BOGOR (LEAD.co.id) – Revolusi Industri 4.0 dan pembentukan masyarakat 5.0 mengalami lompatan yang signifikan dipicu oleh munculnya Covid-19 yang menjadi pandemi, tak terkecuali sektor ekonomi. Kreatifitas dan inovasi harus senantiasa digaungkan guna menopang itu semuanya.
Adalah Sri Erdianti, yang membuat gebrakan dengan idenya membuat Eco Enzyme yang berbahan dari kulit buah dan sisa sayuran, dengan pengolahan seperti sampah organik ini bisa menghasilkan sejuta manfaat dan faedah bagi orang banyak serta termasuk pundi-pundi rupiah.
“Eco Enzyme adalah teknologi tepat guna yang dianggap mampu mengurangi global warming. Metodenya pun sederhana, seperti mengolah sampah organik dengan memanfaatkan sisa kulit buah dan sayuran, lalu diolah menjadi cairan multiguna,” ungkap Bunda Oi panggilan akrabnya, di Desa Sasak Panjang, Kecamatan Tajurhalang, pada Kamis (27/1/2022).
Menurut dia, UMKM adalah salah satu penyumbang sampah terbanyak, mungkin dari pada limbahnya dibuang begitu saja, lebih baik diolah dan difermentasi dengan Eco Enzyme dan menjadi multi fungsi dan manfaat.
“Hasil dari fermentasi limbah tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan peternakan, berupa pupuk alami dan pestisida, peblmbersih ruangan yang sangat efektif,” kata wanita pekerja keras ini.
Lebih lanjut, Bunda Oi menjelaskan cara pembuatannya juga sangatlah mudah, dengan metode 1+3+10, atau 1 liter molase 3 kg bahan organik (limbah kulit buah fresh) dan 10 liter air, kemudian lakukan fermentasi selama tiga bulan lamanya.
“Sangatlah mudah sekali cara pembuatannya, melalui metode 1+3+10, atau dengan kata lain 1 liter Molase 3 Kg bahan organik, bahan limbah kulit buah Fresh, lalu di fermentasi selama 3 bulan lamanya,” jelas Bunda Oi.
Apresiasi dikemukakan oleh Ketua RT 009/007 Surono, dirinya merasa bangga dengan memiliki warganya yang mempunyai inovasi dan kreatif dalam memanfaatkan peluang bisnis rumahan pasca pandemi. Dia juga mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah organik ini supaya berguna dijadikan daur ulang limbah kembali.
“Kami imbau agar warga dapat memilah sampah dari rumah dan menghasilkan produk yang bermanfaat bernilai ekonomis. Nantinya, warga setempat ini diharapkan dapat mensosialisasikan kembali ilmu yang didapat dari Bunda Oi yang menjadi lebih dulu melakukan proses fermentasi ini, dan di share ke warga sekitarnya,” pungkasnya.
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi





