Oleh: Liana Ariesha Khoerudin
Dalam menganalisa mutu suatu manajemen, salah satunya menggunakan 7’S. Model 7S McKinsey diperkenalkan kali pertama oleh Tom Peters dan Robert Waterman yang merupakan sebuah alat yang digunakan untuk menganalisa aspek internal organisasi sebuah perusahaan.
Metode ini menggunakan 7 elemen utama yaitu: Strategy (strategi), Stucture (stuktur), system (sistem)ke 3s ini adalah merupakan hard elemen Adapun skills (keterampilan), staff (karyawan) style (gaya kepemimpinan ) dan share value (nilai-nilai Lembaga) merupakan soft element. Keselarasan 7 elemen tersebut dalam sebuah Lembaga merupakan factor kunci keberhasilan sebuah Lembaga atau organisasi.
Mengingat sekolah / madrasah bagian Dasmen (Dasar & Menengah) pun merupakan organisasi Pendidikan, maka sebagai organisasi, ia terkena hukum hukum organisasi sehingga klop menjadi obyek analisa Metode 7’S juga. Karenanya maka madrasah pun dapat didongkrak perbaikan mutu Pendidikannya. Disinilah McKinsey’s 7s framework perlu dicoba untuk menguatkan implementasi mutu Pendidikan yang baik, tentu saja secara operasional harus disesuaikan dengan dimensi/indikator indikator kondisi dan sumber daya sekolah setempat.
Penerapan McKinsey’s 7s framework di dalam manajemen sekolah atau madrasah di harapkan menghasilkan mutu yang lebih berdaya, produktif dan harmonis yang pada gilirannya meningkatkan mutu sekolah secara total.
Bedah Variabel & Pengotimalannya Melalui Indikator-indikatornya
Konsep metode 7’S secara operasional kerap teraplikasikan di lapangan,
Sebut saja pada Madrasah Ibtidaiyah Cisarua Girang, yang berlokasi jln. Selabintana tepatnya di perbatasan kabupaten dan kota sukabumi, yang kebetulan tidak jauh dari kediaman.
Sekilas, jika mampir ke MICis (selanjutnya sebutan bagi Mi Cisaruagirang) tidaklah mudah untuk mencapai standar mutu Pendidikan, sejumlah kendala muncul terutama pada ranah internal, namun dengan konsep McKinsey 7s MICis mampu dan siap berdiri di ranah dunia Pendidikan pada era 4.0 menuju era 5.0.
MICis diantaranya; dalam hal leadership Kepemimpinan , pengelolaan manajemen madrasah, mampu berinovasi melahirkan terobosan-terobosan baru dan mampu meningkatkan kesejahteraan guru dan staff.
Futurolog (alvin tofler) mengatakan bahwa manusia yang mampu bertahan adalah manusia yang mampu melakukan inovasi. MICis mampu berinovasi secara baik, hal ini di buktikan dengan program madrasah yang setiap tahunnya mengalami perubahan dan perbaikan seperti hal nya dalam program tahfidz yang mengalami peningkatan di setiap tahunnya dan menjadi unggulan utama, kemudian pada bidang ekstrakulikuler yang merupakan sebuah program menuju kemandirian dan kedewasaan peserta didik, sehingga melahirkan peserta didik berdaya guna dan mampu bersaing dimana pun mereka berada dan masih banyak hal lainnya. Ini merupakan Strategy (strategi) MICis!
Dengan pengoptimalan indikator variabel STRATEGI ini, maka MICIs mampu berkembang pesat dan melahirkan ratusan peserta didik yang siap bersaing di manapun mereka berada pada setiap tahunnya, bahkan di sebut-sebut bahwa MICis menempati posisi kedua setelah MI/MWB Cisaat.
Disisi lain, Pengaturan system kerja, komunikasi, wewenang dan tanggung jawab antara sesama guru ataupun staff mampu berkolaborasi dengan baik, sehingga iklim kerjapun sangat kondusip. Pendelegasian tugaspun di lakukan secara berputar sehinggan setiap guru maupun staff mampu belajar dan terjun pada pengalaman yang baru di setiap tahunnya. Ini merupakan Stucture (stuktur) yang di laksanakan di MICis yang bertujuan untuk mencapai sasaran tujuan Lembaga Pendidikan.
Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara demokratis dan dua arah, dimana para guru dapat mengemukakan pendapatnya secara bebas untuk di pertimbangkan oleh pihak management. Proses dan prosedur kegiatan operasional sehari-hari di laksanakan dengan baik oleh semua pihak. Tentunya hal ini menjadi Langkah sebuah System (system) yang di laksanakan oleh MICis.
(Style) Gaya kepemimpinan yang digunakan Kepala Madrasah (Kamad) pada dasarnya adalah managerial delegatif, yang di tahun 2015, Kamad dalam mengatasi gejolak internal secara diskresi mengangkat H Usman Permana, S.Ag sebagai Wakil Kamad merangkap bendahara, dengan kewenangan penuh dalam mensejahterakan semua penyelenggara madrasah yang bahkan ide ide terkait mutu yang menjadikan mutu manajemen MICIs melejit adalah ide wakaseknya ini. Karena dengan kepemimpinan gaya ini, Kamad dapat secara leluasa melakukan PDCA (Plan, Do, Check and Action) secara full of power. Implikasinya, perbaikan perbaikan secara simultan terjadi di setiap program atapun hal lainnya.
Berdasarkan itu, gaya manajerial delegatif yang lebih ke arah kepemimpinan leissez faire dari Kamad ini, merupakan gaya kepemimpinan yang sangat cocok di terapkan pada MICis, karena MICis di nilai mempunyai sumber daya manusia yg mumpuni untuk Kamad berikan delegasi secara penuh.
Dalam Perekrutan Staff dan Tenaga Pendidik, dilakukan seleksi secara ketat oleh pihak manajemen. Kemudian mengikuti sejumlah pelatihan baik yang dilaksanakan oleh manajemen interen ataupun eksteren, MICis juga memperogramkan family gathering di setiap 6 bulan sekali guna menjaga silaturahim dan kesolidan antara management, tenaga pendidik dan staf.
Skill (Keterampilan) yang dimiliki oleh Management, Tenaga Pendidik dan Staff MICis adalah sesuai dengan kompetensi dan kapabilitasnya, sehingga setiap individu mampu berkinerja dengan baik sesuai dengan yang di harapkan sehingga dapat membantu Lembaga Pendidikan dalam mencapai mutu Pendidikan yang lebih baik lagi.
Ke 6s (strategy, structure, sytem, style , staff, skill) yang dimiliki MICis tersebut kemudian dijiwai oleh nilai-nilai dan kode etik di kehidupan madrasah yang merupakan Shared Value yang menjadi panduan perilaku bagi semua stakeholder di lingkungan madrasah. Yang terpang-pang dalam sebuah visi dan misi MICis.
“Kita akan melakukan inovasi menuju ranah digitalisasi, kemudian terus menerus memperbaiki dan meningkatkan kualitas yang sesuai pada era saat ini” tegas Heri Ginanjar, M.Pd sang Kepala Madrasah dengan penuh optimistis.
Simpulan
Dengan demikian penerapan singkat dan sederhana dari metode 7s McKInsey framework, ternyata mampu mendiagnosa sehingga perbaikan secara praksis dan terukur di MICis menjadi relatif mudah dilakukan.
Dengannya maka setiap organisasi Lembaga Pendidikan lainnya pun, hemat penulis, variabel variabel penyusun 7’S nya dapat pula dianalisa secara jitu, sehingga indikator indikator apa saja yang butuh peningkatan akan dengan mudah dioptimalkan secara terukur melalui metode 7’S sederhana ini.
Mari kita budayakan penggunaan the 7’S ini untuk bedah manajerial di tempat kerja kita masing masing. Terutama bagi mereka para pendidik baik sekolah umum binaan Kemendikbud maupun yang di bawah binaan Kemenag. Insya Allah.
“Khoirunas Anfauhum Linnas”
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IMN





