Oleh: Salma F. Rumatoras
Peringatan hari kemerdekaan Indonesia menjadi suatu yang dirayakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia setiap tanggal 17 agustus, dikarenakan HUT RI dinggap sebagai hari kemerdekaan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Namun apakah 76 tahun kemerdekaan Indonesia masyarakat Indonesia telah benar-benar merdeka ? mari kita merefleksikan kemerdekaan hari ini dari perspektif perempuan.
Kata “Kemerdekaan” mestinya dinikmati oleh semua lapisan masyarakat yang memiliki suatu kesamaan tujuan. Bahwa kemerdekaan hak segala bangsa. Setiap tahun kita rayakan kemenangan, ada harapan, serta cita-cita dari bangsa yang berjuang. pun memaknani kata berjuang dan kemerdekaan masih belum terjamak sampai ke pelosok negeri. Berjuang bagi mereka yang belum merdeka sepenuhnya adalah kontinunitas atas cita-cita yang masih belum tercapai baik itu ekonomi, pendikikan, kesehatan dan lain-lain.
Merayakan hari kemerdekaan “mungkin” bagi Mama-mama Papua adalah suatu kewajiban, refleksi hari ini agar ke-esokan harinya mereka terus semangat berjuang untuk anak-anaknya. Banyak mama-mama Papua yang harus berjualan di Pasar Tradisional, dengan lapak seadanya, tetapi mereka yakin bahwa kelak perjuangan mereka membuahkan hasil peradaban manusia yang mendunia. Dengan mengais rejeki seadanya di pasar sederhana Mama-mama Papua banyak saya temukan di pasar-pasar tradisional, di emper-emper jalan di Papua.
Di Merauke misalkan, sebagai tempat saya dibesarkan, banyak Mama-mama Papua yang harus berjuang untuk keluarganya dengan berjualan di tempat seadanya. Menurut saya hal ini terjadi akibat kurangnya perhatian Pemerintah terhadap Mama-mama Papua dengan menyediakan tempat atau lapak yang baik bagi mereka atau regulasi atau aturan yang tidak berpihak kepada mereka, ditambah lagi mama-mama Papua harus bersaing dengan pedagang-pedagang non Papua. Oleh sebab itu dua hal yang menjadi fokus pemerintah adalah membuat regulasi yang bisa mengakomodir Mama-mama Papua dalam berjualan serta menyediakan tempat yang lebih baik kepada mereka.
Euforia kemerdekaan Indonesia sudah semestinya terus diterapkan bagi masyarakat Indonesia, tetapi perjuangan bangsa Indonesia belum selesai. Perempuan memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan masyarakat adil makmur di Indonesia dengan menerapkan sikap nasionalisme dalam bernegara. Namun peran mama-mama Papua lebih dari itu, mereka mampu hidup ditengah mayoritas orang-orang yang telah sejahtera dan mampu menjadikan keluarga dan lingkungan mereka bersyukur secara individu dan kelompok walau hidup di negeri yang belum mampu mensejahterahkan mereka.
Sehingga dapat dikatakan bahwa 76 tahun kemerdekaan Indonesia belum dapat mengimplementasikan pemerataan paham nasionalisme bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Penulis menjabat sebagai Fungsionaris Kohati PB HMI dan Tengah Menjadi Peserta Training LK 3 HMI BADKO Papua-Papua Barat





