiden RI ke 3)

Robert Einstain, fisikawan terkemuka abad ke 20, pun pernah berkata bijak bahwa..” ilmu pengetahuan (sains) tanpa agama akan buta, sedangkan agama tanpa sains akan lumpuh..”.
Terakhir abangda AA sudah berupaya menjelaskan fenomema interaksi or relasi sosial antara Purbaya vs Luhut Binsar Panjaitan, menggunakan kaca mata dan pendekatan, perspektif “integrasi imtaq dan ipteks”. Semoga narasi ini, ada hikmah dan insyaAllah bermanfaat bagi semua, terkhusus para pembaca budiman, syukron barakallah, Aamiin3 YRA.***

Salam sehat dan tetaplah Bersemangat Adindaku.###

Gallery and Ecofunworkshop Kp Wangun Atas Rt 06 Rw 01, Kel.Sindangsari, Botim City, West Java, Senin 20 Oktober 2025.

Penulis adalah Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pengamat serta Kritikus Sosial melalui Tulisan-Tulisanya di Media Sosial dalam rangka ikut berkontribusi mewujudkan Keberhasilan Visi dan Misi Indonesia Emas tahun 2045