Merubah Paradigma Membangun Maluku

oleh -437 views
Pangadigma, Pembangunan, Maluku, Syaf Lessy
Syaf Lessy, Ketua Umum DPN IPPMI

Oleh: Syaf Lessy

Memori kolektif perihal Kemiskinan Maluku bukanlah Komoditi Politik dalam konteks persoalan yang kian menggerogoti dinamisasi kehidupan orang maluku. Kemiskinan Maluku harus di telaah dan di debatkan dalam perspektif structured problem solve approach, dengan terlebih dahulu memahami akar kemiskinan Maluku, sebap dimensi dan karakteristiknya sangat berbeda baik dari pendekatan ekonomi maupun pendekatan politik.

Berdasarkan jejak pendapat sembari mengiyakan bahwa Maluku dikatakan kaya tetapi Miskin, bukan fenomena baru hari ini, tetapi sudah lama ada sebagai memori kelam di pengaruhi oleh Kekakuan Struktur (rigidity structure) sosial politik di Maluku sejak lama dan dilatarbelakangi perjalanan historis kolonial dan imprealisme di Maluku.

Baca :  Ramli Umasugi Bawa Perubahan Besar bagi Golkar Maluku

Perdebatan kita anak muda maluku hari ini di fokuskan ke Hegemoni New Imprealisme yang kita kenal dengan istilah Oligarki politik dan ekonomi. Kondisi ini menegasikan problem etik dan diperparah dengan kehadiran banyak aktor intelektual yang mengarusutamakan dan menjalankan politik belah bambu berpotensi melemahkan persatuan dan kesatuan orang Maluku

Hadirnya banyak narasi dengan bentuk diksi yang beragam tentang perjalan sejarah Maluku saya pikir ini cara cara lama dimana adanya euforia massa lalu sering di gaungkan.

Anak muda Maluku butuh sebuah rekonstruksi budaya baru yang memungkinkan orang Maluku lebih terbuka untuk masa depan, lebih berpikir kompetitif terus sinergi dan kolaborasi secara lebih terbuka melalui etika publik base on cultur untuk berkembang secara kolektif kolegial dan saling menopang.

Baca :  Mahasiswa Muslim Maluku di Malang Sikapi Pengabaian Hak Masyarakat Adat

Penulis adalah Ketua Umum DPN IPPMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *