Mengapa Warisan Budaya Melayu-Islam-Nusantara Termarginalkan ?

0
Apendi Arsyad, Budaya, Islam, Melayu
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Terima kasih add Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf/Dosen STIE Tazkiyah-konsultan SDM yang handal, telah memposting di WAG SF, gambar bangunan Masjid Kuning “telur” warisan budaya Melayu-Islam yang sangat bersejarah, yang ada di Pulau Penyengat. Posisinya tepat di seberang Kota Tanjung Pinang Prov. Kepulauan Riau. Naik perahu boat/”pompong” dari pelabuhan ke pulau Penyengat memakan waktu selama 15-20 menit dengan biaya transpor yang terjangkau kantong rakyat, cukup murah.

Pulau penyengat tersebut adalah negeri leluhur Bunda Budaya Melayu Islam-yang pengaruhnya tersebar di nusantara dari Sabang sampai Merauke. Saya kenal betul daerah pulau Penyengat ini, karena saya pernah riset aspek sosial-ekonomi nelayan tradisional di kawasan ini untuk studi bidang sosek perikanan dalam rangka penyelesaian skripsi saya di FPIK IPB pada thn 1984. Pulau penyengat dimana Masjid Kuning “telur” berdiri tempat mukimnya beberapa keluarga nelayan, adalah salah satu lokasi riset Sarjana (S-satu), dengan mewancarai para nelayan di Pulau Penyengat Kota Tg Pinang Kep. Riau, doeloe Pulau Penyengat menjadi bagian wilayah Kecamatan Bintan Selatan.

Untuk diketahui bahwa waktu itu saya melakukan penelitian (riset) untuk tugas akademik skripsi di era Orde Baru yang kekuasaannya terpusat (sentralice policy) itu, sepengetahuan saya warisan warisan sejarah Melayu Islam yang ada di pulau itu kondisinya tidak terawat, banyak benda benda sejarah yang rusak, termasuk masjid Kuning “telur” Penyengat, juga makam Raja Ali Haji budayawan Melayu yang mashur dengan karya Gurindam 12, dan terdapat pula bekas lahan perpustakaan serta istana Melayu, etc yang hampir punah.

Baca :  Sertu Priyanto Aktif Lestarikan Warisan Budaya Batik

Harapan kita, mudah-mudahan sekarang daerah Kep. Riau dulu kabupaten, sudah mekar menjadi Provinsi Kep. Riau, hendaknya sudah banyak kemajuan. Sebab daerah ini telah menjadi destinasi wisata budaya andalan Kepri, sehingga bangunan-bangunan haritages Melayu Islam tersebut sudah ditata dengan rapi baik indah.

Mengapa warisan budaya Melayu Islam Nusantara ini terlantar ?.
Prima kausanya disebabkan dampak negatif politik budaya nasional kita dari doeloe hingga zaman Now bersifat diskriminatif, tidak ramah kepada budaya Islam Nusantara. Potensi dan kejayaan Islam masa lalu di kawasan Nusantara ada pihak the ruling party yang memang tidak menghendaki budaya Islam tersebut berkembang. The ruling party dikendalikan oleh kaum musyrikun, fasikun dan munafikun yang suka menyembah berhala-berhala (patung-patung, makam-makam keramat dan candi-candi tua) sebagai sarana pemujaan-pemujaan dewa-dewa. Padahal semua orang paham sejarah bangsa NKRI, budaya Melayu Islam yang bertauhid (hanya menyembah Allah SWT), yang berkarakter “lingua prapanca”, demokratis-egaliterian, dimana faktanya bahasa Melayu telah berkontribusi besar membentuk bahasa Indonesia, bahasa persatuan bangsa. Budaya Melayu Islam telah memiliki andil besar dalam membentuk karakter bangsa (nation caracter building) yaitu penduduk Indonesia yang tersebar di banyak pulau-pulau yang pluralistik telah terbentuk “rasa senasib sepenanggungan” Persatuan Indonesia (Sila ke-3 Pancasila) sebagai basis utama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Secara objektif dan nalar yg sehat, saya banyak melihat di daerah basis-basis dan pusat-pusat bekas kerajaan Melayu Islam (Kesultanan) di daerah-daerah ditelantarkan dan dimarginalkan, antara lain seperti tampak di Kesultanan Siak Sri Indrapura Siak- Riau, Kesultanan Melayu Riau Lingga Kepri, Kesultanan Pontianak Kalbar, Kesultanan Ternate-Tidore Maluku Utara, Istana Maimun Medan, Kerajaan Sultan Buton di Sulteng, dan begiti juga banyak yang lain, etc. Kondisi kerajaan tersebut memprihatinkan, semuanya tidak terawat, terancam runtuh bangunannya dengan pekarang yang kumuh (slum area) dan tata kelola kurang baik karena memang masih dihuni oleh keluarga keturunan Raja yang hidupnya juga miskin, dan sangat terbatas kemampuan ekonominya.

Baca :  Janganlah Kultuskan Bung Karno

Sebaliknya kita melihat, produk-produk peninggalan budaya Animisme, Budha dan Hindu di Indonesia (Jawa dan Sumatera) begitu besar perhatian regim penguasa yang menggelontorkan dana APBN dan APBD untuk memugar Candi-candi, komplek pemakaman para Raja, dan bekas-bekas lahan istana-istana peninggalan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta produk-produk budaya pemujaan berhala kaum musyrikun bangsa Indonesia lainnya, sangat diperhatikan, dipugar apik, dan kemudian dipromosikan menjadi produk wisata primadona nusantara.

Seharusnya Pemerintah Pusat (Jakarta), dan Pemerintah Daerah berbuat adil dan bijaksana dengan mengalokasikan juga sebagian dana APBN dan APBD untuk pembangunan proyek-proyek rehabilitasi/pemugaran peninggalan budaya Melayu Islam Nusantara, dan bahkan memberikan dana subsidi untuk membiayai revitalisasi sistem organisasi dan kelembagaan kerajaan Melayu Nusantara tersebut yang maju dan berkembang agar jati diri bangsa Indonesia yang nationalist-socio religious semakin kuat dan lestari dalam wadah NKRI.

Saya sudah lama merisaukan tindakan diskriminatif policy dalam hal politik kebudayaan ini. Kerisauan ini muncul, ketika saya survey-survey untuk tugas jasa konsultan, yg Alhamdulillah berkesempatan turun ke beberapa daerah menyelusuri pesisir, desa-desa pedalaman dan pulau-pulau terpencil. Sungguh memprihatinkan kondisi warisan budaya Melayu Nusantara. Seharusnya, di era pasca Reformasi ini sudah seharusnya kita memperjuangkan politik budaya nasional yang mendukung/pro-budaya Melayu Nusantara, yang sudah berabad-abad dimarginalkan demi kemajuan dan marwah ummat dan bangsa Indonesia.

Baca :  Pemkot Bogor : CGM Warisan Budaya

Saya menyimpulkan sejarah nasional Indonesia dan kebijakan publik yang didesain regim berkuasa serta politik budaya nasional hingga kini semakin cenderung mengabaikan sistem nilai Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhidullah) kini bergeser wajahnya ke sekulerisme, kapitalisme, liberalisme, dan bahkan mau dibawa masuk lagi ke paham dan ideologi komunis (ateisme, new-PKI), new-Nasakom yang kejam dan gagal total itu. Dan kita paham bahwa ajaran-ajaran dan paham-paham tersebut sangat bertolak belakang (paradoks, memusuhi Islam) dengan budaya Melayu-Islam-Nusantara yang telah membangun peradaban kebangsaan NKRI dengan masyarakat bangsanya yang hidup religius, rukun, damai dan beradab (toto tentrem karta raharja).

Budaya Islam- Melayu-Nusantara sebagai bunda kandung budaya nasional Indonesia kini diambang kehancuran, pelan-pelan tenggelam ditelan arus budaya industri dan informasi (industri 4.0, era deskruptif) yang didominasi budaya Mandarin “Aseng” dan budaya Barat yang “Asing” yang telah mencabut akar budaya luhur bangsa Indonesia yang kita cintai. Hal ini patut dan harus kita cermati dan waspadai terhadap ancaman budaya Aseng dan Asing terhadap ketahanan NKRI ini.

Akhirul kalam, semoga narasi singkat ini bisa menjadi renungan dan menyadarkan kita bersama para aktivis muslim Indonesia, yang bertanggungjawab untuk melestarikan budaya Melayu- Islam-Nusantara tersebut dalam NKRI. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong hamba-hamba-Nya yang mencintai keadilan dan kebenaran, serta memberkahi. Amin, amin, amin, YRA.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan dan Aktivis Ormas di Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here