Puluhan Etnis Rohingya Kembali Terdampar di Indonesia

oleh -430 views
Etnies Rohingya, Pengungsi Rohingya, Rohingya, Terdampar, Kepulauan Indonesia, Aceh
Puluhan Pengungsi etnies Rohingya telah terdampar di pulau tak berpenghuni sekitar Aceh, pada Jumat, 4 Juni 2021 [File: Geutanyoe Foundation via Aljazeera]

ACEH (LEAD.co.id) – Kapal yang membawa 81 orang pengungsi etnies Rohingya telah terdampar di pulau tak berpenghuni, Indonesia setelah hanyut selama lebih dari 100 hari di tegah laut. Perahu kayu kecil itu ditemukan di perairan Pulau Idaman di lepas pantai provinsi Aceh, pada Jumat (4/6/2021).

“Staf kami di lapangan telah bertemu dengan para pengungsi yang mengatakan bahwa mereka telah bepergian selama tiga bulan,” kata Rima Shah Putra, Direktur Yayasan Geutanyoe seperti dukutip Aljazeera.

Yayasan Geutanyoe merupakan LSM yang memberikan pendidikan dan dukungan psikososial kepada para pengungsi di Indonesia dan Malaysia. “Mereka melakukan perjalanan dari India ke Aceh menggunakan perahu kecil bermesin ganda, 100 kursi,” kata dia.

Aljazeera melaporkan, banyak dari mereka wanita dan anak-anak, awalnya melakukan perjalanan dari kamp-kamp di Bangladesh ke perairan lepas pantai India.

Perahu mereka sempat mengalami kerusakan dan diperbaiki oleh penjaga pantai India dengan memberi persediaan logistik namun tidak mengizinkan untuk mendarat. Penjaga pantai India juga diperkirakan telah menemukan delapan dari 90 orang pengungsi yang telah meninggal di atas kapal.

Baca :  Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya Berprestasi Nasional di Aceh Hasilkan Petani Milenial

Para pengungsi ditolak masuk kembali ke Bangladesh, memaksa para penumpang untuk mencoba mencapai Malaysia sebelum mendarat di Pulau Idaman, Indonesia.

“Tentu saja mereka dalam kondisi yang buruk dan pulau itu sendiri tidak memiliki fasilitas dan penuh dengan nyamuk,” kata Putra.

Sumber Al Jazeera mengatakan, kebuntuan telah terjadi ketika polisi setempat mendesak para pengungsi untuk kembali ke kapal mereka untuk meninggalkan perairan Indonesia.

“Mereka akan memutuskan besok (Sabtu) apakah akan mendorong mereka kembali ke laut atau tidak,” tambah sumber itu.

Aceh sebelumnya telah mendukung pengungsi Rohingya untuk menetap di provinsi tersebut. Pada Juni dan September tahun lalu, dua kapal yang membawa 100 dan 300 pengungsi Rohingya mendapat perlindungan setelah dibantu nelayan setempat.

Baca :  TNI di Hati Rakyat: Kala Koramil Julok Menjadi Juru Selamat di Tengah Gelapnya Banjir

Salah satu pengungsi yang mendarat pada bulan September, Gura Amin (18), telah melaut selama tujuh bulan setelah berlayar dari Cox’s Bazar di Bangladesh. Dia mengaku hanya bisa membayangkan kondisi para pengungsi di Pulau Idaman.

Mereka mengaku sangat lapar dan tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan, “sehingga terkadang kami lupa nama kami sendiri,” katanya. Karena itu, mereka mendoakan warga Aceh atas kesediannya untuk memberikan perlindungan.

“Untuk semua saudara dan saudari Rohingya saya di Aceh, saya berdoa untuk Anda,” kata pemgungsi itu.

Amin mengungkapkan, Rohingya tidak punya pilihan selain melakukan perjalanan berbahaya melalui laut untuk mencari pemukiman akibat terjadinya kekerasan di Myanmar sejak beberapa tahun lalu.

Indonesia merupakan salah satu negara Asia Tenggara yang mengizinkan pengungsian Rohingya setelah negara-negara Asia Tenggara termasuk Thailand dan Malaysia tidak mengizinkan pengungsi Rohingya mendarat dengan alasan pandemi.

Baca :  Polres Bogor Bekuk Jaringan Sabu asal Aceh

Meski Pemerintah Indonesia menerima Rohingya, namun tidak mengizinkan mereka bekerja atau bermukim di negara itu secara permanen, dan bukan penandatangan Konvensi Pengungsi.

“Penanganan pengungsi Rohingya di Indonesia masih belum sepenuhnya memenuhi standar HAM internasional,” kata Usman Hamid, Direktur Amnesty Internasional Indonesia kepada Al Jazeera.

Usman meminta pemerintah pusat bisa turun tangan dan mendukung pemerintah daerah untuk menyediakan kebutuhan dasar dan tempat tinggal yang layak bagi pengungsi Rohingya.

“Pemerintah juga harus memulai dialog regional tentang perlunya memastikan bantuan bagi pengungsi Rohingya yang saat ini berada di luar Myanmar, termasuk di Bangladesh dan Malaysia, dengan prinsip tanggung jawab bersama,” kata Usman.

Reporter: Jhonie Arya
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Aljazeera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *