Polemik Istilah Unicorn dalam Debat Kedua Capres

0

Oleh Ryanti Suryawan

Setelah debat Capres kedua kemarin, ramai dibicarakan masalah unicorn, dan menjadi pembincangan terutama dimedia sosial, saat itu Capres Petahana melontarkan pertanyaan kepada Prabowo Subianto soal infrastuktur dan apa yang akan dibangun dalam pengembangan perusahaan perusahaan rintisan ( startup ) di Indonesia.

Unicorn merupakan istilah yang sangat familiar di dunia perusahaan rintisan atau startup. Istilah unicorn digunakan untuk mendeskripsikan perusahaan privat yang telah mengantongi valuasi lebih dari USD1 miliar.

Seperti yang kita ketahui saat ini ada empat perusahaan startup di Indonesia yang berstatus unicorn yang berasal dari Indonesia, yaitu Gojek, Traveloka, Bukalapak, Tokopedia. Dan Unicorn ini adalah perusahaan startup yang nilai Valuasinya sekitar USD1 Miliar atau setara kurang lebih Rp 14 triliun

Lalu ketika menjawab pertanyaan Jokowi, Prabowo sempat bertanya balik: ” yang dimaksud bapak unicorn maksudnya yang apa ? Yang online online itu ?” Lalu dialog dua capres ini serentak menjadi perdebatan, bahkan tidak sedikit yang memaknai Prabowo tidak memahami pernyataan Jokowi tersebut, padahal Prabowo hanya ingin mempertegas atau menyakinkan bila yang dimaksud Jokowi adalah Startup perusahaan rintisan (startup) teknologi

Baca :  Catatan untuk PLN

akan tetapi sebenarnya ada yang lebih penting yaitu apakah kita merasa bangga dengan empat unicorn yang kita miliki saat ini. Mengapa pertyaan itu patut dipertanyakan karena faktanya empat unicorn yang ada sahamnya dikuasai asing meskipun pendirinya orang Indonesia, lalu mengapa bisa demikian? Karena investor Indonesia belum mampu menyuntikan dananya, karena banyak pertimbangan bagi mereka untuk menanam saham ke startup Indonesia, sedangkan bagi asing Indonesia ini adalah merupakan pasar menggairahkan, karena transformasi negara ini ke digital begitu pesat, dengan pasar yang juga begitu besar. Lalu bila dikatakan unicorn itu penting memang benar, karena tidak akan ada yang bisa menahan laju perkembangan digital saat ini. Karena semua sektor pada akhirnya akan terdigitalisasi lebih cepat memiliki unicorn, dan tentu lebih baik bagi ekonomi digital Tanah Air.

Lalu bila ada kekhawatiran yang perlu diwaspadai adalah ketika startup kita dikuasai oleh asing adalah hal yang wajar, karena kekhawatiran ini yang selalu dikemukakan adalah mengenai data, penyalahgunaan data, karena yang menguasai modal asing dikhawatirkan dapat seenaknya menguasai dan menyalahgunakan data pengguna yang dikumpulkan startup unicorn tersebut. Karena data data pengguna ini dapat diolah untuk banyak kepentingan jangka panjang, pemilik modal dan dapat juga dijadikan untuk menggempur pasar Indonesia, dan bila itu terjadi ya resiko kita hanya jadi pasar para pemodal asing, dan produk asing membanjiri Indonesia, dan masyarakat kita yang disetir. Ini bukan masalah menakut nakuti, ini lebih kewaspadaan karena dalam bisnis digital urusan data adalah segalanya, apalagi kita termasuk Negara yang belum cukup baik dalam mengelola urusan data dan melindungi data warganya.

Baca :  LPSK Sesalkan Polemik Status JC Nazaruddin

Adapun hal lain yang sekiranya kita tidak perlu terlalu bangga dengan status unicorn adalah fakta nya bahwa produk yang ditawarkan dipasar dipasar bisnis e-commerce Tanah Air masih didominasi 90%produk asing dan 10% adalah pruduk lokal.
Diharapkan kedepannya pemerintah dapat menjamin data data masyarakat yang dihimpun unicorn dan tidak disalah gunakan, investor asing bisa saja menguasai saham, akan tetapi tidak seenak mengakses data masyarakat secara ilegal. Dan juga diharapkan pemerintah agar dapat memperjuangkan agar produk UMKM dapat bersaing di bisnis e – commerce. Lalu saat ini belum banyak produk UMKM yang masuk market place itu disebabkan karena pengetahuan pemasaran masyarakat kita melalui digital platform yang masih rendah, hal inilah yang harus diubah, masyarakat harus dirangsang agar siap beradaptasi dengan perubahan dan memiliki kepedulian dengan pemasaran digital.
Kedepan semoga pemerintah lebih dapat menjaga dan berupaya agar investor asing tidak merajai di Indonesia. Berikan kepada pengusaha lokal dan UMKM agar Produk Produk dalam Negeri ini diakui dan dibanggakan.

Baca :  Polemik Pilpres 2019, PB HMI Minta Semua Pihak Tidak Bertikai

Ada hal yang sebenarnya perlu didukung dan tidak harus secara latah segalanya harus terkait dunia digital. Mendukung para pemuda pemudi Indonesia membangun UMKM yang sehat. Tidak harus dalam format perusahaan rintisan, tetapi mendorong secara penuh kaum milenial untuk merintis usaha!.

 

Ryanti Suryawan
Penulis adalah Ketua Badan Pemenangan Prabowo-Sandi Kota Bogor, Ketua DPD GARDU PRABOWO Jabar, Wakil ketua DPC Gerindra kota Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here