Kembali Pada Jatidiri
Suatu tantangan di era-globalisasi dan perdagangan bebas. Negara tidak bisa berbuat banyak karena sudah dikepung dan terpasung dari hutang luar negeri. Berbagai sudut pandang terutama soal merosotnya moral yang berakibat pada lunturnya fundamental dan nilai kultural, gotong royong serta terkikisnya nilai karakter bangsa yang tangguh.
Kearifan lokal sudah tergerus zaman karena dianggap jadul dan barang rongsokan. Kita dipaksakan harus makan dan mengusah dengan rasa orang-orang Barat. Padahal lidah kita tidak sama, karakter kita berbeda pendidikan keluarga berbeda. Maka menurut saya ICMI harus mampu bersuara dengan lantang di tingkat nasional.
ICMI harus memberikan contoh soal kejujuran, moral dan tidak pernah berkolaborasi dengan program hasil korupsi. ICMI sudah melekat dengan istilah “cendekiawan” dan tentu nilai adiluhung yang bermanfaat dan bermartabat diutamakan.
Dari dulu sampai sekarang masih mengenal Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), Kelompencapir, Saung Tani (Kelompok Tani) juga Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) hingga kini ada BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) zaman Presiden SBY namanya PNPM.
Hal itu merupakan kekayaan di masyarakat yang tentunya masih bisa dilakukan dan dipercayakan di masyarakat kita. Belum lagi adanya pamong budaya, penjaga hutan lindung, hingga ulu-ulu juga ada. Semuanya tumbuh di masyarakat pedesaan.





