Oleh: Dr Apendi Arsyad
Selamat Bermuktamar Muhammadiyah ke 48 tahun 2022 di Surakarta (Solo) pada tgl 18-20 November 2022, yang dihadiri ribuan peserta dan pengembira yang datang dari segala penjuru Nusantara, Indonesia, bahkan mereka datang dari berbagai negara di dunia, terutama yang ada cabang dan rantingnya.
Setiap kegiatan dan acara Muktamar, jutaan warga dan simpatisan Muhammadiyah tampak antusias, bergembira dan solidaritas warganya muncul di arena Muktamar. Hal ini menarik untuk kita petik sebagai sebuah pembelajaran (a lesson learn) untuk memperkuat ketahanan dan kemajuan bangsa dan negara, Indonesia yang berbasis integrasi imtaq dan ipteks.
Harian Kompas, Kamis 17 November 2022, pada halaman depan, menurunkan artikel Sukidi (pemikir kebinnekaan) berjudul “Muhammadiyah untuk Kemajuan Indonesia”, betul-betul bagus ulasan dan narasinya, serta menginspirasi, sehingga menggugah kesadaran sejarah kebangsaan kita bahwa Muhammadiyah telah memberikan banyak hal kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal itu mulai dari melahirkan, memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi, dan mengawal serta merawat Kemerdekaan Indonesia dalam dimensi Keislaman (imtaq), KeIndonesiaan (kebangsaan) dan Keilmuan (ipteks). Diantaranya Mas Sukidi menjelaskan bahwa Ir.Soekarno, Sang Proklamator dan Presiden RI pertama adalah warga dan kader Muhammadiyah.
Selanjutnya dinarasikan pula jasa dan suritauladan KH Ahmad Dahlan, bapak pendiri Muhammadiyah tahun 1912 di Yogyakarta, dan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pertama (periode thn 1912 sd 1923) atas segala pengorbanannya, dimana Kiyai Dahlan menjual harta pribadinya, perabot rumah tangganya untuk membayar gaji dan honor para guru/ustadz yang berhikmat di sekolah-sekolah/madrasyah ketika zaman itu, yang mengalami kehabisan uang kas organisasi.
Narasi pengorbanan founding father Muhammadiyah, walaupun cerita amatlah sederhana, akan tetapi sungguh sangat menarik, menakjubkan dan penuh makna, beliau lakukan dalam perspektif hanya beribadah kepada Allah SWT untuk mengejar pahala (Tauhidullah). Bahkan menurut pendapat saya, perbuatan berakhlaq mulia seperti itu, dewasa ini mulai agak langka kita temukan di masyarakat yang kini terkena wabah penyakit sekuler- materialistik, individualistik, liberalistik dan kapitalistik, yang tamak dan serakah (greedy) melanda kehidupan masyarakat jahiliah modern.
Ajaran Sang KH Ahmad Dahlan yang sangat terkenal dan melegenda, adalah
“Janganlah hidup di organisasi, tetapi hidupilah organisasi”, disamping ideologi Al Quran surat Al Maun, yakni membela kaum fukoro-masakin, dhuafah (melarat dan miskin) dan mustaafin (kaum tertindas). Suatu ungkapan bahasa keikhlasan berjuang untuk nemperoleh kemuliaan bagi seorang Pahlawan Nasional/Bangsa untuk membesarkan organisasi yang didirikannya.
Sikap pengorbanan yang amat langka kita temukan akhir-akhir ini di era milenial, zaman Now. Bahkan lembaga Yayasan yg bersifat nirlaba menurut UU sering dilewengkan untuk kepentingan pribadi, alias asset publik dikorupsi untuk memperkaya diri dan keluarganya. Nauzubillahi minzaliq
Subhanallah, hingga kini Ormas Islam ini sudah berusia 110 thn, para kader Muhammadiyah tetap mengikuti dan matuhi fatwa dan nasehat bpk pendiri tersebut. Para aktivis, warga dan simpatisan organisasi Muhammadiyah diamalkan dengan cara gemar berinfaq, bersedekah dan berwakaf oleh para jemaahnya pada semua jajaran dan level organisasi, sehingga Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan “tajdid” semakin besar dan membesar amal usahanya, dan disegani oleh banyak pihak, termasuk mitra sejati setiap regim Pemerintahan RI (the ruling party NKRI), suara Muhammadiyah biasanya senantiasa “didengar”, Alhamduillah.
Jadi, tidak heran kekayaan (asset) amal usaha Muhammadiyah berupa sarana dan prasarana (sapras) pendidikan (catatan dilaporkan HU Kompas Ahad tgl 20 Nov 2022, ada sebanyak 1.364 sekolah menengah atas/ madrasyah aliyah, 1.826 sekolah menengah pertama/masrasyah tsanawiyah, 2.817 sekolah dasar/masrasyah ibtidaiyah, 20.233 taman kanak-kanak, pendidikan anak usia dini/PAUD.dan kelompok bermain, dan 440 pesantren di sejumlah daerah, serta memiliki sebanyak 171 perguruan tinggi sebagian kampus besar dan modern), kesehatan (klinik, puskesmas dan rumah sakit), ekonomi-bisnis (perbankan, bmt dan bprs serta tokoh buku) dan sapras sosial lainnya (panti asuhan anak yatim) sangatlah banyak dan kaya, dan melayani jutaan warganya dan masyarakat Indonesia.
Muhammadiyah adalah salah satu organisasi sosial-kemasyarakatan terkaya di dunia. Kemudian Muhammadiyah memiliki jutaan kader pemimpin yang mumfuni, yang terus berkiprah dan mengabdi di berbagai lingkungan sosial dan profesi, baik swasta-bisnis maupun di birokrasi Pemerintahan, politisi, pekerja sosial/NGO dll
Kini Muhammadiyah sedang bermuktamar, acara pembukaannya dihadiri Presiden RI bpk Joko Widodo di stadiun Manahan Kota Surakarta, dengan pemandangan yang amat menarik. Bahwa pola dan mekanisme seleksi dan suksesi kepemimpinannya sangatlah cerdas, rukun dan damai, serta suasana Islamy tampak. Atmosfir persaudaraan dan kebersamaan begitu kental adanya, dengan kata lain “mereka saling mempersilakan”.
Tidak tampak proses sosial persaingan (kompetisi) antar kader-kader terbaik, yang diusulkan dari bawah secara demokratis. Diperoleh 39-40 orang bakal calon pengurus PP Muhammadiyah, kemudian diseleksi lagi menjadi 13 orang oleh forum Muktamar. Memang dalam agama Islam itu mengajarkan bahwa menjadi pemimpin/Ketua itu adalah amanah, tidaklah diminta, dikejar dan direbut, tetapi diberikan amanah oleh para jemaahnya”.
Subhanallah, dari 39 nama calon PP Muhammadiyah untuk masa bakti 5 tahun kedepan, angka pilihan terbanyak Bpk Ustadz Dr. Anwar Abbas (kini Waketum MUI Pusat), yang saya tahu, beliau ulama tawadduak, berwawasan ilmu yg luas, berani dan kritis. Alhamdulillah beliau memperoleh suara terbanyak di forum Muktamar Muhammadiyah thn 2022 kali ini di Surakarta Jawa Tengah.
Sesuai tradisi Muktamar suara terbanyak belum tentu akan menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Ke 13 orang yg terpilih (7 orang dari kalangan senior dan 6 org yunior) tersebut akan bermusyawarah dan bermufakat untuk memilih salah seorang menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2022-2027. Hingga artikel ditulis permusyaratannya di forum Muktamar tengah berlangsung.
Harapan dan doa kita semoga Allah SWT menganugerahi kepemimpinan/ PP Muhammadiyah seorang pemimpin/Ketua Umum yg siddiq, amanah, fathonah dan tabliq.
Besar harapan kita hal itu bisa dicapai, sebab para Muktamirin Muhammadiyah mengambil keputusan secara hati nurani “bilhikmah”, wisdoms, cinta kebenaran (maaf “bukan wanifiro, politik transaksional/ money politik, alias suap-menyuap dan sogok-menyogok”), sebagai bunyi perintah falsafah bangsa dan dasar negara Sila ke 4 Pancasila yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan/ perwakilan”. Nampaknya PP Muhammadiyah menjalaninya, dimana proses demokrasi dalam menseleksi dan memilih Ketum PP di ormas Muhammadiyah berbiaya rendah (low cost) dan zero konflik, harmoni, akan tetapi hasilnya insyaAllah berkualitas maksimal dan pemimpin terbaik. Hal ini dapat kita katakan merupakan sesuatu yang.. “best practice”, contoh model yang baik (rule model) dan sepatutnya disuritauladani oleh elemen-elemen bangsa yang lain di Tanah Air.
Menurut pendapat saya, (mudah-mudahan tidak keliru), bahwa
hanya satu lagi yang tinggal Ormas Islam di Republik ini yang kuat dan bertahan dengan leadership berintegritas tinggi sebagai penyeimbang dan pengkoreksi (ceck and balancing), kritis terhadap berjalannya roda Pemerintahan dan pembangunan RI, agar konsisten menuju ke arah yg lebih baik, berperadaban dan berkemajuan.
Teruslah bersuara kritis dan cerdas Muhammadiyahku !, dan bersikap jelas dan tegas untuk menegakan “amar makruf nahi mungkar” di negara NKRI ini yang sama-sama kita cintai, agar NKRI tidak sampai karam (disintegrasi sosial) dan atau menjadi negara gagal dalam mensejahterakan rakyatnya. Kemakmuran bersama yang berkeadilan sosial yg dicita-citakan jangan semakin menjauh akibat pemimpin negara yang sesat dan menyesatkan, serta rendah dan lemahnya kualitas pemimpin pemerintahan dan kenegarawannya. Sudah selayaknya Muhammadiyah terus memasok pemimpin dan negarawan untuk memimpin NKRI dari warga Muhammadiyah seperti yang pernah dilakukan, lahirlah Presiden RI pertama bpk Soekarno, Presiden RI ke2 bpk Soeharto, berikutnya bpk.BJ Habibie (pendiri dan Ketum ICMI), ibu Megawati dan bpk Yusuf Kalla.
Berbagai fenomena sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang dewasa ini tampak trendnya memburuk keragaan dan kinerjanya, dan kian mulai terlihat sejumlah indikator dan parameternya terlihat seperti: Angka kemiskinan dan ketimpangan sosial-ekonomi yang membesar dan menganga (gini ratio diatas 0 4), utang luar negeri negara dan swasta semakin menumpuk dan membengkak ribuan Triliyun Rp, perampokan sumberdaya alam oleh para ologarky semakin menjadi-jadi, konsentrasi ekonomi berada segelintir konglomerat yg notabenenya “aseng”, perilaku korupsi oknum penyelenggara semakin tinggi eskalasinya, penegakan hukum tumpul keatas dan tajam kebawah (diskriminatif, pro kepentingan politik dan ekonomi, ketimbang menegakan keadilan dan kebenaran), kebijakan publik semakin menjauh dari aspirasi umat sbg dampak menurunkan kualitas demokrasi politik di parlemen, produk legislasi berupa PerUndang-undangan serta peraturan dibawahnya agak melenceng dari sistem nilai dan norma Pancasila dan UUD 1945; kedaulatan rakyat yang disandera dan “diperkosa” oleh para politisi dan Parpol (the ruling party), ketegangan dan tensi sosial secara vertikal dan horizontal agak menguat di tengah masyarakat kita yang menggoyahkan dan mengganggu integrasi nasional, dll.
Semua hal ini tidak boleh dibiarkan, berbahaya bagi keberlangsungan bangsa dan negara (nation-state sustainability) yang berdaulat (dignity). Kita semua yang cinta NKRI, terutama ormas Muhammadiyah harus terua mencarikan solusi yang elegan, gradual dan evolutif, sehingga NKRI berdaulat dan bermartabat tetap terjaga dan terpelihara dengan baik dengan rakyatnya sejahtera, adil dan makmur yang berkemajuan, sebagaimana dicita-citakan.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah yg kini bermuktamar ke 48 thn 2022 di Surakarta saat ini dengan tema “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta”, maka harapan kita, mereka para Muktamirin sukses memilih para pemimpinnya yang bisa berkontribusi terhadap penyelesaian masalah-masalah krusial kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (NKRI) seperti yang ditunjukan para tokohnya terdahulu, (maaf yg saya tahu), diantaranya alm KH.Ahmad Dahlan, KH Mas Mansyur, Prof Buya Hamka (Ulama besar, Ketum MUI Pusat berintegritas tinggi), KH AR Fachrudin, Prof Buya Syafii Maarif, Prof Amin Rais (Bapak Reformasi Indonesia, thn 1998), Prof Din Syamsuddin, Prof Haidar Nashir, dll. Mereka para Tokoh Muhammadiyah telah menunjukkan kemampuan kepemimpinan dan pemikiran-pemikirannya pada masanya yang melegenda dan inspiratif, tranformatif, serta solutif, hendaknya menjadi rujukan public policy dalam wadah NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, InsyaAllah.
Ya Allah ya Rabb, lindungilah umat, rakyat, bangsa dan negara kami agar selamat dalam menghadapi berbagai cobaan dan musibah hidup di dunia yg fana dan selamatkanlah kami di kehidupan akhirat yg baqa, kekal-abadi, nanti. Syukron barakallah. Aamiin-3 YRA.
Selamat bermuktamar ke 48 tahun 2022 sehingga menjadi “uswathun hasanah”
Wabillahit taufiq walhidayah wr wb
Penulis adalah Alumni Madrasyah Tsanawiyah Muallimin Muhammadiyah Cerenti tahun 1968, dan keluarga Muhammadiyah Cerenti Provinsi Riau; Dosen-Pendiri Universitas Djuanda Bogor; dan Pendiri-Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bogor serta Wasek Wankar ICMI Pusat, terakhir sbg Pegiat dan Pengamat Sosial





