Ratusan Pelajar Sleman Hanyut, Enam Meninggal, Lima Masih Pencarian

oleh -212 views
Pelajar, Terseret Arus, Sleman
Para Pelajar Pramuka SMPN 1 Turi yang selamat dari arus deras Sungai Sempor, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (21/2/2010).

LEAD.co.id | Enam pelajar dinyatakan meninggal dunia dan lima lainnya masih dalam pencarian, akibat terseret arus deras Sungai Sempor, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (21/2/2010).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Joko Suprianto menyebut, insiden itu bermula saat 250 murid SMP Negeri 1 Turi melakukan kegiatan pramuka dengan menyusuri Sungai Sempor yang berada di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Ketika melakukan penyusuran tersebut, arus air tiba-tiba deras dan volume air meningkat akibat kiriman dari hulu sungai.

Baca :  Pasca Bencana, Pramuka Kota Bogor Bantu Pesantren Darul Ahkam

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman melaporkan, lebih dari 180 personel gabungan masih melakukan pencarian 5 murid yang masih harus dikonfirmasi keberadaannya. Sebanyak 239 murid yang selamat dari insiden telah terdata oleh pihak sekolah dan tim gabungan.

Saat ini BPBD Kabupaten Sleman telah mendirikan pos komando di lokasi kejadian dan terus berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, Polri, dinas terkait, sukarelawan dan warga setempat.

Berikut ini nama-nama murid yang menjadi korban dalam insiden penyusuran sungai:
1. Sofia Aulia, Kelas 8, alamat Sumberejo
2. Arisma, Kelas 7, alamat Ngentak Tepan
3. Nur Azizah, Kelas 8, alamat Kembang Arum
4. Latifa, alamat Kembang Arum
5. Belum teridentifikasi
6. Belum teridentifikasi

Baca :  Update Korban Pramuka Sleman: 7 Meninggal, 3 Belum Ditemukan

Dia juga menekankan, insiden ini menjadi pembelajaran bersama sehingga insiden serupa dapat dihindari. Apabila akan melakukan kegiatan penyusuran sungai, ini harus dilakukan oleh orang dewasa dan terlatih.

“Anak-anak dan remaja dilarang untuk melakukan penyusuran sungai mengingat sangat berisiko tinggi. Perlu juga memberitahu aparat pemerintah dan keamanan setempat,” tambah Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB, Agus Wibowo.

Di samping itu, kata dia, aktivitas penyusuran seharusnya dilakukan pada saat musim kemarau. Ketika ini dilakukan pada musim hujan, risiko air menjadi tinggi mengingat apabila hujan terjadi di sekitar hulu sungai akan berdampak pada arus dan volume air sungai hingga ke bagian hilir.

Baca :  Pramuka Bogor Tengah Gelar Pelatihan KMD

Saat berita ini diterbitkan, Personil gabungan masih melakukan pencarian kelima pelajar Pramuka lainnya yang belum ditemukan.

 

Sumber: BNPB

Editor: Aru Prayogi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *