Oleh: Dr. Bambang Wahyu
Postmodernisme berangkat dari penolakan atas model berpikir universalisme modernisme. Model ini melihat segala sesuatu mengerucut pada narasi besar sebagai nilai dominan: demokrasi, HAM, seni adiluhung, atau masyarakat sejahtera. Nilai-nilai partikular hanya suplemen yang mengukuhkan superioritas nilai dominan itu.
Narasi besar ini kemudian ditransformasi ke beragam simbol kehidupan, narasi sosial, serta identitas manusia. Misalnya dalam politik, nilai keutamaan atau keselarasan dikembangkan menjadi kebiasaan tanpa memperhatikan dimensi permainan kekuasaan di dalamnya.
Immanuel Kant berbicara tentang kemutlakan moral, yaitu ada hal yang selalu benar atau salah tanpa mempertimbangkan situasi. Mencuri adalah perbuatan buruk dan harus dihindari. Inilah imperatif kategoris yang mewajibkan semua orang mematuhinya. Tapi bagaimana jika seseorang mencuri karena tidak ada pilihan lain dan demi sebuah nyawa yang harus diselamatkan?
Postmodernisme mempertanyakan kembali nilai universal ini. Ia mengatakan ada situasi spesifik yang dapat menjadi pertimbangan selain kewajiban moral karena setiap nilai selalu berkorelasi dengan situasi spesifik.
Mencuri sebagai tindakan buruk vis a vis tindakan menyelamatkan nyawa seseorang. Jika dihadapkan pada pilihan sulit seperti ini, apakah nilai kebenaran universal masih bisa dipegang? Implikasinya kebenaran tidak melulu berurusan dengan common sense tapi juga sebuah interkoneksi dengan hal-hal yang spesifik.
Postmodernisme membongkar pengetahuan umum ini dengan berpihak dan memberi kesempatan pada nilai partikular. Caranya dengan berpihak pada alteritas (yang liyan) yang selama ini dipinggirkan oleh nilai universal. Bagi Derrida harus ada upaya dekonstruksi posisi. Tidak semua yang liyan berkualitas inferior atau negatif.
Berpihak pada yang liyan adalah mengganti oposisi ordinat-subordinat menjadi setara. Dalam relasi lisan-tulisan, berlaku nilai universal tentang tindak tutur (lisan) lebih utama. Alasannya karena face to face interaction melaluinya. Tapi tulisan memperlihatkan permainan makna tak terbatas.
Seseorang yang membaca (tulisan, teks) akan menemukan makna yang berbeda dengan pembacaan orang lain. Makna melepaskan diri dari penjara huruf. Ia menyusun makna baru bergantung dari situasi pembacaan dan siapa yang membacanya. Tidak ada otoritas makna dalam pembacaan, apalagi objektivitas.
Subjektivitas tradisi dan kebudayaan lokal mempunyai signifikansi dalam memajukan cara berpikir manusia. Bagi Jean-Francois Lyotard, fungsinya sama dengan ilmu pengetahuan modern bahkan melampauinya. Kondisi ilmu pengetahuan modern ingin merangkum satu kesimpulan dalam narasi besar yang dipaksakan pada narasi-narasi kecil.
Siapa yang menjamin narasi besar dapat memberi solusi pada persoalan yang lokal dan unik. Seperti kolonialisme yang berupaya mengubah gaya hidup masyarakat terjajah dengan menginjeksi nilai-nilai modernitas. Padahal pribumi memiliki kekayaan sistem nilainya sendiri.
Nilai modernitas terlihat jelas pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang “memadatkan” (disembedded) interaksi sosial. Dunia dalam genggaman manusia. Manusia modern mengetahui beragam informasi dan kejadian dalam tempo sepersekian detik. Dunia telah menjadi sebuah wahana tanpa batas.
Tapi Jean Baudrillard menyadarkan kita bahwa semua itu adalah realitas semu. Realitas maya yang bergerak cepat dan mengikis dimensi sosial manusia. Jika terperangkap dalam dunia maya, kemanusiaan kita akan hilang. Kita hanya menjadi organisme robotik, sebagai cyborg (cybernetic organism). Manusia yang hidup dalam hiper-realitas harus pandai-pandai memosisikan diri, mendayagunakan teknologi sesuai fungsinya.
Organisme kehidupan dapat dilihat pada missing link pengetahuan. Michel Foucault mengidentifikasi keterputusan sistem pengetahuan pada masing-masing zaman. Setiap zaman memiliki episteme sendiri dan tak bisa dibandingkan.
Secara arkeologis, pengetahuan itu diproduksi oleh praktik diskursif di masyarakat. Praktik ini bukan pengetahuan makro tapi diseminasi pengetahuan lokal yang dilakukan masyarakat baik di keluarga, lembaga pendidikan, institusi agama, atau penjara.
Praktik diskursif ini mendorong terbentuknya relasi kuasa. Praktik kekuasaan hari ini bergerak lebih sophisticated dan tidak vulgar. Kekuasaan berada pada wilayah keseharian manusia melalui pendisiplinan tubuh atau prokreasi keluarga. Kepatuhan diri adalah cara memproduksi bahkan mereproduksi kekuasaan itu sendiri.
Kepatuhan diri muncul karena ketidakmampuan manusia memahami situasi di sekitarnya. Setiap orang paham tentang ketidaksempurnaan pengetahuannya. Ia adalah the lackness subject, kata Slavoj Zizek. Tapi ketidaksempurnaan itu juga ada pada situasi atau realitas.
Maka relasi manusia dengan realitas adalah relasi kekurangan. Alih-alih pasrah dengan state of nature-nya, manusia malah memiliki modalitas untuk “menambal” kekurangan diri dan realitas. Kondisi ini menjadi hasrat dan fantasi untuk membangun orde sosial yang lebih baik.
Jika orde sosial mengalami “kepenuhan” dengan sendirinya akan muncul antagonisme. Ini adalah sebentuk dialektika tanpa ujung. Setiap kepenuhan akan melahirkan kekosongan baru, kira-kira seperti itu yang dimaksud Chantal Moufee dan Ernesto Laclau.
Kekosongan baru adalah energi yang menyeimbangkan kepenuhan supaya tidak mengarah pada hegemoni. Tidak harus ada konsensus dalam mengisi ruang kosong ini. Pun tidak harus sama political imaginary-nya karena perbedaan bukan bidah. Malah keragaman harus dirayakan dalam festival harmonisasi.
Realitas memiliki mekanisme sendiri untuk mengukur dan mengkalkulasi siapa yang berhak mengisi kekosongan itu, kata Alain Badiou. Paradoks interaksi sosial tidak harus difiksasi secara gamblang. Biarkan saja semua mengalir karena realitas sendiri yang akan memperhitungkan konsistensi berikut inkonsistensinya.
Tak elok rasanya kalau dunia dibangun dalam terang konsistensi saja. Siapa yang akan mengisi ruang selanjutnya. Heisenberg memberi ruang untuk setiap kemungkinan bukan keniscayaan. Realitas pun bukan lagi suatu keteraturan (kosmos). Maka manusia dapat membuat disensus, kata Jacques Ranciere karena setiap ada makrokosmos dan mikrokosmos, ada juga penyeimbangnya dalam bentuk makrokhaos dan mikrokhaos.

