Mendidik Anak Hafizd Al Quran sebagai PMA

0
Apendi Arsyad, New Normal, KAHMI, ICMI, Covid-19
Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Bismillahir Rahmani Rahiem.. Subhanallah… walhamdulillah… wallahu akbar. Sungguh menarik, menghibur dan membahagiakan kita, bagi mereka yang berkesempatan menonton seorang bocah yang baru berumur 3 tahun sudah lancar dan fasih membaca ayat ayat suci Al Quran dihadapan orangtuanya, dengan penguasaan tajwid yang bagus. Sebuah fenomena sosial “balita hafidz Al Quran” yang termasuk amat langka, yang tiba tiba muncul di era millenial saat ini. Dimana anak anak kita di era kemajuan penggunaan ITC yang begitu pesat dan tumbuhnya media sosial (Yoetobe, Whats app, Facebook, Twitter, etc), banyak generasi millenial kita yang terpapar “pandemi” hiburan musik dan film Korea, dan budaya populis barat lainnya, termasuk juga berita2 hoaks, yang kurang islami dan mencabut akar budaya bangsa kita yg asli.

Begitu beruntung dan berbahagianya orangtua yang sabar menemani anaknya tersebut, yang sedang membaca ayat2 suci Al Quran sebagai bacaan paling mulia. Al.Quran merupakan berupa wahyu Allah, furqon, yang menjelaskan dan memperingatkan manusia dan seluruh mahluk di alam jagat raya agar hidup di jalan yang benar dan lurus (sirotol mustaqiem).

Saya berpendapat orangtua (ibu dan bapak) yg cerdas tersebut sudah memulai berinvestasi dalam kehidupannya di dunia untuk bekal menghadapi kehidupan hari akhiratsnya (yaumilakhir) yang penuh kekhawatiran dan ketidakpastian (deskruptif era). Sangat beruntunglah mereka2 para orangtua yang sadar dan sangat peduli (very carefull) mendidik anaknya menjadi orang yang soleh dengan mengajarkan hapalan ayat ayat suci Al Quran (hafidz Al Quran) yang ditanamkan kedalam diri anaknya sejak kecil. InsyaAllah anak Soleh itu nanti, akan selalu mau dan mampu mendoakan secara khusuk untuk keselamatan dan kebahagiaan kedua orangtua yg masih hidup, dan apalagi orangtuanya yang telah berpulang kerahmatullah, yang sudah berada dan menikmati kehidupan alam barzah (alam kubur), dan tengah menunggu dibangkitkan pada hari Kiamat tiba. Doa anak Soleh akan mengalir pahalanya kepada kedua orangtuanya sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quranulkarim dan diperjelas dan dipertegas oleh bunyi hadist Rasullullah Muhammad SAW.

Doa anak anak yang soleh inilah yang didambakan dan ditunggu-tunggu oleh setiap orangtua yg Soleh, yang tengah berada di alam kuburan (akhirats), yang bisa melapangkan dan menyenangkan kehidupannya. Kemudian juga membuat mereka-jasad orangtua untuk masuk pada golongan kanan, wajahnya berseri-seri dan calon penghuni surgajannatun-naim yang kekal abadi. Makanya orangtua yang cerdas spiritual semasa hidupnya, tidak akan menyia-nyiakan waktunya, akan berjuang terus bersungguh sungguh untuk mendidik anak anaknya agar paham isi- kandungan Al Quran, dan kemudian anak keturunannya mengamalkannya Dinnulislam itu dengan baik dan benar (tidak sesat dan menyesatkan, fanatik buta), yang ajarannya benar benar bersumber pada kitab suci Al Quran dan Sunnatullah (hadist) Muhammad SAW (Qns).

Baca :  HRW: Anak-anak ISIS Dipulangkan untuk Melindungi Hak Mereka

Oleh karena itu setiap orang tua (ibu dan bapak) yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, wajarlah bertindak, serta selalu berbuat kebajikan di dunia ini, maka pendidikan agama anak anaknya, cucu cucunya dan kaum keturunannya (kerabat) menjadi perhatian utama yang diperioritaskan. Oleh karenanya masuk akal kiranya, mereka memilih sekolah2 dan kampus Islami terpadu (SIT dan KIT) yang memberikan pengajaran dan pendidikan selain ilmu duniawi (ipteks) juga ilmu agama Islam (imtaq dan humaniora) yang bermutu secara terpadu dan berkeseimbangan, sehingga tidak melahir kepribadian anak dan orangtua yang terpecah (split personality) yang kini banyak terjadi, sebagai contoh banyak para orangtua/tokoh masyarakat rajin beribadah mahdo, sholat, naik hajji dan umroh berkali-kali ke tanah suci Mekkah dan Madinah tetapi korupsi dan berbuat maksiat jalan terus dll. Istilahnya STMJ bukan “Susu Telur Madu Jahe” yang menyehatkan badan, akan tetapi STMJ yang meracuni kehidupan, yang menjadi pelesetan “Sholat Terus Maksiat Jalan terus”, kepribadian yang terpecah (split personality), munafik (jika diberi amanah suka berkhianat, jika berbicara suka berbohong dan apabila berjanji suka mengingkari), ini jelas akan masuk golongan kiri di kehidupan akhirats. Nauzubillahi minzalik.

Mudah2an tidak terjadi dalam diri kita, astaghfirullahhal aziem, lahawala kuata billah. InsyaAllah kita tetap teguh dalam pendirian (istiqomah), konsisten dalam menjalankan syariah agama Islam dalam perbuatan dan tingkahlaku keseharian kita. Walaupun begitu banyak godaan yang menghadang dari para setan yg terkutuk dalam hal godaan 3 Ta (harta, tahta dan wanita/sexual) di akhir zaman ini yang serba paradoks dan anomali ini. InsyaAllah kita terhindar dan tercegah dari segala kemaksiatan yang dimurkai Allah SWT, yang nanti di akhirat dimasukan ke golongan kiri, kitabnya catatan perbuatannya diterima dari arah kiri, karena semasa hidup di dunia penuh dosa, wajahnya muram-hitam legam, menyesal dan saling menyalahkan antar mereka dan ingin minta kembali ke dunia untuk beribadah, walaupun sekejap tapi sudah terlambat dan permohonan orang orang zholim ditolak Allah SWT.

Baca :  Hari AIDS Sedunia, Forum Anak: Jauhi Virusnya, Rangkul Orangnya

Kita sebagai orang berimtaq harus yakin bahwa keselamatan hidup dunia dan akhirats itu, hanya bisa dicapai dengan cara hidup kita (our life style) yang mau dan mampu mengintegrasikan sistem nilai imtaq dan ipteks secara konsisten dan berkeseimbangan sebagaimana fitrah manusia yang cenderung hanif. Jika kita mengabaikan kedua dimensi tersebut dan atau salah satu kita tidak ambil (abaikan) dan amalkan dalam kehidupan, maka manusia itu akan menemui kegagalan dalam meraih kebahagiaan hidup baik di dunia apalagi di akhirats, dan menjadi manusia merugi. Manusia2 yang merugi seperti ini dalam Al Quran disebut kafirun, munafikun, fasikun dan musrikun yang populasinya kian membesar di akhir zaman (era millenial) saat ini.

Sebaliknya orang orang beriman, bertaqwa dan gemar berbuat kebajikan (beramal sholeh), rajin beribadah, berinfak dan berbuat kebajikan lainnya antar sesama. Hidup mereka terrefleksi dalam pola perilakunya yang memadukan antara keyakinan imtaq (aqidah, softskill) dengan penguasaan ipteks (hard skill) dalam kehidupan kesehariannya. Orang yang seperti disebut dalam Al Quran, orang Mukmin dan Mukminat sejati (taat dan patuh kepada Allah SWT, hidup bertauhid) yang sebenar-benarnya, jauh dari perbuatan ria dan riba dalam kehidupan dan aktivitas ekonominya. InsyaAllah manusia ini akan menjadi orang yang beruntung dan bermanfaat bagi lingkungannya. Pola berperilaku orang mukmin/mukminat ini akan selalu mendapat rahmat, karunia dan hidayah Allah SW, yang ditunjukan dengan berperilaku mulia (beraklaqul karimah) dan rahmatullillalamin antar sesama mereka dan lingkungan sosialnya.

Dalam kontek inilah pendidikan agama Islam dan ilmu pengetahuan serta teknologi dan seni (ipteks) bagi anak2 kita (terutama masa balita) dalam keluarga “sakinah mawaddah warohmah” memegang peran sangat penting dan vital untuk mewujudkan kehidupan yang berbahagia (the happiness of human life) di dunia, insyaAllah juga kehidupan di akhirats kelak, dan wajib kita mempercayainya.

Ingat hadist nabi dan Rasullah Muhammad SAW kira kira begini bunyinya, bahwa “seseorang manusia sudah meninggal dunia, berpulang kerahmatullah, maka hilanglah atau terputuslah segala amal perbuatannya di dunia, kecuali yang tidak terputus untuk 3 perkara yaitu sbb:

1). Harta yg dimiliki halal dan toyib (tidak korup, rampok) semasa hidupnya dan digunakan yang diniatkan karena Allah untuk kemaslahatan, sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia dan alam seperti harta Ziswa (dizakatkan, diinfakkan, disedekahkan dan diwakafkan);

Baca :  Rakor KLA 2020, Dedie Rachim Minta Prioritaskan Masalah Anak

2) ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan, diamalkan krn Allah untuk membuat kebajikan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, diantaranya kita menulis kitab2 dan buku2 yg dipelajari banyak orang dll; dan

3). Anak keturunan kita yang soleh yang selalu mendoakan orangtuanya. Hadist ini sahih, dan sepatutnyalah kita menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan kita di dunia, sebelum ajal tiba dan sakaratul-maut menjemput kita, nyawa dicabut dan melayang dari jasad kita.

Marilah kita berlomba-lombalah dalam kebaikan (fastabiqul khairats), dan jauhilah perbuatan jahat dan tercela serta maksiat lainnya antara lain seperti musrik, gila dunia (hubbuddunya), tindak pidana korupsi/KKN, berbuat zholim antar sesama, dan perbuatan2 kriminal lainnya yang merugikan makhluk lain.

Semoga kita termasuk hamba hamba Allah SWT yang soleh dan mampu mewujudkan serta mewariskan anak anak yang soleh, jika kita bisa dan mampu melahirkan generasi penerus yang mencintai Al Quran (hafizd dan hafizoh) seperti yang kita lihat dan nikmati di WAG ini, yang sudah viral di medsos. Semoga tontonan seorang anak berusia 3 tahun yang “lucu”, menyenangkan hati dan fasih membaca Al Quran tersebut, hendaknya bisa menginspirasi, memotivasi dan menjadi suritauladan bagi kita dan keluarga utk belajar bagaimana mendidik anak yang baik, hafidz nan sholeh sebagai investasi/penanaman modal akhirats (PMA) yang bernilai kekal abadi (baka’), bukan PMA penanaman modal asing dan aseng (fana’) spt di sektor pertambangan, kehutanan dan perkebunan besar milik oligarki seperti yang marak terjadi di negeri kita saat ini yang sangat merugikan rakyat lokal, kepentingan bangsa dan NKRI.

Demikian narasi ini saya buat dalam rangka menebar informasi kebaikan (berdakwah) antar sesama kita di tengah tengah lingkungan kehidupan manusia yang semakin banyak gejala2 sosial yang bersifat paradoks dan sarat anomali. Hal ini terjadi akibat melupakan dan bersikap menjauh dari ajaran QnS. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong hamba hamba-Nya yang soleh, amin3 YRA.

Sukron, Barakallah.
Wabillahit taufik walhidayah wr wb. Wassalam.

Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi. Penulis adalah Pendiri, Dosen/Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis Universitas Djuanda Bogor, konsultan dan aktivitis di beberapa Ormas di Bogor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here