“New Normal Society” di Era Covid 19

0
Apendi Arsyad, New Normal, KAHMI, ICMI, Covid-19
Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi

Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi

Terima kasih atas kiriman artikel dari bapak Profesor Sardi-PPSN berjudul New Normal (konsep impor), cukup menarik untuk dipelajari. Terima kasih urang awak Prof. Sardi, salah seorang pendiri dan sekarang Ketua Pusat Pengkajian Strategi Nusantara (PPSN). Beliau saya kenal belakangan adalah senior saya di organisasi KAHMI dan ICMI.

Nampaknya memang rezim penguasa skrg, kurang atau bahkan tidak paham akan konsep lockdown dan semi-lockdown serta PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yg kini sedang diterapkan di tanah air untuk mencegah penularan wabah virus baru Corona (Covid) tahun 2019, sehingga terlihat pelaksanaannya di lapangan inkonsistensi, amburadul, dan membuat kita kebingungan memahami tingkah laku para pejabat dan penguasa negeri ini. Dampaknya terjadi ” untrust society” di lingkungan masyarakat tidak terelakkan. Walaupun dukungan fatwa MUI Pusat, himbauan ormas Islam PB NU dan PP Muhamadyah cukup menguatkan kebijakan yg diambil Pemerintah. Apa2 yang disampaikan Pemerintah (Presiden Jokowi dan para pejabat dibawahnya) dan tokoh2 ulama dan rohaniawan berupa “himbauan2” kurang begitu didengar, dan bahkan kebanyakan anggota masyarakat tidak mematuhinya, melanggar protokol Covid 19. Buktinya masyarakat tidak disiplin dalam mematuhi aturan2 PSBB seperti yang terjadi di jalan raya, pasar tradisional, terutama perkampungan tempat tinggal saya di Kampung ‘babakan’ Wangun Atas Kel.Sindangsari Kota Bogor Timur, dimana para tokoh agama (ustadz, ajengan dan kiyai) dan tokmasy, apalagi kaum mudanya suka ngumpul2-ngarumpi. Mereka tetap menjalankan sholat berjemaah di masjid tanpa masker, tidak berjarak sosial (not social distancing), dan tanpa ada pengecekan suhu badan anggota jemaahnya. Selama bulan suci Ramadhan 1441 H (April-Mei 2020 Masehi) sholat tarawih berjemaah dan sholat jumat di masjid tua (“kauman”) tetap berlangsung dan ramai jemaahnya. Demikian juga sholat idul fitri 1441 H dilaksanakan berjemaah di masjid juga cukup “membludak” pesertanya. Padahal kita tahu bahwa Kota Bogor termasuk kategori berstatus merah (daerah pandemi Covid 19).

Saya berpikir, jangan2 dan atau mungkin yang sholat berjemaah dan khotbah idul fitri 1441 H di rumah 1 syawal 1442 H dengan anak2 dan menantu hanya keluarga saya menjalankannya sebagaimana himbauan gugus tugas pencegahan Covid 19. Melihat kondisi masyarakat akar rumput (grassgrote) berperilaku ‘anomali’ yang demikian tersebut, maka saya menjadi “teraleniasi”,… terasing juga di tengah masyarakat. Sehingga mohon maaf saya tidak pernah sholat berjemaah bersama tetangga di masjid. Padahal sebelum munculnya pandemi Covid 19 dan sangat dihebohkan oleh media massa dan medsos dengan informasi pro-kontra, membuat sebagian masyarakat bingung, cemas dan panik. Dan akibatnya terhadap saya, yang dulu selalu rajin sholat fardhu di masjid dan mushollah dekat rumah atau di masjid daerah lainnya, sekarang berubah drastis beribadah di rumah saja (stay at my home). Terus terang awalmulanya, saya memang agak ragu2 apa benar virus baru Corona 19 sebagai pandemi, karena media publik mempublikasikan adanya konsep dan praktek konspirasi dari negara2 besar spt China, USA dan Israel etc , sehingga cara pandang menganggap Covid 19 produk sebuah rekayasa untuk menciptakan kepanikan sosial guna memuluskan kepentingan dagang Vaksin “negara adidaya”, sehingga saya pernah ikut ke masjid sholat Jumat berjemaah beberapa kali, dan ke mesjid saya mematuhi sebagian protokol Covid 19 yaitu dengan memakai masker, cuci tangan dan olesan hand sanitizer disertai bacaan doa2. Tetapi para jemaah yg sholat jumat yg saya temui pada umumnya tidak memakai masker, berakibat ibadah sholat saya pun tidak bisa khusuk.

Baca :  Regenerasi Personil ICMI Sebuah Keniscayaan

Kemudian, sekarang dengan begitu gencarnya pemberitaan media massa dan media sosial tentang bahaya Covid 19 yg mengerikan itu, terutama banyaknya tenaga medik (para dokter dan perawat di Rumkit2) dan penduduk, termasuk pejabat publik yang terkapar, akhirnya saya berpikir lain (mindsetku berubah) dan sekarang mematuhi aturan2 SPBB dengan ketat seperti stay at home, work and learning from home (memberi kuliah daring/online kepada mahasiswa); dan sholat 5 waktu berjemaah bersama istri, anak2 dan menantu di rumah; rutin membaca Al Quran dan terjemahannya; ikut mendengar ceramah-diskusi bidang agama dan ipteks dengan para rekan melalui video call, itc zoom join meeting; berWAG ria dengan para sahabat tentang berbagai opini dan merespon issu2 strategis; dan membaca buku serta menulis mengenai ‘trend setter’ keadaan aktual sosial budaya, ekonomi yg deskruptif, paradoksal, dan bahkan fenomena sosial politik yang makin tidak jelas juntrungannya yang semakin “edan”, disorientasi (absurb). Tapi lama- kelamaan tinggal dan bekerja di rumah, saya merasa jenuh (boring) juga. Solusinya untuk mengarasi ketidaknyamanan hidup, saya lakukan dengan bekerja di kebun dengan mencangkul lahan, menanam cabe, singkong dan pisang di areal tanah sempit yang terdapat di belakang rumah, juga menanam aneka bunga, cabe, dan daun pandan di lahan di pekarang rumah. Ternyata, juga tidak cukup, kemudian diteruskan lagi berolah raga jalan kaki kebiasaanku di pagi hari, mengelilingi daerah perkampungan yg sepi penduduk dan udaranya segar, serta pemandangan gunung Salak yg indah, dan di rumah juga menonton siaran2 TV berbagai channel untuk acara siraman rohani dan hiburan lainnya. Itulah konsep dan strategi adaptasi menghadapi pandemi Covid 19, yang saya lakoni sudah lebih sebulan lamanya.

Dengan menjalankan serangkaian aktivitas ritual dan hiburan (entertaint) yg saya kerjakan di rumah untuk menghadapi pandemi Covid 19, yang agak berbeda denga pola berperilaku para tetangga kampung di pemukiman saya, sehingga saya merasa “dikucilkan” masyarakat karena berperilaku asosial, tidak ikutserta dalam kerumunan mereka. 🤣😘😭

Untuk menjaga hubungan baik dan silaturrahmi dengan para tetangga, teristimewa dengan mereka yg kurang mampu (fuqoro masakin), dan dengan niat yang ikhlas- beribadah kepada Allah SWT, kami sekeluarga berusaha mengalokasikan dan mendistribusikan sebagian rezeki berupa harta yg dianugerahi Allah SWT (infaq, sedekah dan bahkan zakat mal) dengan cara menyiapkan (standby) sejumlah bingkisan2 plastik kresek “sembako taktis” yg berisikan bahan makanan lk 2-3 liter beras, indomie dan lawuk sarden dll, serta sedikit uang jajan, yang kami bagikan kpd kelompok sasaran tertentu yg memang layak sbg penerima bansos. Kami serahkan, ketika mereka lewat di depan rumahku dan atau mendatangi rumahnya. Mohon maaf narasi ini bukan bermaksud “ria”, tetapi diceritakan niatnya hanya sekedar untuk berbagi suritauladan- kebajikan demi tegaknya syiar Islam. Ingat dalam QnS berinfak tsb, kita boleh sembunyi2 dan atau terang2an utk dakwah Islamiyah.

Baca :  Vaksin Covid-19 Belum Ditemukan, Diperlukan New Normal

Alhamdulillah dibalik kejadian pandemi Covid 19 bagi saya dan keluarga terdapat berbagai proses pembelajaran (iktibar), memperkaya modal sosial, dan juga banyak hikmahnya diperoleh. Diantara hikmahnya, saya belajar bersabar dan banyak2 beristighfar menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT, minta ampunan Allah. Hikmah lainnya saya juga semakin akrab-harmoni dengan anggota keluarga, pengalaman shaum Ramadhan dahulu sebelum ada Covid 19, saya sangat jarang buka puasa di rumah, ikut bukber, apalagi sholat berjemaah. Sekarang di era wabah Covid 19, sepenuhnya 100 % sholat berjemaah bersama anggota keluarga di rumah. Demikian juga untuk sholat idul fitri 1441 H, tahun ini dikerjakan di rumah, saya menjadi imamnya sholat sedangkan menantu saya sebagai khotib pemberi khutbah..asyik sekali. Kejadian sholat id di rumah ini selama hayatku di kandung badan, baru kali ini bisa terjadi. Silaturrahmi idul fitri biasa mudik dan bersalaman langsung dengan orangtua dan para dunsanak (kakak, adik, anak, kemenakan dan para cucu) kampuang dan saya bersama keluarga di rantau (Bogor), kemaren 1 syawal di thn 2020 ini dilakukan secara online video call dan skypi. Juga acara yg unik “halal bi halal” dengan para sahabat dilakukan dengan software-internet “‘Zoom join meeting”.

Hikmah yg paling berfaedah, dengan adanya musibah Covid 19, kita memperoleh kesadaran baru dan menggugah alam-pikiran bawah sadar kita akan suatu kepedulian dan tanggung jawab sosial antar sesama manusia, modal sosial untuk “saling membantu dan tolong menolong” kita bertambah, terutama kita perhatian terhadap kalangan terdekat yaitu para tetangga dan dunsanak-anggota kerabat, yang kebetulan terdampak Covid 19 seperti keluarga sopir angkot, jualan makanan usaha mikro spt somai, bakso, cireng, penjual mainan anak2, tukang sol sepatu, dan pedagang kecil lainnya, termasuk buruh pabrik korban phk dan tukang bangunan dll. Mereka telah kehilangan pekerjaan dan sumber nafkah sehari-hari (jatuh miskin). Padahal yang menjadi tanggungan anggota keluarganya begitu lumayan banyak yg harus diberi makan. Maka timbullah rasa ‘iba dan kasihan’ akan nasib mereka, jika kita peduli melihat keadaannya, yang tinggal di rumah sangat sederhana dan status kontrakan 😭😘😘

Baca :  Kenangan Singkat Almarhum Prof. BJ Habibie

Selain itu hikmah yang lain, yang diraih kenikmatannya, kita semakin memiliki ruang waktu yang cukup untuk mempelajari kitab suci Al Quran dan buku2 agama Islam lainnya (berzikrullah) untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kpd Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang yg selama kita abaikan dan sangat lalai. Pengalamanku di era Covid 19 yg memaksa tinggal di rumah, dilakukan dengan mengisi waktu membaca ayat2 suci Al Quran, hati dan pikiran ini pun menjadi tenteram (sakinah). Menurut para ulama dan ahli kesehatan ketentraman batin membuahkan ketenangan jiwa (alias tidak panik), yang insyaAllah merupakan salah satu obat mujarab (ampuh) sebagai penangkal serangan pandemi Virus baru Corona 19, demikian kata filosof besar Ibnu Sina yg beredar pesannya di medsos.

Itulah narasi mengenai strategi adaptasi dan ikhtiar2 untuk menghadapi dan “melawan” pandemi Covid 19 yg saya lakukan bersama keluarga di lingkungan sosial komunitas saya. Apakah ini termasuk fenomena sosial-pola kehidupan normal baru (new normal), seperti yang dimaksud dalam artikel Prof.Sardi-Guru Besar Fakultas Teknik UI/Ketua NGO PPSN, dimana saya salah seorang membernya bersama kanda Dr dr.H.Adi Teruna Effendi (seorang medik-internist senior di Bogor), tetapi beliau juga menguasai social science, studi sejarah dan telah berhasil menulis beberapa buku bersama teman2nya di PPSN antara lain bukunya: Raksasa Baru Dari Timur, Bangkitnya Negeri Sakura dan buku Jejak Islam di Nusantara yg kesemuanya diterbitkan PPSN bekerjasama dengan IPB Press Bogor.

Jadi, konsep “new normal” sebagaimana ide yang dikemukakan Prof.Sardi, yang saya terima di WAG PPSN intelektual tempo hari, dan sudah saya baca dengan seksama ternyata sangat menarik kita diskusikan di forum PPSN untuk bisa dipahami. Mana tahu. ? konsep “new normal society” tsb dibutuhkan dan bisa dikontribusikan untuk perbaikan “public policy” yang kelihatannya agak “amburadul dan deskruptif” saat ini. Hal ini tentunya kita lakukan dalam rangka melindungi segenap kehidupan bangsa dan negara kita, yg kita cintai, yg kini tengah mengalami berbagai anomali di era pandemi Covid 19. InsyaAllah kehidupan berbangsa dan NKRI jangan sampai bubar (ambiyar meminjam istilah tokoh musik legendaris campur sari alm. Didi Kempot). Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan dan pertolongan kepada kita sekalian. Amin3 YRA.

Selamat idul fitri 1441 H mohon maaf lahir dan bathin..dan barakallah.
Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
Wabillahi taufik walhidayah wr wb.

Penulis adalah Assosiat Prof-Lektor Kepala pada Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian- Universitas Djuanda di Bogor, sekaligus juga pernah sebagai Sekretaris Panitia Pendirian UNIDA tahun 1986.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here