Jakarta,- PT Aneka Tambang Tbk (Antam) resmi mengumumkan pembangunan Giga Factory baterai berkapasitas 20 GWh per tahun di Sorowako, Sulawesi Selatan. Proyek ini menjadi bagian dari strategi besar hilirisasi nikel dan transformasi industri energi bersih nasional. Fasilitas tahap pertama dengan nilai investasi sekitar US$ 500 juta ditargetkan beroperasi pada 2027, dan akan diperluas menjadi 50 GWh pada 2030.
Langkah Antam ini selaras dengan Perpres 55/2019 tentang percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dan mendukung rencana jangka panjang pemerintah dalam membangun kemandirian teknologi baterai lithium-ion di dalam negeri. Proyek juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Proyek ini mencakup seluruh rantai nilai baterai, mulai dari penambangan nikel matte hingga produksi sel baterai. Antam telah mengantongi dokumen AMDAL sejak 2014, IUP sejak 2017, serta izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) sejak 2015. Dari total konsesi 13.000 hektare, baru 130 hektare yang dibuka, dan lebih dari 50 persen telah direklamasi sebagai bentuk kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menyambut baik langkah strategis ini dan menilai Antam telah mengambil peran sebagai pionir dalam transisi energi nasional. “Ini bukan sekadar investasi, tapi lompatan geopolitik yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menambang, tetapi juga memproduksi dan mengendalikan ekosistem energi masa depan,” ujar Romadhon, kepada awak media, Senin (30/6/2025) di Jakarta.
Antam juga menjalin kemitraan dengan perusahaan global seperti CATL (China) dan LG Energy Solution (Korea Selatan) untuk pengembangan teknologi, serta membuka peluang ekspor baterai ke pasar Eropa dan Amerika Utara. Kerja sama ini diyakini akan memperkuat transfer teknologi dan membuka akses pada pasar premium.
Proyek ini juga dirancang untuk menyerap ribuan tenaga kerja lokal, termasuk melalui pelatihan vokasi dan pengembangan UMKM penunjang. Infrastruktur dasar seperti listrik 24 jam, pelabuhan, dan konektivitas jalan menjadi bagian dari rencana integrasi kawasan industri baterai di wilayah timur Indonesia.
Romadhon menegaskan pentingnya keberpihakan pada masyarakat lokal dalam setiap langkah hilirisasi. “Hilirisasi yang adil adalah ketika masyarakat di sekitar tambang dan pabrik juga menikmati manfaatnya—dari pekerjaan hingga pelatihan dan akses layanan dasar,” imbuhnya.
Untuk memastikan keberlanjutan, pemerintah juga didorong memperkuat integrasi kebijakan lintas sektor melalui dashboard izin online, audit independen berkala, dan forum partisipasi publik. Romadhon menekankan bahwa keterbukaan data dan dialog dengan masyarakat akan menjadi penentu keberhasilan transformasi industri strategis ini.
“Antam telah menunjukkan arah yang benar. Sekarang tugas kita bersama memastikan semua elemen pendukung—regulasi, pengawasan, dan keadilan sosial—berjalan seimbang demi kedaulatan energi nasional,” tutup Romadhon.





