Polisi Tembakan Gas Air Mata ke Demonstrasi Tenaga Medis di Paris

0

LEAD.co.id | Polisi Prancis menembakan gas air mata setelah sebelumnya masa aksi melempari benda saat demonstrasi di Paris pada hari Selasa (16/06/2020) dipimpin oleh ribuan petugas kesehatan yang menuntut lebih banyak investasi dalam sistem kesehatan.

Dokter, perawat dan staf administrasi berbaris tanpa insiden di ibu kota dan kota-kota Prancis lainnya untuk menuntut pemerintah menepati janjinya untuk merombak sistem rumah sakit Prancis dalam menanggapi krisis coronavirus.

Namun, saat para demonstran tiba di depan kompleks Les Invalides di pusat kota Paris, para demonstran yang berpakaian hitam membakar sebuah kendaraan dan melempari polisi dengan proyektil dan meneriakkan “semua orang membenci polisi.”

Baca :  Dituding Sarang Preman, KPTB Gerudug Balaikota

Demonstran juga membalik beberapa kendaraan yang ada di lokasi. Sempat terjadi ketegangan dan kekacauan saat petugas kepolisian menembakkan gas air mata.

Sebuah sumber kepolisian mengatakan, para demonstran radikal anti-pemerintah telah bergabung ke kerumunan dan memperkirakan jumlahnya antara 250 dan 300.

“Kelompok-kelompok kekerasan berusaha untuk meningkatkan ketegangan pada demonstrasi damai yang diadakan oleh petugas kesehatan,” tweeted markas polisi di Paris.

Pihaknya juga menerangkan telah mengamankan 30 orang yang diduga sebagai provokator.

“Mereka telah membajak protes ini dengan paksa,” ucap Patrick Pelloux, kepala Asosiasi Dokter Darurat di Perancis (AMUF).

Baca :  Ratusan Massa KAMMI Geruduk Istana, Tuntut Cabut RUU Cipta Kerja

Petugas kesehatan yang telah lama mengeluh tentang gaji rendah dan staf yang tidak memadai di rumah sakit Prancis, sehingga menyebabkan serangkaian pemogokan selama setahun terakhir untuk menuntut peningkatan pendanaan.

“Kami digambarkan sebagai pahlawan super karena kami bekerja lembur dan melindungi pasien kami tanpa peralatan yang cukup. Kami dijanjikan pengawetan dan pendanaan tetapi kami belum melihatnya,” kata seorang perawat, Latifa, yang bekerja di sebuah rumah sakit di kota selatan Grenoble.

Dirinya menambahkan, setiap harinya memiliki simpul di perut dikarenakan takut membawa pulang virus.

Baca :  Polsek Cibungbulang Selidiki Curas di Toko Swalayan

“Kami ada di sana untuk pasien kami, bahkan tanpa topeng, sarung tangan atau alat pelindung lainnya. Bagi orang tua yang tidak lagi memiliki pengunjung atau tidak memiliki keluarga, kami adalah segalanya,” kata Membanda, yang berpenghasilan sekitar 1.100 euro sebulan.

Disisi lain, Menteri Kesehatan Olivier Veran pada hari Senin (15/06/2020) mengatakan pekerjaan sedang dilakukan untuk meninjau gaji pekerja kesehatan dan menambahkan bahwa pemerintah akan memiliki input pada awal Juli.

Sumber : AFP
Editor : Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here