Oleh: Dr Apendi Arsyad
Yth Adinda Zulhendri yg baik hati, anggota DPRD dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kuansing. Terima kasih atas berbagai informasi dikirim kepada abang, terutama tentang besarnya curahan dana APBD Kuansing untuk pembangunan daerah, khusus peruntukannya pembangunan sapras fisik (infrastruktur) sosial di daerah kita Cerenti.
Terima kasih atas ikhtiar dan perjuangan adinda dkk di lembaga legilatif, semoga Allah SWT mencatat sebagai amal soleh dengan pahala yg berlipat ganda. Amin-3 YRA. Terus terang abang bangga dengan kiprah adinda dan karier politiknya cukup.cemerlang, semoga pada waktu-2 mendatang masih diberi amanah dan dipilih rakyat Kuansing. Amin YRA.
Oh ya itu, abang mau bertanya? Apakah gambar-2 gedung yg pernah posting ke saya beberapa hari lalu itu. Apa itu rencana pembangunan sekolah Muhammadiyah Cerenti ? dan akan dibangun di lokasi bekas Sekolah Muaalimin Muhammadiyah Cerenti tempo doeloe ?
Kami telah mewacanakan untuk membangun kembali seperti arsitek gedung tempo doeloe. Jadi kalau ada rencana tersebut kita berupaya merancang/ membuat bangunan fisik kembali (reflikasi) Gedung Muhammadiyah Cerenti thn 1930an, Apa bisa adinda Zulhendri? Saya berharap.bisa dievaluasi ulang DED yang sudah ada.
Saya tadinya tidak tahu bahwa gambar-gambar yang dishare ke abang dulu itu, abang pikir di lokasi lain, bukan di bekas lahan Muallimiin Muhammadiyah Cerenti yang ada di Kelurahan Koto Peraku sekarang.
Abang ada ide dgn kawan-2 di forkom Sosmed Cerenti dan forkom IKKS se Indonesia, khususnya para dunsanak di kampuang Cerenti. Bahwa gedung-2 pendidikan dan dakwah Islam “haritages” warisan budaya lama kita renovasi kembali sebagaimana bentuk asalnya (aslinya), jika bangunan masih ada berdiri. Jika hilang runtuh ya dibangun kembali.
Seandainya, jika sdh hilang, kita bangun kembali (rekonstruksi) berdasarkan nilai sejarahnya karena begitu berharga kejayaan peradaban masa lalu bagi kita generasi sekarang dan yad untuk marwah nagori Cerenti. Hal ini akan mengingatkan peradaban masa lalu di bidang pendidikan Islam dibewah misi dakwah Muhammadiyah sebelum Kemerdekaan RI sdh ada kiprahnya.
Saya juga prihatin mengapa Dinas Kebudayaaan baik di Provinsi dan bahkan Pemkab Kuansing kok sampai lengah dan kurang peduli dengan pelestarian warisan budaya ini. Padahal program pelestarian warusan budaya ini ada program nasionalnya di Kementerian dan dana APBN yg digelontorkan cukup besar. Harapan kita aparat birokrasi Pemkab Kuansing proaktif, rajin “manjuluak”, “manggoge” sumber dana-2 APBN di Jakarta dgn strategi dan pendekatan mendayagunakan wakil rakyat (DPR RI) dapil Kuansing yang bertugas di senayan Jakarta atau di Kementerian dan Lembaga Negara.
Soal lobby-lobby negoisiasi cara begini nampaknya sangat kurang dilakukan dan “tumpul”, makanya diajaklah para “diaspora” perantau Kuansing di Jabodetabek yang paham perilaku birokrasi pusat untuk mendampingi para pejabat Kuansing, agar sampai buah yang dijuluak itu jatuah ka tanah (berhasil APBN diperoleh) untuk membiayai proyek-proyek fisik yang berskala nasional dan regional.
Termasuk yang abang sesali dan terus abang “teriakan” tentang bantar sungai (tobiang) sudah lama berpuluhan tahun dibiarkan longsor (runtuah) dan jalan raya Pku-Rgt-Padang mau putus terletak di lokasi Desa Kampung Baru Timur hingga sekarang tidak dipedulikan.
Semoga sekarang sudah ada perhatian terhadap rehabilitasi bantaran sungai longsor (tobing ruantuah) DAS Kuantan !!!, jika tidak ada perhatian maka Desa-2 di sekitar pusat pemerintahan Kecamatan Cerenti bisa punah, jalan raya nasional pun putus dan membangunnya kembali akan membutuhkan dana yang sangat besar.
Untuk soal pembangunan sarana pendidikan Muhammadiyah Cerenti itu, saya mohon bantuan add Zulhendri/Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kuansing Riau mengajak kawan-kawan legislatif (DPRD) dan Tokoh masyarakat (Pemerintah dan Adat) mulailah kita berpikir hal pelestarian warisan budaya tersebut. Apa yang melandasi gagasan-2nya, bisa dibaca tulisan-2an saya yang telah diposting di forkom WAG IKKS dan khususnya di medsos Amanahnews Pku dan Lead.com. id Kota Bgr. Saya berusaha menulis demi kemajuan nagori Rantau Kuansing.
Kita sudah saatnya meningkatkan sinergi mutualistik antar kita elemen masyarakat Kuansing dalam membangun marwah nagori, terutama terlibatnya para ilmuan/pakar/cerdik pandai yg paham ilmunya, para ulama nasehat-2 moralnya dan para tokoh masyarakat serta pimpinan adat. Walaupun tugas koordinasi dan sinergi tidaklah mudah memang, penuh tantangan tapi untuk menggelar “public hearing” bersama para pemangku kepentingan (stakeholders) itukan kewajiban DPRD !.
Kita sudah agak banyak “kecolongan” dan lengah, misalnya sebut saja rehabilitasi bangunan Tugu Perjuangan Cerenti yang ada di simpang 3 jalan pasar Cerenti saja sdh jauh diubah bentuk fisiknya yg lepas dari nilai-2 sejarah aslinya, lokasi itu doeloe.
Saya masih ingat kata almarhum ayahku H.Arsyad bin Kahar lokasi simpang 3 itu adalah tempat pertempuran sengit para pejuang kemerdekaan RI dengan tentera penjajahan Belanda/KNIL, dan banyak korban nyawa diantara kedua belah pihak. Moga-2 tugu pahlawan Cerenti direkontruksi kembali dengan arsiteknya ada relief dan narasi perjuangannya.
Juga nasib gedung Sekolah Muallimin Muhammadiyah Cerenti dan rumah “Raja Tuo Adat Melayu Cerenti” yang terletak di Desa Koto (samping Masjid Jamiak Koto Cerenti) juga nasibnya sama, sudah runtuh (hilang) dan bahkan dihilangkan jejak warisan sejarahnya dan sebenarnya banyak lagi yg lain, yang kita cukup memprihatinkan apabila melihat dan mendengarnya punah warisan budaya (harritages) tersebut.
Barangkali, hal ini terjadi akibat ketidakpedulian kita selama ini, dan mungkin juga sialnya karena “kebodohan” (jahilliah, foolishness) kita, kurang informasi tentang sejarah masyarakat bangsa. Padahal daerah-2 lain yang sudah maju, mereka sudah meng-implementasi-kan pelestarian warisan (herritages) budaya tradisional dalam pembangunan daerah mereka seperti yg dikerjakan di kabupaten dan kota di daerah pulau Jawa.
Harapannya, mudah-2an ke depan kita tidak mengulangani lagi. Marilah kita saling berpartisipasi, terbuka dan bertanggungjawab (participation, transfarancy and accountable) dalam setiap urusan rakyat (public), khususnya setiap rencana pembangunan fisik, dimana dalam dokumen “Detail enggeering desaign” (DED) sudah ada program dan misi pelestarian nilai-2 budaya tersebut. Itu harapan saya karena dimensi pembangun daerah haruslah ramah dgn pola kebudayaan masa lalu dan kejayaan peradaban yg dulu pernah ada oleh leluhur (para pejuang) kita, demi menjaga marwah negeri (dignity).
Terima kasih atas perhatiannya dan abang mohon maaf agak terlambat membalas isi pesan WA japri adinda yg begitu panjang. Saya kira itu bagus, sehingga abang tahu cerita dan informasi yg sebenarnya.
Selamat mengabdi dan berjuang dalam memajukan dan mengangkat marwah nagori Rantau Kuansing. Syukron barakallah.
Ingat moto Kuansing, “Basatu nagori maju, Tali Tigo Sapilin”. Salam Kayuah (maju torui, jalan di tompek, apalagi mundur itu calako namonyo).
Penulis adalah Org Cerenti mukim di Ciawi Kawasan Puncak Bogor, pendiri- Dosen UNIDA Bogor dan Pemerhati Sosial serta aktivis Ormas di Bogor dan Nasional





