Oleh: Dr. Apendi Arsyad
Akang Tb. Ace Sumanta, jangan lupa ajengan almarhum KH. Soleh Iskandar, pejuang tulen ikut berperang di medan tempur sebagai Komandan Siliwangi/ Hisbullah yang ditakuti Belanda, ikut menghancurkan tank Belanda dan melucuti senjata tentera penjajah Belanda/ KNIL.
“Ajengan KH Soleh Iskandar adalah salah seorang Tokoh pendiri LVRI asal asli orang Bogor Barat, Kabupaten Bogor”.
Karya karya pengabdian semasa hidup almarhum bpk Ajengan KH Soleh Iskandar sungguh begitu banyak dan spektakuler yg monumental sifatnya, berbeda dengan para pejuang lain. Karya pengabdian Ajengan kepada nusa bangsa dan agama luar biasa, yg alhamdulillah telah bisa memenuhi kebutuhan dasar rakyat, antara lain karya pejuang nasional alm ajengan KH Soleh Iskandar adalah sbb:
1. Univesitas Ibnu Khaldun Bogor;
2. Ponpes Darul Falah di Ciampea
3. Rumah Sakit Islam Bogor
4. Ponpes Putri Annisa di Kemang Bogor
5. BKSPP Jawa Barat yg membantu oengembangan masyarakar desa;
6. Perumahan Rakyat di Desa Kelahiran di Bobar, pernah mendapat penghargaan internasional sbg desain terbaik.
7. BPRS Amanah Ummah di Lw Liang Bobar, yang merupakan BPRS terbaik di Indonesia, sudah 5 kali meraih penghargaan nasional (BI).
8. Pemrakarsa dan Pendiri ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Khusus Bogor, meyakinkan Ketum ICMI Pusat bpk Prof.BJ Habibie bersama bpk Prof.H Tb.Sjafri Mangkuprawira dan KH.Tb.Hasan Basri, wilayah Bogor mengingat.potensi SDM kepakarannya besar dan problematika sosial juga kompleks sebagai daerah penyangga DKI Jakarta, maka berkat komunikasi ajengan KH Soleh Iskandar, bapak BJ Habibie menjadikan Bogor sebagai Orwil ICMI berstatus (Maret 1991) lebih dahulu lk 3 bulan fari pembentukan ICMI Orwil Jawa Barat; dan
9. Dan lain-lain sulit disebutkan satu persatu disini.
Izinkan saya bercerita nostalgia sejenak, sewaktu saya sebagai Ketua Wandik Kota Bogor thn 2013-2018 pernah saya laksanakan FGD dengan para stakeholders di Kota dan Kabupaten Bogor untuk merekomendasikan kepada Wali Kota Bogor dan Gubernur Jawa Barat untuk mengusulkan ajengan KH Soleh Iskandar menjadi salah seorang Pahlawan Nasional asal Jawa Barat, sebab berdasarkan fakta dan kajian sejarahnya, ajengan sudah sangat memenuhi syarat sebagaimana bunyi UU Pahnas, kata temanku lulusan sejarah UI, Edi Sudarjat, yang pernah.meneluti perjuangan ajengan.
Beberapa buku telah terbit menjelaskan sepak terjang ketika berjuang mempertahankan kemerdekaan RI berdasarlan hasil riset sejarah. Diantaranya bukunys adalah ” Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi”, 182 halaman; Penerbit Komunitas Bambu, Depok.Bogor, ditulis oleh Edi Sudarjat. Buku ini dijual di toko buku Gramedia Kota Bogor.
Jika kita membaca dokumen catatan sejarah ajengan alm KH Soleh Iskandar, yang ada beberapa tersimpan di mesium Pejuang Bogor, berlokasi di Jalan Merdeka Kota Bogor, beberapa tahun lalu saya pernah berkunjung ke mesium tersebut, saya menemukan dokumen2 tidak terawat tapi tulisannya dan tandatangan ajengan masih bisa dibaca. Saya pun beetanya kepada petugas jaga mesium, mengapa tidak terawat, jawabannya klasik disebabkan minimnya anggaran. Bantuan atau suntikan dana APBD dari Pemkot Bogor sangatlah terbatas/ sedikit bahkan sekarang mungkin tidak ada lagi.
Bahkan UIKA Bogor beberapa tahun lalu, saya hadir, telah menyelenggarakan Seminar Sejarah Kepahlawanan ajengan alm bpk KH.Soleh Iskandar yg dihadiri peserta lk 300 orang dengan narasumber dari para akademisi sejarah dari Kampus UNPAD, UNPAK dll, serta para tokoh juga banyak yang hadir antara lain bpk.Prof.AM Saefuddin, Prof.KH.Didin Hafidhudin, Dr.Lukman Hakim, Dr.Muh Rais Ahmad dll. Kegiatan seminar disponsori Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tentu seminar tersebut terselenggarakan karena adanya Rekomendasi dari Wali Kota Bogor bpk Dr.H.Bima Arya, dan bpk Walkot Bogor juga memperhatikan masukan dan saran2 berupa rekomendasi dari unsur dan lembaga kemasyarakatan, salah satu desakan Wandik Kota Bogor yang saya pimpin.
Hingga sekarang sejauh mana proses pengusulan almarhum ajengan KH Soleh Iskandar, capaiannya saya pun tidak tahu progresnya.
Semoga akang Tb.Ace Sumanta dkk di forum WAG pemerhati Pahlawan ini bisa melacak sejauhmana tingkat keberhasilanya, kita telah mempromosikan tokoh ulama besar- orang asli Bogor, yang sangat ditakuti tentera penjajah Belanda (thn 1945-1950) dan dihormati masyarakat hingga kini, karena karya2 pengabdian kepada rakyat begitu banyak, dan sangat layak dan pantas menjadi Pahlawan Nasional di negeri ini.
Saya sebagai aktivis ICMI pernah satu kamar di Hotel Indonesia (thn 1991) dengan ajengan, mengikuti forum Silaknas pertama ICMI di Jakarta. Ketika itu, almarhum bilang kepada saya anaknya bahwa….”Apendi,, bapak doeloe yang merampas senjata tentera KNIL Belanda di Bogor bersama-sama kawan Hizbhullah di masa revolusi mempertahankaan Kemerdekaan RI ada agresi Belanda, ingin kembali menjajah bangsa kita”, “tetapi saya ketika sudah beberapa tahun merdeka, bertugas sebentar dengan Kapten, saya minta pensiun di militer karena ingin cepat bisa membalas budi-baik rakyat desa Bogor Barat, yang pernah memberi nasi bungkus secara diam2 kepada regu kami, ketika bapak bersembunyi di hutan pegunungan dekat rumah penduduk desa di daerah Pamijahan Bobar”…lebih lanjut almarhum pernah berujar dengan saya bahwa..”sekarang ini di jajaran petinggi ABRI (semasa Orba, era bpk Jenderal Soeharto) banyak diisi birokrasi militer dan pemerintahan, mereka bekas-2 tentera KNIL, dia sebut beberapa nama, sekarang orang2nya sudah sepuh dan sudah almarhum.
Lebih lanjut dalam perbincangan saya dengan beliau ajengan KH Soleh, saya katakan dengan agak nada mengkritik bahwa itu akibat “kesalahan” bersikap Ajengan, beliau diam saja, tidak ada komentar, dan memang watak para pejuang tentera muslim, Hisbullah, dipenuhi manusia2 hamba Allah, yang ikhlas dan mereka kurang “tertarik” dengan jabatan dan kekuasaan serta kemewahan hidup, ya akhirnya diisi “orang lain” itu, sanggahan. Ajengan KH Soleh Iskandar hanya tersenyum dan diam seribu bahasa. Kemudian ditambah lagi faktor bergabungnya para pejuang Hizbullah dalam Ormas Islam/Orpol Masyumi di era Orde Lama (Orla), yang kemudian beropisisi dengan regim Orla dibawah kepemimpinan Presiden RI sang Proklamator Bpk Ir.H. Soekarno., penimpin besar Revolusi.
Selama perbincangan setelah subuh berjemaah dengan ajengan, saya teringat kenangan masa lalu, cerita tuturan ibu saya, bahwa dengan sikap Ajengan KH Soleh Iskandar seperti itu, maka menjadi teringat akan watak ayah saya alm. (1971) H.Arsyad Kahar/aktivis dan pimpinan PC Muhammadyah di kampung (Kecamatan Cerenti Kuantan Singingi Prov Riau, sebelum pemekaran asalnya Kab. Inderagiri Hulu) dengan teman2 seperjuangan dikejar-kejar tentera Belanda/KNIL mau ditangkap karena para pimpinan Muhammadyah vokal menentang penjajahan Belanda. Ketika itu ayahku menyelamatkan diri dengan lari ke hutan, kata ibu saya Hj.Darana Djamin (105 thn) sekitar 3 tahun ayah menghilang lari dan berada di hutan Riau, tempat persembunyiannya.. Ketika waktu perlawanan dianggap mereda, tentera Belanda pergi sebagian teman ayah turun dari hutan, sedangkan ayah saya tetap bertahan di persembunyian karena hasil “penerawangan” ayah tentara Belanda masih ada di kampung. Perkiraan ayah memang benar, beberapa teman2 seperjuang ayah tertangkap dan ditembak mati oleh penjajah Belanda. Kemudian ayah keluar dari tempat persembunyiannya, entah mengapa juga ditangkap tapi alhamdulillah tidak langsung di hukum mati, masuk sel penjara dulu di kota Rengat. Cerita selanjutnya dari ibuku, ayah bisa lari dari penjara Belanda berkat bantuan petugas penjara yang berbaik hati dan mengenal baik ayahku.
Setelah berapa tahun kemudian situasi normal, pemerintahan pun berjalan, ayahku ditawari pangkat dan jabatan ayah menolaknya. Katanya dia berjuang membela kemerdekaan RI bukan untuk menjabat jabatan tetapi betul2 ikhlas karena Allah taalah. Ayah lebih menjadi saudagar, berkebun, menangkap ikan dan ikut aktif di getakan amal di Mujammadiyah bersama ibuku (Ormas Aisyiah), sedang aliran politiknya ikut Masyumi, tokoh idolanya Allahyarham almarhun Ustadz Dr.H.Muhamnad Nasir. Narasi tersebut, mengingatkam saya sikap dan karakter yang sama antara ayahku dengan ajengan alm. KH.Soleh Iskandar, orang yang amat kita hormati.
Semoga almarhum ajengan KH Soleh dan ayahku serta para pejuang menegakkan Kemerdekaan RI dimasukan Allah ke dalam golongan orang2 soleh. Amin3 YRA.
Wassalam.
Dr.Ir.H.Apendi Arsyad.MSi (Pendiri-Dosen/Asosiate Profesor pada Prodi Agribisnis UNIDA Bogor, Konsultan dan Sekwanhat MD KAHMI Bogor serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Khusus Bogor etc).





