Ratusan Pengungsi Rohingya Terdampar di Pantai Aceh

0
Ratusan Pengungsi Rohingya Terdampar di Pantai Aceh
Para pengungsi Rohingya beristirahat setelah mendarat di pantai Lhokseumawe, provinsi Aceh, Senin, 7 September 2020. (Foto AP/ Rahmat Mirza)

LEAD.co.id | Sekitar 300 pengungsi Muslim Rohingya ditemukan terdampar di pantai provinsi Aceh (Indonesia) pada hari Senin (7/9/2020). Sebelumnya, mereka telah berbulan-bulan terombang-ambing di laut.

Warga sekitar melaporkan, rombongan tiba di pantai Ujong Blang dengan menggunakan satu perahu. Komandan Koramil Banda Sakti, Roni Mahendra menyampaikan bahwa, pengungsi Rohingya telah bubar menjadi tiga kelompok setelah mendarat.

“Kami membujuk mereka dan meminta bantuan warga sekitar hingga mereka berkumpul kembali,” kata Mahendra.

Dikatakan dia, sebanyak 181 perempuan, 100 laki-laki dan 14 anak-anak telah diberikan perlindungan dan mendapat bantuan dari warga setempat, Polisi, TNI dan petugas kesehatan.

Baca :  Peduli Covid-19, DD Aceh-Digital Durian Malaysia Distribusikan Sembako

“Sekarang kami masih menunggu instruksi lebih lanjut dari atasan kami,” kata Mahendra.

Pengungsi, Rohingya, Aceh
Para pengungsi Rohingya beristirahat setelah mendarat di pantai Lhokseumawe, provinsi Aceh, Senin, 7 September 2020. (Foto AP/ Rahmat Mirza)

Sementara itu, Indrika Ratwatte, direktur untuk Asia-Pasifik UNHCR mengatakan bahwa, Rohingya telah bertahan sekitar tujuh bulan di laut dalam kondisi putus asa, sehingga membutuhkan perawatan medis. Menurutnya, sekitar 330 Rohingya telah memulai perjalanan dari Cox’s Bazar di Bangladesh pada bulan Februari.

“Lebih dari 30 diperkirakan tewas dalam perjalanan,” tambah Ratwatte seperti dikutip Associated Press.

Dia juga mengatakan, kelompok pengungsi tersebut mencoba berulang kali untuk turun selama lebih dari 200 hari di laut, tetapi tidak diizinkan untuk mendarat.

Baca :  Personil Polwan dan Bhayangkari Melakukan Trauma Healing di Posko Pengungsian

Ratusan ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar yang mayoritas beragama Buddha karena tindakan keras militer, dan banyak yang tinggal di kamp-kamp pengungsi yang padat di Bangladesh.

Aktivis hak asasi khawatir sejumlah besar Rohingya telah pergi ke laut, melarikan diri dari penganiayaan yang sedang berlangsung di Myanmar dan kesulitan di kamp-kamp di Bangladesh, di mana para penyelundup mungkin menjanjikan mereka kehidupan yang lebih baik di luar negeri.

Merespon hal itu, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan pengungsi Rohingya masih rela mempertaruhkan segalanya demi keselamatan.

“Mengerikan bahwa pihak berwenang Indonesia menunggu nelayan lokal berinisiatif melakukan penyelamatan ini. Seharusnya pemerintah, bukan perorangan, yang menyelamatkan nyawa ini,” kata Hamid.

Baca :  Tanya Burr Ceritakan Krisis Pengungsi Suriah di Kamp Azraq

Dia menekankan kepada Pemerintah pusat agar memastikan mereka mendapatkan perlindungan, termasuk makanan, tempat tinggal, layanan kesehatan, termasuk perlindungan dari COVID-19.

Hamid juga mendesak pihak berwenang agar berkoordinasi dengan negara-negara lain di kawasan untuk mencari dan menyelamatkan Rohingya di laut.

Sebelumnya, pada bulan Juni, nelayan Indonesia juga telah menemukan 94 orang Rohingya yang kelaparan dan lemah di atas perahu kayu yang terapung di lepas pantai Aceh.

Sumber: Associated Press
Editor: Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here