JAKARTA (LEAD.co.id) – Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas telah resmi mengukuhkan Majelis Masyayikh, di Auditorium HM Rasjidi, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (30/12/2021). Majelis Masyayikh terdiri dari sembilan kyai yang dipilih oleh Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).
Menag Yaqut mengatakan, Majelis Masyayikh merupakan bentuk dari rekognisi negara terhadap kekhasan pendidikan Pesantren melalui proses penjaminan mutu yang dilakukan dari, oleh, dan untuk pesantren.
“Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren mengamanatkan terbentuknya Majelis Masyayikh sebagai instrumen penting guna mewujudkan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Pesantren,” kata Yaqut.
Adapun sembilan nama yang dikukuhkan sebagai anggota Majelis Masyayikh periode 2021-2026 yaitu:
1. KH. Azis Afandi dari Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ahli tafsir dari Tasikmalaya ini dikenal sebagai salah satu santri Kiai sekaligus pahlawan nasional asal Sukamanah KH Zaenal Musthofa.
2. KH. Abdul Ghoffarrozin, M.Ed dari Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah. Kiai yang akrab disapa Gus Rozin ini menguasai bidang fiqih, ushul fiqih, serta manajemen pendidikan. Ia juga menyelesaikan pendidikannya di Monash University.
3. Dr. KH. Muhyiddin Khatib dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Selain sebagai pengasuh pondok, KH Muhyidin Khatib juga merupakan salah satu guru besar di Ma’had Aly Situbondo. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di IAI Ibrahimy Sukorejo.
4. KH. Tgk. Faisal Ali dari Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Aceh Besar, Aceh. Ulama asal Aceh Besar ini merupakan salah satu ahli bidang sejarah dan peradaban Islam.
5. Nyai Hj. Badriyah Fayumi, MA dari Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Bekasi, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai salah satu mufasir perempuan Indonesia. Ahli keilmuan bidang hadits ini menempuh pendidikan formalnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
6. Dr. KH. Abdul Ghofur Maimun dari Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Putra dari KH Maimun Zubair atau Malah Moen. Dia pernah menempuh pendidikan di Madrasah Ghozaliyah Syafiiyah (MGS), kemudian melanjutkan pendidikan sarjana hingga doktoral di Universitas Al-Azhar
7. KH. Jam’an Nurchotib Mansur atau yang akrab dikenal dengan nama Ustadz Yusuf Mansur dari Pesantren Darul Qur’an, Tangerang, Banten. Selama ini, dai kondang yang juga berprofesi sebagai pengusaha ini diketahui menguasai ilmu bidang tahfidz, qiroah, serta manajemen bisnis dan ekonomi syariah
8. Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir dari Pesantren Annuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur adalah Pimpinan Annuqoyah, Gluk-guluk, Sumenep, Madura. Ia menguasai bidang keilmuan sejarah dan peradaban Islam.
9. Dr. Hj. Amrah Kasim, Lc, MA dari Pesantren IMMIM Putri, Pangkep, Sulawesi Selatan adalah Pimpinan IMMIM Putri Pangkep Sulawesi Selatan. Ia memiliki keilmuan di bidang sastra Arab, tafsir, tarikh, dan tasawuf.
Gus Yaqut, sapaan akrab Menteri Agama, menjelaskan bahwa, Majelis Masyayikh adalah lembaga mandiri dan independen, keanggotaannya berasal dari Dewan Masyayikh yang dipilih oleh Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dari unsur pemerintah, asosiasi pesantren berskala nasional.
“Proses panjang telah dilakukan untuk dapat menetapkan anggota Majelis Masyayikh, dimulai dari pembentukan AHWA, penjaringan calon, sampai akhirnya mereka yang dipilih berdasarkan rumpun ilmu agama Islam,” jelas Gus Yaqut.
Reporter: Jhonie
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Kemenag RI





