Penataan Batutulis, Guru Besar Unpad Sarankan Konsep Living Concert

oleh -346 views
Penataan Batutulis, Prof Nina Herlina Lubis, Living Concert
Prof. Nina dalam acara Sarasehan yang digelar Walikota Bogor, Rabu (29/1/2020).

LEAD.co.id | Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan menata Kawasan Batutulis, Kota Bogor Selatan. Merespon hal itu, Peneliti Sejarah, Prof Nina Herlina Lubis menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut.

“Saya sangat mendukung usaha pak Wali Kota untuk memulai dengan melestarikan peninggalan Kerajaan Sunda ketika berpusat di Pakuan Pajajaran,” ujar Prof. Nina dalam acara Sarasehan di Balaikota Bogor, Rabu (29/1/2020).

Acara Sarasehan ini digelar oleh Walikota Bogor, Bima Arya untuk mendengar masukan dari perspektif berbagai elemen terkait penataan kawasan situs Batutulis yang memiliki nilai sejarah Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran.

Baca :  Mengapa Warisan Budaya Melayu-Islam-Nusantara Termarginalkan ?

“Hari ini kami ingin mendengar masukan dari perspektif akademis, sejarah, budaya dan juga dari para budayawan terkait dengan perencanaan penataan kawasan Batutulis,” kata Bima.

Terkait konsep penataan Kawasan Batutulis, Profesor Nina yang juga Dosen Sejarah Sunda Universitas Padjadjaran Bandung menyarankan agar menjadikan konsep living concert atau pertunjukan hidup lengkap dengan museum kerajaan.

“Sebetulnya ibukota pajajaran dahulu yaitu 9×11 kilometer. Tapi penataan ini nantinya tidak usah dengan membongkar infrastruktur yang sudah ada sekarang. Kita hanya melestarikan peninggalan yang 10 buah tersebar itu dan itu dihidupkan dengan living concert,” terangnya.

Baca :  Masyarakat Aceh Perantauan Lestarikan Budaya di Jakarta

Dengan konsep living concert atau pertunjukan hidup ini, lanjut Nina, jadi orang bukan kembali ke masa lalu tapi bagaimana itu direfleksikan pada masa seperti sekarang ini. Bahkan, dirinya berharap, Pemkot Bogor bisa menciptakan konsep Ekomuseum seperti di Roma, Italia.

“Museum di Roma itu adalah perwujudan Roman Empire atau Imperium Romawi. Jadi satu kota itu punya tinggalan sejarah tapi tidak mengganggu masyarakatnya, malah se-kota itu jadi museum,” ungkap ketua Yayasan Masyarakat Sejarah Indonesia cabang Jabar ini.

Lebih lanjut Nina mengaku sudah empat tahun meneliti masalah Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Dalam rangka mendukung rencana ini, dia bersama rekan rekannya akan mematangkan konsep terkait penataan kawasan Batutulis yang dianggap punya nilai Sejarah Kerajaan Sunda tersebut.

Baca :  Gebyar Nusantara 2026: BEM IPB Dorong Budaya, Kreativitas, dan Kepemimpinan Mahasiswa

“Tadi di dekat Batutulis itu kan peninggalannya ada. Saya sudah empat tahun meneliti ini dengan teman-teman untuk nantinya membuat seperti apa peta ibukota Pakuan Pajajaran dan saya melibatkan tidak hanya sejarawan, ada juga arkeolog, ahli geologi, ahli geodesi. Mudah-mudahan itu tepat,” ungkapnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *