Menghambat Laju Rekonsiliasi Fatah-Hamas Dalam Pemilu Palestina 22 Mei 2021 

oleh -438 views

Oleh: Teddy Khumaedi

Kondisi Gaza Palestina saat ini, hancur luluh lantak oleh serangan Israel. Hamas minta warga keturunan Arab di Palestina bergerak melawan dengan segala daya upaya. Seperti yang diberitakan oleh Reuters, juru bicara militan Hamas di Gaza, Abi Ubaida, menyerukan tetap melakukan perlawanan dengan senjata seadanya meski itu lemparan batu. Dia pun mendorong setiap warga keturunan Arab untuk ikut mempertahankan tanah air mereka dari serangan Israel.

Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan dengan tegas bahwa dirinya akan terus mempertahankan Tanah Air mereka dari arogansi yahudi Israel. Dia menyatakan siap melawan dengan segala kekuatan yang dimilikinya apabila tentara Israel masih terus-menerus menyerang penduduk sipil Palestina. Namun demikian, Ismail Haniyeh juga menyatakan sikap bahwa Hamas organisasi militan yang dipimpinnya siap bernegosiasi apabila bangsa Yahudi Israel mau mempertimbangkan untuk menghentikan segala bentuk serangannya terhadap Rakyat Palestina. Seperti telah diketahui dunia internasional, serangan Israel terhadap negara Palestina yang semakin membabi buta telah banyak menimbulkan korban jiwa, sejak akhir bulan Ramadan lalu semakin brutal dan berlanjut hingga saat ini. Terhitung hingga hari Kamis 13 mei lalu yang bertepatan hari raya iedul fitri kemarin, setidaknya sudah 80 orang penduduk sipil Palestina tewas, termasuk di antaranya adalah wanita dan anak-anak. Sementara itu, pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz, menegaskan jika serangan Israel yang dilakukan saat ini baru permulaan. Israel tetap berdalih bahwa serangan udara dan rudal yang mereka muntahkan hanya menyasar kelompok Hamas. Mereka menyatakan bahwa organisasi Hamas merupakan teroris yang akan terus mereka lawan. Seperti sudah diketahui dunia internasional, konflik dua negara yang kian memanas ini mengundang banyak perhatian dari banyak pemimpin dunia, di antaranya adalah Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, dan Presiden Turki, Recep Tayyup Erdogan. Raja Salman dan Presiden Erdogan mengecam dan mengutuk keras serangan Pasukan Israel ke Palestina. Raja Salaman juga mengutuk keras atas tindakan pasukan Israel yang dilakukan di Masjid al-Aqsa dan Yerussalem. Raja Salman menyebut dirinya dan Kerajaan Arab Saudi mendukung penuh rakyat Palestina untuk mendapatkan hak mereka yang sah. Sementara lain, Presiden Turki, Erdogan, mengajak Presiden Rusia yakni Vladmir Putin untuk memberi pelajaran keras kepada Israel. Ia juga mengatakan bahwa Komunitas Internasional harus memberikan pelajaran yang kuat, kepada Israel atas perilakunya terhadap Palestina. (Saudi Gazette pada hari Kamis 13 Mei 2021).

Baca :  Malam Peduli Palestina SalamAid, Ketua DPRD: Dari Bogor untuk Palestina

Rekonsiliasi Dua Faksi (Fattah dan Hammas)

Sejarah konflik kedua Negara tersebut tidak bisa dilepaskan dari pada kepentingan eksternal Negara superpower Amerika serikat terhadap Palestina dalam membuka akses bagi negara Isarel dalam memfasilitasi pemukiman rakyat di tanah Palestina. seperti telah diketahu dari dulu bahwa ada dua faksi politik yang sangat berpengaruh di Palestina, yaitu Fatah (Gerakan Nasional Pembebasan Palestina) dan HAMAS (Gerakan Perlawanan Islam). Dua faksi ini memiliki pemahaman ideologi yang berbeda, Fatah berideologikan Nasionalis Sekuler, sedangkan HAMAS berideologikan Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah. Dari perbedaan tersebut jelas sekali bahwa faksi Fatah lebih mendukung mendukung ide berdirinya dua negara, berbeda dengan HAMAS yang tetap mengambil sikap bersikeras bahwa bangsa Israel harus dibubarkan dari tanah Palestina. Di tahun 1990an tepatnya di era Presiden Yasser Arafat, terjadi peristiwa penting bagi rakyat Palestina ketika itu berkat pengaruh sosok Yasser Arafat inilah kedua faksi tersebut dapat disatukan. Setidaknya, perseteruan berkepanjangan keduanya bisa diminimalisir. Namun pasca wafatnya Yasser Arafat diracun dalam pembunuhan terencana tentara Israel, kedua faksi ini pecah kembali saling serang rebut seperti dahulu. Namun, pada pemilihan legislatif tahun 2006, peristiwa mengejutkan, dalam pemilu tersebut HAMAS memenangkan pemilu di Palestina secara mutlak, sehingga Ismail Haniyah yang ketika itu menjabat ketua biro politik HAMAS diangkat menjadi Perdana Menteri (PM) Palestina. Kemenangan HAMAS dalam pemilu tersebut menunjukkan sekaligus membuktikan bahwa rakyat Palestina mendukung penuh perjuangan HAMAS untuk memerdekakan tanah Palestina dan dengan Tegas menolak eksistensi Negara Israel di tanah Palestina. Namun, kemenangan mutlak yang diraih HAMAS pada pemilu tersebut benar-benar telah menjadi mimpi buruk bagi Amerika Serikat karena kepentingan amerika terhadap Negara bonekanya (Israel) akan terganggu. Maka dibuatlah skema dan strategi dalam membenamkan posisi Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri Palestina terpilih waktu itu agar tidak semakin berpengaruh luas terhadap rakyat palestina dengan cara yang lumayan jitu, Ismail Haniyah akhirnya dilengserkan oleh Mahmoud Abbas Perdana Menteri Palestina yang sengaja didorong oleh Amerika untuk menghadang laju Ismail Haniyah dalam memimpin rakyat Palestina, puncaknya tahun 2007 Mahmoud Abbas selaku presiden Palestina memecat Ismail Haniyah termasuk sejumlah tokoh HAMAS dari kabinet pemerintahan Palestina. semua itu berawal dari posisi secara de facto Ismail Haniyah adalah PM Palestina, namun tidak pernah bisa menjalankan tugas politiknya dengan normal. Sebab penolakan yang dilakukan terus menerus Fatah atas kemenangan HAMAS mengakibatkan kedua faksi ini pecah kongsi untuk kali kedua bahkan sampai saling adu senjata, dan perang saudara pun terjadi tidak dapat dihindarkan saling hantam, saling serang kedua belah pihak.

Baca :  Oligarki dan Konglomerasi Media di Indonesia

Kenyataan pahit harus diterima rakyat Palestina, yaitu pemerintahan Palestina pun terbagi dua. Wilayah Tepi Barat dikuasai Fatah, sedangkan Jalur Gaza dikuasai HAMAS. Dan kejamnya lagi strategi yang dilakukan Barat oleh karena HAMAS menolak berdamai dan tidak mengakui Israel sebagai negara, organisasi HAMAS pun disebut sebagai organisasi teroris dan blokade terhadap Jalur Gaza pun dimulai, dan Jalur Gaza menjadi penjara terbesar di dunia, dengan dua juta lebih ‘tahanan’. Dampak dari blokade oleh Israel, status Jalur Gaza dinyatakan sebagai wilayah tidak layak huni oleh PBB, hal ini bisa terjadi karena lobi-lobi kuat bangsa zionis terhadap PBB dan Amerika Serikat sebagai Negara Majikan bagi Israel. Wilayah Gaza mengalami kesusahan yang sangat luar biasa semua serba kekurangan, baik pangan maupun akses air bersih, yang tidak disangka dan terpikirkan terjadi di wilayah lain. Ternyata, nasib Tepi Barat di bawah kekuasaan organisasi Fatah yang mengakui berdirinya Israel, mengalami hal yang sama tidak lebih menyenangkan dari penduduk Gaza. Kelicikan Israel dengan cerdas memanfaatkan kelemahan Fatah yang telah mengakui eksistensi Israel sebagai sebuah Negara, Israel dengan terus menerus melakukan pencaplokan (aneksasi) wilayah bagian-bagian Tepi Barat. Termasuk ambisi besarnya untuk menguasai Yerusalem secara menyeluruh untuk dijadikan ibukota Negara Israel. Sebagian data mengatakan bahwa sampai tahun 2017, telah berdiri 237 pemukiman penduduk Israel di Tepi Barat dengan menampung sekitar 580.000 pemukim bangsa Israel.

Situasi dan kondisi palestina semakin lemah tak berdaya, sedangkan zionis Israel semakin meraja lela mencaplok wilayah tepi barat dan Yerusalem yang sudah diplot untuk dijadikan Ibokota Negara Israel. Petinggi Fatah mulai sadar saling tikam sesama saudara bukan mendatangkan keuntungan kedua belah pihak melainkan malah membuat Palestina makin lemah dan semakin memberikan keuntungan pada Israel, akhirnya faksi Fatah mengajukan rekonsiliasi kepada HAMAS untuk bersatu demi Palestina yang berdaulat. Dan keduanya sepakat bersatu, dan akan mengadakan pemilu pada 22 Mei 2021 tahun ini. hal inilah yang yang membuat AS dan Israel merinding dan melakukan isu internasional, dan momen itu benar-benar terjadi dimana ketika umat islam sedang melakukan ibadah puasa dan rakyat palestina hendak melakukan ibadah itikaf di Mesjid Al-Aqsha diserang secara membabi buta oleh tentara Israel. Dari sinilah mulai dihembuskan varian isu-isu internasional lain mulai dari, HAMAS sebagai organsiasi teroris, serangan yang dilakukan Israel untuk mempertahankan diri, sampai dengan isu perang agama, padahal disisi lain sudah sangat jelas sekali bahwa korban jiwa dari rakyat sipil Palestina banyak berjatuhan, namun PBB sebagai organisasi dewan dunia tidak mampu untuk berlaku adil bahkan malah sebaliknya ikut serta menyalahkan sekaligus memojokan HAMAS sebagai organisasi teroris yang harus terus dilawan oleh Israel. Kalau kita cerdas melihat secara seksama pada intinya Amerika Serikat dan Israel, keduanya khawatir HAMAS akan memenangkan pemilu untuk kedua kalinya, atau menolak penuh Fatah untuk memilih mengikuti arus perlawanan HAMAS terhadap Israel. Para petinggi faksi Fatah sadar betul situasi saat ini tidak ada pilihan lain kecuali bersatu padu dengan HAMAS, karena menempuh jalur diplomasi dan memilih melunak hanya membuat Israel semakin arogan dan sama sekali tidak memberi keuntungan apa pun bagi rakyat Palestina. Jadi pemilu tanggal 22 Mei 2021 nanti bagi rakyat Palestina merupakan momentum penting dalam menentukan masa depan Negaranya. Adapun konflik Palestina dengan Israel yang sedang berlangsung saat ini tidak lain merupakan upaya jahat Amerika Serikat dan para sekutunya yang tidak menginginkan berdiri dan merdekanya Negara Palestina secara berdaulat penuh, karena hakikat dan kenyataannya bangsa Israel tidak pernah memiliki wilayah sedikitpun kalau kita mampu membaca dan membuka kembali lembaran sejarah, sebagaimana tercantum dalam kitab suci mereka karena Tuhan telah memberikan Takdir untuk bangsa Israel sebagai bangsa yang berkarakter Nomaden.

Baca :  Perdamaian Gaza dan Palestina Merdeka: Best Solution of Two State dalam Perspektif Perjanjian Hudaibiyah

Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi IUQI Bogor & Pengamat Sosial Budaya & Keagamaan Pusat Kajian Madani Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *