Paradox dan Anomali Sektor Pertanian

0
Apendi Arsyad
Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi

Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi

Membalas koment Add Didin Hasanudin di WAG alumni SF IPB..
ya begitulah nasib dunia pertanian kita. gejalanya penuh dengan “paradox”..paradox lagi…3x.

Karena pembangunan para elite membangun tidak pakai nalar dan hati nurani..
ya beginilah jadinya “paradox” lagi..dan sehingga muncul gejala negara yang aneh aneh “anomali”. Hal ini terjadi bekerja mesin birokrasi abnormal, dimana konsep dan teori saintek serta kaidah kaidah agama Islam (moral, etik dan akhlaq) tidak dipakai, akhirnya tidak bisa menjawab persoalan persoalan bangsa karena faktor paradox dan anomali tersebut. “Sakitnya bukan disini, tapi disana..”

Untuk memperjelas fenomena tingginya volume impor sayur-mayur ke Indonesia sampai menguras triliyunan Rp devisa negara, padahal Indonesia (NKRI) ini memiliki SDAL dan SDM yg melimpah ..aneh bukan main. Hal ini terjadi sebagai dampak dari virus baru Anomali-KKN (A-KKN). Virus A-KKN ini hanya bisa ditangani mereka yg bekerja di dunia hitam bersama para dukun2 yg tengah berkuasa di seputar elite politik negeri ini. Mereka sdh ahli dalam “tipudaya-bimsalabim”, karena sudah terhipnotis makhluk seitan…

Tentang gejala paradox di sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, pernah kita diskusikan di forum latihan dan pengembangan muslim intelektual Sanggar Felicia (Folapmi SF) IPB thn 1984 ketika itu saya menjadi Ketuanya. Untuk menjawab persoalan gejala paradox pertanian kami mengundang Kepala Balitbangtan Bpk Dr Faisal Kasryno. Setelah pemaparan makalah, saya dalam kegiatan diskusi, Kami menanyakan isu strategis ini yaitu mengapa Indonesia masih tinggi impor produk2 hasil pertanian, sementara potensi sumberdaya alam Indonesia melimpah?. Jawaban bpk Dr Faisal masih terngiang-ngiang dalam ingatan saya hingga kini..yaitu beliau jawab besar impor karena para pemburu rente (rent seeker) yg menguasai sistem tata niaga pertanian kita. Padahal kata bpk Faisal kemampuan SDM bangsa kita menguasai teknologi pertanian terutama aspek budidaya tanaman pangan sdh sampai pada puncaknya dengan tingkat produktifitas tertinggi spt riset padi, ikan, udang, ternaj dan beberapa jenis tanaman hortikultura lainnya sdh menyamai keunggulan negara maju lainnya spt Israel, Thailand dll.

Baca :  Siapa Sebenarnya Si "Kambing Hitam" itu ? dan Ciri-cirinya

Tapi faktanya ya begitu… besarnya angka statistik impor produk pertanian dari negara lain, dipengaruhi secara signifikan oleh perbuatan kolusi dan korupsi dari para pemangku kepentingan (stakeholder) yg berkuasa dan menguasai (the ruling party) sistem perdagangan di tanah air, yang dikenal dengan nama “mapia pangan”. Kelompok “kepentingan” ini adalah para pengusaha yang sangat hubungan para penguasa negeri ini, dan mereka sdh sangat berpengalaman menguasai jejaring ekspor-impor produk2 perdaganfan secara apik dan turun temurun.

Problem besar dan kendala yang menghambat pengembangan pertanian kita di Indonesia bukanlah kemampuan pengusaan teknologi, tetapi faktor penghambat sesungguhnya adalah penguasaan rantai dan sistem tata niaga (pemasaran) hasil2 pertanian.

Baca :  Sudut Pandang Dr. Apendi Arsyad, Pengamat Koperasi, Dosen Universitas Djuanda Bogor: Sebuah Renungan dan Refleksi

Kemampuan teknologi putra bangsa di bidang oertanian sdh sangat baik.sebagai hasil dari karya2 penelitian dan pengembangan pertanian (litbangtanl) baik yg dihasilkan oleh Universitas dan Perguruan Tinggi (spt IPB) dan Badan2 Litbangtan milik Kementan RI yg begitu banyak dan tersebar di tanah air yg merupakan peninggalan penjajahan Belanda. Jumlah tenaga ahli peneliti dan penyuluh pertanian terutama pertanian tropika, saya kira Indonesialah yg memiliki jumlah terbanyak di dunia. Mereka seharusnya sudah sangat siap sejak Indonesia mendukung progran swasembada pangan, ketahanan dan kedaulatan pangan. Tapi kenyataanya menjadi lain. paradox..tekat ketahanan dan kedaulatan pangan hanya slogan2 yg disuarakan ketika waktu Pilpres dan Pileg di negeri Anomali ini untuk merayu mendapatkan dukungan rakyat. Setelah pesta politik berakhir, mereka para elite berkuasa berubah peran dan fungsi sbg “rent seekers” yang menjadi bagian dari sistem mapia pangan. Akibat pola berperilaku KKN inilah menyebabkan ekonomi rakyat berbasis agribisnis lambat berkembang di tanah air Sektor pertanian kini menjadi kurang menarik dimasuki oleh generasi muda sehingga SDM yg bekerja di kebun, sawah dan ladang sudah rata2 berusia tua. Dampak berikutnya ekonomi perdesaan tidak berkembang, laju urbanisasi cukup tinggi sebagai dampak kelangkaan lapangan pekerjaan. Pertanian sebagai sumber matapencaharian “mati suri” kurang seksi bercitra buruk tidak menjanjikan masa depan yg mensejahterakan,. sehingga dampak negatifnya multiplier effect kemana-mana. Padahal Bung Karno Presiden RI pertama pernah berkata di acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Pertanian UI (sekarang menjadi kampus IPB Baranansiang Bogor) April thn 1952, mengingatkan kita bahwa Pangan Rakyat: Soal Hidup atau Mati sebuah Bangsa.

Baca :  Korupsi Dana BOS Dikdas Kota Bogor: Keprihatinan Kita

Begitulah peran strategis dunia pertanian bagi kelangsungan hidup negara-bangsa, tapi nasib pertanian sekrang kok jadi begini, ibarat pepatah “Tikus mati di lumbung padi” dan “Itik mati di tengah berenang di kolam”.. naif.. tragis kata adinda Didin dari Bandung. Selamat merenungkannya.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda,Bogor; konsultan dan pekerja sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here