Oleh: Apendi Arsyad
Luuaar biaassa, perjuangan keras grup Jaluar (kuyuang bahasa Cerentinya) “Untuang Sakato Tuah Nagori” yang berasal Desa Tanjung (Tg) Medan, Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan-Singingi (Kuansing), Riau. Alhamdulillah, subhanallah telah berhasil merebut juara satu, menjadi pemenang (the winner) pada pesta Pacu Jaluar, berlokasi di tepian Lubuak Saboe, Kecamatan Baserah, pada pertengahan Agustus tahun 2022 ybl.
Event ini dilaksanakan sebagai sarana media “pemanasan” dan kesiapan menghadapi mega event Pacu Jaluar tahun 2022 di Taluk Kuantan, yang rencana penyelenggaraannya pada tgl 21-24 Agustus 2022. Mega event pacu Jaluar ini, diprediksi akan dibanjiri manusia,karena rakyat sedang haus hiburan akibat adanya kebijakan dan aturan PPKM pencegahan pandemi Covid 19. Maklum sudah lk 2 tahun terhenti kegiatan ajang budaya historis (dimulai sejak zaman penjajahan Hindia Belanda), dan melegenda ini, akibat didera wabah/pandemi Covid 19.
Saya mendengar Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori” pada tahun-tahun sebelumnya juga banyak ikut berkompetesi di beberapa event, dan sering pula mendapat juara satu, dua dan tiga. Bahkan sering memperoleh prestasi Juara kesatu (Sang Juara). Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori” dari Kec. Cerenti, sangat diperhitungkan baik kawan dan lawan bertanding.
Selamat dan sukses atas prestasinya Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori” menjadi pemenang: kesatu (the winner). Kita sepatutnya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada para pemainnya (pendayung, tukang “onjei dan ayun”, penimba air, Tetuo adat dan krue Jaluar), tak lupa kepala bpk Kepala dan perangkat Desanya, dan pembina/ penyandang dananya yaitu Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kuansing adinda Zulhendri dkk, yang telah ikut mengangkat harga diri dan martabat (marwah) serta mengharumkan nama nagori dan masyarakat Cerenti (Caghonti) atas kemenangannya itu.
Saya AA perantau asal Cerenti, ikut merasa senang dan berbahagia atas keberhasilan tersebut, walaupun saya menonton event kompetisinya pacu Jaluar, hanya lewat tayangan langsung sarana digital via Youtube. Saya sangat menikmati, dan maaf saya belum berkesempatan hadir langsung di tebing (tobiang) atau tepian sungai Kuantan yang menawan itu untuk menonton pacu Jaluarnya yang begitu banyak.
Saya menonton lewat media digital, berdecak kagum melihat begitu bersemangatnya para peserta pacu Jaluar, ditambah lagi sorakan histeris dukungan para penonton (supporters), terutama dari kaum ibu-ibu (emak-emak, para mondek) dan bujang dan gadis Mereka bersorak- sorai yang berdiri di tepian daerah aliran sungai (DAS) Kuantan yang cukup deras, sambil mengarahkan penglihatannya menatap ke Jaluar kesayangannya, asal desanya, yang sedang melaju kencang di badan sungai Kuantan. Dengan posisi bersikuat untuk meninggalkan lawannya.
Berbagai pola perilaku, gerak-gerak (gusture) dan gaya spontan dari kaum supporters terlihat tampak jelas, heboh, ada mereka naik ke dahan dan batang pohon, sambil bergoyang-goyang. Ada pula mereka para penonton yang menari-nari karena luapan emosi kegembiraannya. Dan ada pula para penonton pendukung berat (maniak, fanatik) Jaluarnya kemudian keluar menjadi pemenang, mereka menceburkan diri ke air sungai Kuantan yg jernih itu, sehingga badannya pun basah kuyup.
Mereka ada juga yang menonton, berendam di air sungai Kuantan, ketika Jaluar kesayangannya menang, kemudian mereka menciprat-cipratkan air ke udara atau antar sesama penonton secara beramai-ramai, sambil meneriakan yel-yel keriang-gembiraan tertentu dan bersorak-sorai.
Begitulah asyik dan senang gembira para penonton budaya tradisional mega event Pacu Jaluar masyarakat Rantau Kuansing, yang jarak posisi nagorinya sekitar jaraknya lk 200 km di bagian selatan Kota Pekanbaru Provinsi Riau.
Pelajaran apa yg bisa ditarik dan bisa dipetik (lesson learned) dari acara budaya masyarakat adat Pacu Jaluar/Kuyuang terutama bagi pemenang Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori” yang sukses menjadi juara satu pada event pacu jaluar di topian Lubuak Saboe Kec.Baserah, Agustus thn 2022 baru-baru ini, adalah sbb:
- Bahwa kualitas sumberdaya manusia (sdm) yang terlibat dalam mendayung perahu Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori”, yang handal. Mereka memang memiliki staminanya yang luar biasa kuatnya, tidak ada capek dan lelahnya sehingga tenaganya tak berkurang (melemah) tidaklah sampai terjadi. Beberapa hari pendayung Jaluar itu berlaga tanpa henti (jeddah), berlomba selama 3 atau 4 hari berturut-turut. Artinya tingkat kesehatannya mereka pendayung sangat sehat dan kuat dengan derajat kesehatan sungguh baik dan prima. Jauh hari memang mereka rutin berlatih serius dengan tetap menjaga pola makan dan pola istirahat.
Saya mendapat cerita bahwa setiap grup peserta pacu Jaluar, mereka membuat tenda-tenda (camp) khusus untuk berkumpul membangun kebersamaan (bergotong royong) antar sesama-sekampung bahu membahu, beristirahat di tenda bagi para pendayung, menikmati makanan-minuman yang lezat dan bergizi yang disiapkan oleh kaum ibu (omak-omak/para mondek, tentunya juga dibantu kaum bujang dan gadi di dapur umumnya atau membawa nasi-lawuk pauk berbungkus (bungkui) dari kampuang. Atau tenda-camp ini juga sebagai tempat memberikan arahan dan nasehat (petuah) dari pemimpin delegasi, tokoh masyarakat yang arif-bijaksana (batuah).
- Dalam memacu perahu Jaluarnya agar mendapatkan kecepatan melaju yang tertinggi (tercepat) untuk melampaui lawannya, maka barangtentu selain mereka para pendayung dituntut berstamina baik sebagaimana disebutkan point satu diatas, juga adanya jiwa dan semangat kebersamaan dan kekompakan sosial (social solidarity and cohesion, seiya-sekata bahasa Continya “sakato”) dengan perasaan hati dengan “chemistry” (tuah) yang kuat, sehingga masing-masing dayungnya berjalan serempak dengan irama yang sama (sakato) gerak dayungnya. Mereka punya semangat dan tekat perjuangan (petarung) yang kuat, sikap mental tanpa kenal menyerah, pikiran satu (fokus) ke pancang akhir, perasaannya sehati untuk sukses memenangkan perlombaan atau persaingan yang sangat ketat dan seru tersebut.
Lihat saja ketika sepasang Jaluar yang sangat panjang berlomba, yang berisikan 30-45 orang pendayung, jarak selisihnya antara perahu dari ujung jalur ke arah titik finish hanya sedikit alias cukup pendek. Dalam hal ini hampir jarang kita temukan Jaluar/Kuyuang yang berlomba yang jauh tertinggal dan atau jaluarnya ikut karam diterjang arus air sungai Kuantan yang dalam. Disaat-saat bersaing sengit inilah pihak supporters menjadi girang, tegang, cemas dan berteriak histeris untuk menyemangati Jaluar jagoannya.
Barang tentu kita melihat Jaluar “Untung Sakato Tuah Nagori” menang dan menjadi Sang Juara, kita merasa senang, salut dan mengapresiasi kepada para kontestan, petarung dari sejumlah desa atau komunitas yang ikut menjadi peserta pacu. Mereka pimpinan delegasi memang hebat-hebat dan serius mengorganisir tim dayungnya dengan baik (well organized). Hal ini pertanda manajemen dan kepemimpinan Desa Jaluarnya hebat (kreen dan mantul), dan atau komunitas masyarakat pendukung pacu Jaluar di Rantau Kuansing sangat baik kerja sama antar tokohnya: tokoh pemerintahan Desa (Kades) bersama tokoh masyarakat (tokoh pemangku adat, ulama/ustadz, cendekiawan dan pemudanya) dan warga masyarakatnya.
Hal ini sesuai dengan pola budaya masyarakat adat-istiadat Kuansing, dengan istilah dan moto TTS: “Tigo Tali Sapilin” dan kemudian diiringi kata-kata “Salam Kayuah’. Kemudian moto itu dijadikan yel-yel periklanan, promosi dan kata akhir sambutan pejabat Pemerintahan Kuansing dan Riau, sambil kedua tangannya bergerak kesamping pinggang bagian kiri dan tersenyum bahagia.
Memang untuk memastikan jawaban hipotesa itu, bahwa ada hubungan tingkat kemampuan kepemimpinan Kepala Desa dengan keberhasilannya berkompetisi dalam acara dan ritual budaya pacu Jaluar. Saya menyarankan bahwa perlu dilakukan penelitian, sehingga kita bisa membuktikannya bahwa faktor-faktor apa saja yang menentukan kesuksesan tersebut?. Hasil penelitian itu nanti, kita harapkan bisa memetik pelajaran (lesson learned) untuk menentukan strategi dan taktis untuk peningkatan fungsi dan peranan budaya pacu Jaluar untuk kemajuan nagori Kabupaten Kuansing.
Dengan motivasi kecintaan terhadap kampung halaman, saya pernah juga menulis 1-2 tahun yang lalu di medsos Amanah News Pku dan Lead.co.id tentang reformasi tata kelola “mega event Pacu Jaluar” Kuansing, dengan memberikan saran, pemikiran dan rekomendasi untuk kesuksesan pacu Jaluar dalam membangkitkan perekonomian rakyat Kuansing dan mendongkrak pendapatan asli daerah (PADS) yang masih minim, harapannya bisa mendatang wisnu dan wisman di Rantau Kuantan.
- Keberhasilan memenangkan juara satu pacu Jaluar oleh “Untuang Sakato Tuah Nagori” tersebut, bisa dipastikan ditentukan faktor konstruksi, bangunan fisik Jaluar yang dirancang dan dibuat oleh para tukang yang berkeahlian dan juga pilihan bahan material kayunya baik kualitas maupun ukurannya (logging size).
Bentuk konstruksi fisik Jaluar sangat menentukan tingkat kecepatan perahu menghadapi arus di badan sungai. Juga pilihan material kayu untuk membuat perahu panjang Jaluar (kuyuang) diambil di kawasan hutan tropik Riau, “Rimbo Sialang”, dengan tata cara budaya adat dan ritual-ritual warga masyarakat adat dengan kekuatan “spiritual” (magic power).
Kalau saya boleh berpendapat Desa asal Jaluar (kuyuang, bahasa Caghonti) “Untuang Sakato Tuah Nagori” adalah berasal dari Desa Tanjung (Tg) Medan. Desa Tg Medan merupakan pemekaran Desa Sikakak yakni bagian “kapalo/ujuang Desa Sikakak” dan ditambah daerah Danau Sikuran, memang sejak dahulu daerah ini sudah terkenal banyak terdapat “orang pandai-batua” para “tokoh spiritual”, istilah orang awaknya disebut “dukun” dan “pawang”. Itu kejadian doeloe, saya tidak tahu sekarang, apakah masih demikian ? Wallahuaklam bissawab.
Untuk membicarakan kepandaian dan ketangguhan “spiritual” tokoh masyarakat Desa Sikakak, maka izinkan saya bernarasi sekilas. Doeloe pqda era tahun 1970an, ketika menikmati hidup semasa remaja di kampuang-kampuang Kecamatan Cerenti.
Saya atau sebagian besar kita banyak mendengar seperti legenda bahwa Desa Sikakak memiliki “kesaktian”. Misalnya saja, saya masih ingat ketika semasa kecil doeloe, menonton pertandingan sepak bola yang “seru” antar kesebelasan Desa dalam rangka memeriahkan dan memperingati HUT RI, maka kesebelahan Desa Sikakak sulit dikalahkan. Hal ini disebabkan pihak lawannya sulit menjebol gawang kesebelasan Desa Sikakak, ketika bola ditendang keras ke mulut gawangnya, kemudan bola terkadang melenceng ke atas atau kesamping gawang kesebelasan Desa Sikakak.
Begitulah hebatnya “kesaktian” ilmu kebatinan para tokoh masyarakat adat Desa Sikakak cukup kuat, yang saya saksikan di masa itu selaku penonton sepak bola di kampung. Saya pun tidak tahu lagi untuk situasi era millenial sekarang, apakah masih diamalkan hal demikian? Wallaahua’lam bissawaab
Pokoknya kita salut, berdecak kagum atas prestasi yang diraih Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori” sering menjadi pemenang pacu Jaluar dalam sejumlah event di Rantau Kuansing Provinsi Riau.
Mudah-mudahan Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori” bisa memenangkan pacu Jaluar bergensi, yang sudah masuk agenda event pariwisata nasional, diselenggarakan di tebing ‘Narosa” sungai Kuantan, Kota Taluk Kuantan Riau pada tgl 21-24 Agustus 2022 besok, yang rencananya akan dihadiri Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, bpk Santiaga Uno, Gubri, Bupati, unsur Forkopinda, dan para pejabat lainnya.
Sungguh menarik dan begitu banyak manfaat acara budaya pacu Jaluar ini, selain memberikan hiburan berbiaya murah bagi rakyat, mengungkit dan membangkitkan perekonomian daerah, juga diharapkan bisa memperkuat persatuan dan kesatuan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (nasionalisme, cinta negara) untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya nagori Pacu Jaluar yang batua Kuansing Riau.
Jangan lupa pelestarian ekosistem hutan Rimbo Sako atau Rimbo Bujang untuk menjaga kesinambungan dan keberlanjutan (sustainability) kegiatan Pacu Jaluar yg historis dan melegenda ini. Pelestarian ekosistem hutan (forest ecosystem conservation), dengan melarang menebang habis dan membakar vegetasi hutan harus dilarang keras, karena ekosistem hutan adalah tempat dan sumber utama (habitat) bahan baku pembuatan Jaluar/Kuyuang.
Saya menyambut baik adanya Perda Kabupaten Kuansing untuk melarang penebangan pohon kayu dan atau membakar ekosistem hutan yang dilindungi. Pemkab Kuansing secepatnya merevisi dokumen Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) atau Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kab.Kuansing untuk memperluas areal hutan lindung sebagai sumber bahan baku (raw material) pembuatan Jaluar, perahu panjang dengan konstruksi spesial “unik dan estetik”. Selamatkan ekosistem hutan Rantau Kuantan dari kehancuran sejak sekarang demi keselamatan anak-cucu kita.
Demikian narasi ini dibuat sesungguhnya untuk mengenang dan menghargai keberhasilan the winner Jaluar “Untuang Sakato Tuah Nagori” asal Cerenti, semoga bermanfaat. Ingat moto Kuansing “Tigo Tali Sapilin”. Salam Kayuah.
Bogor, 19 Agustus 2022.
Penulis adalah Pendiri-Dosen/Assoc Profesor Universitas Djuanda Bogor; Pendiri-Ketua Wanhat ICMI Orwil Khusus Bogor, Pendiri-Ketua Dewan Pembina Yayasan Arsyada Cerenti Madani, dan Pegiat/ Pemerhati Sosial, orang asal Cerenti kini bermukim di Ciawi Bogor





