JAKARTA (LEAD.co.id) – Pj Ketua Umum PB HMI sambut baik rencana Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Dudung Abdurrachman rekrut calon prajurit TNI dari kalangan santri dan lintas agama.
Romadhon menuturkan, rencana mantan Pangkostrad tersebut mendapat dukungan dan apresiasi dari publik. Pasalnya, pertimbangan merekrut prajurit TNI dari kalangan alumni Pesantren karena santri dinilai sudah terdidik dari segi moral maupun akhlak.
“PB HMI menyambut positif rencana ini, demikian juga publik mengapresiasi dan mendukung, ini kabar gembira bagi santri termasuk juga saudara kita lintas agama, dan benar yang dibilang pak KSAD Dudung santri udah terdidik akhlak dan moralnya ditanamkan di Pesantren,” ujar Romadhon JASN kepada media di Jakarta, Senin (07/12/2021).
Lebih lanjut, kata Romadhon, rencana Jenderal Dudung Abdurrachman patut didukung, sebab dengan merekrut santri yang notabeni memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang mumpuni bisa menjadi benteng pertahanan terakhir dalam upaya melawan dan menghentikan penyebaran ideologi transnasional takfiri berbasis kekerasan yaitu radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
“Ancaman radikalisme, ekstremisme, dan terorisme itu benar-benar nyata sebab penyebaran ideologi transnasional takfiri ini semakin meluas dan menjangkit ke semua level, karena itu santri bisa ambil peran cegah penyebaran ideologi transnasional apalagi santri punya pemahaman keagamaan moderat,” urainya.
Romadon juga menyoroti terkait ancaman ideologi radikalisme yang kasat mata telah menyentuh institusi MUI yang sama sekali sukar dan mustahil bisa disusupi radikalisme dan terorisme sehingga ketika dilakukan penangkapan sontak menggegerkan publik dan jagat digital.
“Ngak kebayang lembaga sebesar MUI bisa disusupi padahal disitu kumpulan ulama dan intelektual, saya justru khawatir ini terjadi di institusi yang lain sebab ancaman radikalisme nyata ini,” tambahnya.
Karena itu, kata Romadhon, ketika KSAD Jenderal Dudung Abdurrachman berencana merekrut kalangan pesantren alias santri dan lintas agama membuat banyak pihak optimis akan masa depan pemberantasan dan penanggulangan ideologi transnasional radikal dan terorisme di Indonesia. Sebab kehadiran santri dengan modal serta bekal pendidikan keagamaan yang moderat diyakini mampu menghadapi kelompok radikalis-teroris.
“Seperti kata buya Syafie Maarif santri bisa menghadapi kelompok radikal intoleran karena mereka ngerti betul, kita optimis kedepan dengan masukanya santri radikalisme dan terorisme bisa diberantas,” tegas Romadhon.
Apalagi lanjut Romadhon, dunia pesantren yang notabeni dihuni para santri dengan bekal pendidikan keagamaan yang moderat telah terbukti mempunyai kontribusi nyata dalam menggapai Indonesia merdeka. Pesantren dan santri menjadi simbol pelawanan dan benteng pertahanan dalam melawan kekuatan penjajahyang mengobarkan api perlawanan terhadap kedzhaliman kolonialisme dan imprialisme.
“Sejak pra kemerdekaan santri udah jadi tentara sebenarnya, mereka banyak yang gugur mengobarkan api perlawanan terhadap penjajah, santri itu simbol perlawanan bagi penjajah, jadi jelas kontribusi pesantren bagi kemerdekaan republik ini,” tandasnya.
Diketahui, rekrumen santri menjadi calon prajurit TNI tertuang pada konstitusi Pasal 29 ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Sehingga dengan masuknya santri menjadi prajurit TNI diyakini dapat mewarnai dengan nilai-nilai luhur dan ajaran agama Islam yang mereka yakini.
Kontributor : Permana
Editor : Aru Prayogi





