Transformasi Sistem Budaya dan Adat Istiadat Cerenti Kuansing

oleh -867 views
Transformasi Sistem Budaya, Adat Istiadat, Cerenti, Kuansing, Apendi Arsyad
H. Edward Arfa SH (bersarung) dikelilingi para Tokmasy Cerenti, Kuansing, Riau, pada Jumat 26 November 2021

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Karena kesibukan yang teramat padat di akhir tahun menjelang Desember 2021, dengan kegiatan konsultan sebagai Tenaga Ahli P3PD Ditjen Bina Pemdes Kemendagri, meeting dan berdiskusi dari hotel ke hotel. Maka hampir terlewatkan informasi momen yang sangat penting, yaitu ternyata ada 5-6 orang Tokoh masyarakat dengan berbagai latar belakang profesi di Cerenti, berkesempatan telah bertemu dan bersilaturrahmi dgn ongaku H. Edward Arfa SH (ongaku EA) di rumahnya di Kelurahan Koto Peraku Kec.Cerenti Kuansing, yang sdh berlangsung 1atau 2 hari lalu.

Saya mengucapkan terima kasih kpd abang Syaf yang telah memposting fhoto onga EA bersama para Tokoh masyarakat. Dalam gambar tersebut, saya melihat dan sosok yang sangat kenal seperti abang H.Syafrizal Syafii, guru dan mentorku sewaktu remaja (“masa bocah”) doeloe di kampung Desa Kampung Baru Cerenti.

Abang Syaf juga seorang budayawan dan seniman yg produktif dan kreatif, mukim di Cerenti yang memiliki sanggar seni, yang buah karyanya begitu banyak seperti kumpulan puisi, lukisan dan skenario drama (teater) Bang Syaf termasuk sosok langka yg dimiliki Kuansing. Beliau, bang Syaf sdh banyak mendidik dan mengkader anak muda dalam pengembangan seni budaya. Bahkan bang Syaf telah berhasil mengkader putrinya Rose menjadi seniman teater seperti bapaknya, dan banyak mendapat penghargaan.

Jika saya berada di kampung, abang Syaf selalu menyempatkan diri bertemu di rumah orangtuaku atau saya bertamu ke rumahnya yang antik dan artistik, maklum rumah seniman, dan atau kongkoy2 di kedai kopi di pasar Cerenti lebih sering terjadi. Kami mengobrol ngaro-ngidul sambil ngopi-ngopi.
Ngopi di kedai kopi “haylam” sungguh nikmat dan mengesankan bisa saling sapa sama teman2 lama di SD dan SMP serta MI Muhammadyah yang sdh lama tak berjumpa. Cerita nostalgia kehidupan tempo doeloe yg mengasyikan. Begitulah jika bertemu dengan bang Syaf.

Di gambar postingan itu saya lihat juga disamping kiri ongaku EA yakni ibu Hj.Rohanim. Beliau guruku yang cakep penuh semangat mendidik murid2nya di SMPN Cerenti, terutama mata pelajaran PKK pada thn 1973-1976. Ibu guruku ini yang banyak mengajarkan dan mendidik saya soal etika bergaul dan sopan-santun dalam kehidupan keluarga dan bergaul di masyarakat.

Baca :  Display Sejarah ICMI di Arena RPD-MPW ICMI Bogor 2020

Kemudian ada juga saya lihat di gambar abang Nopezer, beliau seorang tenaga kesehatan, perawat di Puskesmas Cerenti Kuansing, sekarang kemungkinan sdh pensiun, terakhir beliau berkomunikasi dengan saya bahwa anak gadisnya berkarier di militer, kini sedang bertugas di Koppasus Cilangkap Jkt.

Tampak juga di fhoto sahabatku Ir.Asriadi tokoh Muhammadyah Cerenti yg menggerakkan roda pendidikan (Kepsek) SMK dan Madrasyah Ibtidaiyah Muhammadyah Kec. Cerenti. Saya tahu, karena saya jika pulang ke kampung, beliau selalu mengundang saya berceramah “studium general” di sekolah Muhammadyah ini.

Jujur dan salut saya sampaikan, serta rasa kagum saya dgn sahabatku yang satu ini. Ir.Asriadi, tokoh muda jebolan Fakultas Perikanan Universitas Riau Pku thn 1985an, orang yang mau pulang (baliak) ke kampung untuk mengabdi, dan mampu berjibaku, berkorban, mendampingi dan memimpin organisasi Muhammadyah dan Lembaga Pendidikan Muhammadyah serta Ketua DKM Al Mukmin Desa Kp Baru Cerenti dalam upaya untuk memajukan pendidikan masyarakat dan dakwah Islamiyah di nagori Cerenti. Sebuah kejadian atau fenomena sosial yang teramat langka kita temukan selama ini. Dengan kata lain, amat jarang putra putri asli Cerenti yang berhasil tammat pendidikan Sarjana di rantau orang, kota besar, kemudian pulang ke desanya, sangatlah jarang sekali.

Ir. Asriadi bin Usman yang saya kenal seorang sosok dan vigur yang berperan dan berhasil membangkitkan “batang tarondam”, sebuah istilah dalam makalah saya, yang disampaikan dalam event Seminar Budaya dan Adat Istiadat Masyarakat Cerenti, tgl 3-4 Maret 2003 di pasar Cerenti.

Di gambar ada juga, jika saya tak keliru melihatnya abang kita Sabran, tokoh sejarahwan yang banyak menulis Tombo Alam Cerenti. Beliau abangku ini, jika saya pulang dan berada di kampung, sering menemui saya untuk berdiskusi dan terkadang memberikan oleh-oleh bahan2 berupa fhoto copy tulisannya tentang sejarah dan budaya Cerenti. Untuk mengenang jasanya sebagai narasumber budaya dan adat etnis Melayu Cerenti, ongaku EA, pengarang buku “Mendulang Butir2 Budaya dan Adat Istiadat Masyarakat Cerenti Kuansing”, 221 halaman, penerbit IPB Press bekerjasama Yayasan ACM, ongaku EA menampilkan fhoto bang Sabran dalam lampiran bukunya. Selanjutnya, saya memohon maaf seorang lagi yang bersilaturrahmi dengan ongaku EA, saya lupa namanya, maklumlah sudah lama merantau di negeri orang, dan meninggalkan kampung halamanku sejak thn 1976.

Baca :  Ingat Kematian Manusia: Milad 66 Tahun Usiaku

Para tokoh masyarakat Cerenti yang saya ulas siapa mereka, yang sudah bersilaturrahmi dan bersua tatap muka dengan ongaku EA. Barangtentu momen yang langka ini sangat bermanfaat dalam mentransformasikan sistem nilai dan norma2 budaya adat istiadat masyarakat Cerenti, yang kini mulai dilupakan generasi muda Cerenti, dan akhirnya telah memudar serta berkarat (korosi) tidak lagi menjadi pedoman hidup (way of life) segenap warga masyarakat Cerenti.

Faktanya begitu banyak kasus2 dan permasalahan sosial yang terjadi di kampung-kampung/desa saat ini seperti sengketa tanah warisan dalam keluarga, pertikaian antar masyarakat desa akibat kesalahpahaman, perzinahan akibat pergaulan bebas kaum muda-mudi, perjudian, maraknya pemakaian/konsumsi narkoba dan miras, pencurian hewan ternak dan tanaman, rusaknya hubungan anak dengan kemenakan akibat kurang bahkan tidak saling mengenal dan menghargai, pudarnya budaya gotong royong dan saling tolong.menolong (batobo), lemahnya peran.dan fungsi Lembaga Adat akibat rendahnya mutu SDM para pemangku adat dan lain-lain.

Alhamdulillah, ongaku EA telah melakukan studi, kajian yang mendalam mengenai pola budaya dan adat Istiadat Masyarakat Cerenti ini, kemudian membukukannya setelah dilaksanakan seminar Adat thn 2003 di Cerenti yang dihadiri Bupati, DPRD, pejabat Pemerintahan/Dinas, para tokoh masyarakat Cerenti se Indonesia. Dengan adanya karya intelektual ongaku EA tersebut wajar dan selayaknya dipahami Pola Budaya dan Adat istiadat Masyarakat Cerenti untuk diajarkan di diinternalisasi sistem nilai dan norma kepada warga masyarakat oleh para tokoh masyarakat yang berkesempatan hadir di rumah ongaku EA untuk mendengarkan wejangan lk 1,5 jam dari beliau.

Saya berharap dan optimis, jika masyarakat Cerenti tetap patuh dan taat pada ketentuan adat istiadat yang diwariskan pada leluhur kita Caghonti, insyaAllah kita bisa memperbaiki diri, mengoreksi tata kehidupan yg salah, sesat dan menyesatkan selama ini, kembalilah ke jalan yang benar. Jangan lagi melanggar aturan adat baik dalam keluarga, bertetangga dan masyarakat serta hidup berpemerintahan dan bernegara.

Ingat konten adat istiadat etnis Melayu Cerenti berlandaskan Al Quran dan Assunnah Rasullullah Muhammad SAW..yakni “Adat bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah”.

Baca :  Tafakkur 62 tahun Usiaku

Adat istiadat Cerenti adalah jalan keselamatan baik hidup di dunia maupun akhirats. Oleh karena itu seharusnya kita sejak sekarang mulailah mengajar dan mendidik (mentransformasikan) pada generasi penerus dan generasi muda Cerenti, dengan memanfaat berbagai wadah dan jalur yang ada di masyarakat, terutama di Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD), Lembaga Adat, sekolah2, majelis taklim, pengajian di surau dan mesjid dll. Terutama yg menjadi fokus sasaran pembinaan adalah penguatan Lembaga Kemasyatan Desa (spt PKK Desa, Karang Taruna, Posyandu, LPM desa, BUMDes), Badan Perwakilan Desa (BPD) dan peningkatan kapasitas Lembaga Pemangku Masyarakat Adat (LPMA) beserta para pemangku adat (Kepala Suku dan ughang Godang) Cerenti itu sendiri, harus diberdayakan.

Mereka para Kepala Suku harus mau dan mampu meningkatkan kapasitas sumberdaya manusianya (sdm tokoh adat) dengan mau belajar pola budaya dan adat istiadat Masyarakat Cerenti Kuansing, dan membaca buku yang sudah ada bukunya yang dikarang ongaku EA. Pahami dan kuasai dengan baik apa dan bagaimana isi etika/moralitas, akhlaqulkarimah dan aturan-aturan adat yg tercantum di dalam buku tersebut. Kemudian diterapkan secara perlahan, dan ditaati bersama segenap warga masyarakat agar hidupnya berkebudayaan dan berperadaban maju, serta hidup beradat istiadat di dalam segala aspek dan dimensi kehidupan: ipoleksusbudhankam dalam wadah NKRI yang berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.

Saya mencatat bahwa kehadiran para tokoh masyarakat Cerenti menemui ongaku EA untuk menerima saran dan nasehat (wejangan), saya memaknai telah berlangsung proses transformasi dalam rangka menjaga dan mengawal pelaksanaan aturan2 adat- istiadat Cerenti agar tetap lestari dan berkelanjutan. Istilah penyanyi etnis Melayu Iyeth Bustami dalam salah satu bait syair lagunya:
“Budaya Melayu tak lah kan lekang di zamannya, dan tak lah kan hilang Melayu di bumi”.

Syukron barakallah Amiin3 YRA.
Moto Kuansing: “Tigo tali sapilin”, salam kayuah.. go a head !. Wassalam

 

Penulis adalah Pemred Buletin Canang IKC/Ketua Umum IKC Se.Jabodetabek 2002-2019; Dosen (Assoc Profesor) dan Pendiri Univ.Djuanda Bogor, Pendiri dan Ketua Wankar ICMI Orwilsus Bogor, Ketua Majelis Pakar Dekopinda Kab.Bgr; Wakil Ketua Wantim Kadin Kab.Bogor; TA Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD) Ditjen Bina Pemdes Kemendagri, etc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *