Site icon LEAD.co.id

Reinkarnasi N 250 Karya BJ Habibie

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Selasa siang tanggal 25 Oktober 2022, saya membaca pesan via WA japri dari mas Sibawahi, Kepala Sekretariat MPP ICMI untuk saya, AA. Bahwa saya diundang oleh Ketua Dewan Penasehat Forum Dialog Nusantara (FDN), Dr Ing Ilham Akbar Habibie MBA untuk hadir dalam acara Launching buku “Kebangkitan Industri Dirgantara Mewujudkan Indonesia Emas 2045”, pada Jumat, 28 Oktober 2022, di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta Pusat.

Terus terang saya AA, sangat senang menerima undangan “ekslusif” ini, hatiku pun “berbunga-bunga”, karena tak banyak orang yang diundang untuk acara yang teramat langka dan menarik ini, alhamdulillah.

Kesempatan berharga ini, barangtentu tidak akan aku lewatkan begitu saja, sehingga jadwal rutin mengajar mahasiswa di kampus Jumat siang itu, terpaksa saya undur esok harinya Sabtu. Subhanallah para mahasiswa tidak berkeberatan.

Begitu juga undangan rapat Tm Ahli proyek Hilirisasi Investasi Strategis (HIS) Sektor Perikanan, BKPM RI, bertempat di salah satu hotel di Jakarta, saya adalah salah seorang tenaga konsultannya, saya minta izin tidak bisa menghadiri meeting tersebut. Begitulah penting dan bernilainya acara Launching buku “Kebangkitan industeri dirgantara Indonesia” karya Ilham Akbar BJ Habibie ini, dimataku.

Ayahnya BJ Habibie dan juga puteranya Ilham Akbar Habibie merupakan manusia-manusia hebat dalam pandanganku selama ini. Bak pepatah bahasa Melayu…”buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”.

Saya AA dan kita, tentunya sangat bersyukur kepada Allah SWT bahwa bangsa ini masih dianugerahi asset sumberdaya manusia (SDM) yang bermutu tinggi dan handal, yang mampu menguasai teknologi tinggi, pernah menciptakan pesawat terbang N 250, yang pertama kali mengangkasa pada tgl 10 Agustus 1995, bertepatan seminggu sebelum 50 tahun Indonesia Merdeka.

Tapi sayang, akibat negara-bangsa NKRI mengalami krisis moneter, berlanjut krisis ekonomi dan berujung krisis politik-pemerintahan pada tahun 1997-1998, Presiden RI ke 2, lk 32 tahun berkuasa “lengser ke prabon”, maka produksi N 250, Gatot Kaca, terhenti proyek pembangunannya, karena “dilarang” atau tidak mendapat suntikan dana pinjaman (berutang) dari Lembaga Donor dana internasional, yang bernama “IMF” ketika itu.

Memang ada juga terindentifikasi pengaruh hegemoni politik- ekonomi dari negara-negara Barat (“anti Islam”), yang tak menginginkan NKRI berkemajuan yang beradab dengan masyarakatnya yang sejahtera (adil dan makmur), yang notabenenya rakyat dan pemimpinnya mayoritas menganut agama Islam, berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Akibat aneka krisis suntikan dana APBN pun tidak ada lagi, maka kemudian N 250, Gatot Kaca menghilang dari publikasi dinamika progres industri strategis dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Padahal dahulu riset dan pengembangan industri strategis dirgantara sangatlah berjaya dan menjadi kebanggaan nasional kita, tetapi hingga saat ini kenyataannya redup dan bahkan menghilang eksistensinya.

Saya masih ingat pada tahun 1991, dimana delegasi peserta Silaknas ICMI pertama di Hotel Indonesia Jakarta, diundang oleh Ketua Umum MPP ICMI, BJ Habibie untuk berkunjung ke pabrik pesawat terbang PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) di Bandung. Saya AA berangkat bersama rombongan peserta Silaknas ICMI, naik kereta api Jakarta-Bandung pulang-pergi dengan nyaman dan begitu senangnya menikmati perjalanan wisata saintek, yang langka tersebut.

Alhamdulillah, saya dan kawan-kawan aktivis ICMI dari seluruh Indonesia bisa melihat produk-produk IPTN, megakarya anak bangsa, yang sangat membanggakan, dan kita penuh percaya diri bahwa rakyat Indonesia mampu berkarya spt negara maju lainnya spt Amerika, Jerman, Perancis yang memproduksi pesawat Air Bus dan Boeing.

Bahkan pada acara seremonial penyambutan kami, saya mendengar pidato Direktur International Islamic Bank yang diberikan kesempatan berpidato, beliau mengatakan bahwa IPTN ini adalah kebanggaan dunia Islam karena satu-satunya yang ada dan berada di negara muslim di dunia yakni Indonesia.

Berikutnya, bahkan Indonesia adalah satu-satunya negara ASIAN sebagai produsen pesawat terbang yang berteknologi canggih “fly by wire”, sedangkan spt negara Thailand, Malaysia, Philipina dll pun belum punya. Dengan mendengar sambutan Pimpinan Direksi IPTN, saya pun merasakan sesungguhnya, membuka wawasan berpikir saya tentang “high tech” apa manfaatnya bagi kemajuan dan marwah bangsa dan negara, semakin bertambah dan saya kagum dengan bpk BJ Habibie.

Bahkan saya pernah mendengar langsung pidato BJ Habibie di acara nasional ICMI bahwa industri pesawat terbang memiliki nilai tambah (value added) yang tinggi bagi kemajuan bangsa Indonesia, terutama dalam peningkatan perekonomian nasional, khusus pada sektor transportasi udara.

Selain kebutuhan pasar global yang terbuka lebar untuk pemasaran produk pesawat terbang berpenumpang sedang spt N 250, juga kebutuhan domestik juga sangat besar. Hal ini mengingat kondisi geografis dan geostrategis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar (the bigest archipelago state), membutuhkan pesawat-pesawat terbang yg kecil dan sedang.

Dengan kekuatan industri dirgantara, kita memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, karena adanya keterhubungan antar pulau, arus manusia dan barang-barang kebutuhan penduduk pun lancar. Itulah salah satu visi BJ Habibie yang jenius untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Belakangan, 1-2 tahun terakhir saya telah menulis 2-3 buah artikel di media sosial tentang kekaguman saya dengan almarhum BJ Habibie, antara berjudul “Mengenang Alm Bapak Prof BJ Habibie”. Jadi, saya AA adalah salah seorang pengagum alm BJ Habibie, seorang vigur dan sosok manusia yang berkemauan dan berkemampuan memadukan (integrasikan) kekuatan imtaq dan ipteks dalam kepribadian dan wataknya.

Akan tetapi kenyataannya apa dan bagaimana yang kita lihat akhir-akhir ini, Perusahaan BUMN PT Dirgantara Indonesia yang memproduksi pesawat N 250, sejak tahun 1998 mengalami kebangkrutan dan ribuan SDM bangsa Indonesia asli yang memiliki kecakapan dan ketrampilan (high skill labour) dalam pengembangan Iptek industri dirgantara kehilangan pekerjaan, dan akhirnya hengkang ke perusahaan industri pesawat terbang di luar negeri.

Dengan bergesernya regim politik dan pemerintahan (the ruling party) di era pasca Reformasi, penelitian dan pengembangan (R and D) industri strategis Indonesia yang dulu dirintis dan dinakhodai BJ Habibie mengalami kemunduran yang drastis. Apalagi sistem organisasi dan kelembagaan BRIN sekarang ini, yang didesain regim berkuasa saat ini, semakin tidak kondusif dalam berkreasi dan berinovasi sebagai dampak negatif dari kepemimpinan negara-bangsa yang tidak visioner, miskin kapasitas saintek serta lemahnya integritas.

Maaf sangat jauh dari kelas konpetensi dan kwalifikasi si jenius BJ Habibie, pemimpin dan negarawan yang cerdas, visioner dan memiliki kapasitas entrepreuner. Bahkan sekarang kita sering mendengar institusi R and D yang dimiliki dan dikuasai negara, sedang terjadi gejala “dehabibiesasi” karena kuatnya pengaruh politik dalam urusan riset dan saintek di tanah air Indo nesia saat ini. Itulah pola mindset publik mengenai narasi industri dirgantara di Indonesia hingga saat kini, zaman Now.

Dengan diterimanya undangan tersebut, saya semakin bernafsu untuk hadir dalam forum acara. Rasa ingin tahu dan penasaran saya muncul..”apa benar industri dirgantara Indonesia..bisa bangkit lagi..etc”? Pertanyaan berikutnya, “apakah mungkin bisa terjadi reinkarnasi alm. BJ Habibie? etc etc.

Selanjutnya menjelang hari H acara Launching buku Ilham Akbar Habibie, Jumat 28 Oktober 2022 di Jakarta, pikiranku mulai menerawang jauh ke belakang (flash back), mengenang kehebatan dan kebesaran karya-karya seorang genius dan melegenda almarhum Prof Dr Ing Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie , Presiden RI ke 3, Pendiri/Ketum MPP ICMI pertama, dan juga dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia. Alm Prof BJ Habibie, kita tahu ayah kandung Dr Ing Ilham Akbar Habibie, yang kini di MPP ICMI mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat.

Siapa yang tak kenal “manusia genius” asal Pare-Pare Sulawesi, yang pernah dimiliki Indonesia dengan sejumlah karya besar, dedikasi dan prestasinya serta reputasinya telah mendunia. Kita mengetahui dan mengakui BJ Habibie begitu banyak jasanya bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Salah satu mahakaryanya tokoh idola saya ini, selain perintis, peletak desain iptek, beliau adalah seorang yang berhasil selaku Kepala Negara dan Pemerintahan RI dimasa “transisi”, perpindahan dari era regim Orde Baru bergeser ke era “Orde Reformasi” yang penuh gejolak dan kerawanan disintegrasi bangsa.

Alhamdullilah, berkat kepemimpinan BJ Habibie, Indonesia terhindar dari perpecahan (disintegrasi) bangsa, dan NKRI tetap berdiri tegak dan insyaAllah kokoh menghadapi “guncangan-guncangan tsunami” gerakan reformasi. Fakta ini telah banyak ditulis dalam bentuk buku oleh para pakar dan ilmuwan dalam dan luar negeri.

Dengan kehadiran saya AA di acara Launching buku “Kebangkitan Industri Dirgantara Mewujudkan Indonesia Emas thn 2045, 100 thn Indonesia, yang dikarang oleh Dr Ing Ilham Akbar Habibie bersama kawan-kawannya aktivis Forum Dialog Nusantara (FDN) antara lain bpk Justino Djogo, dengan kontributor bapak Harry Waluyo, Pitut Pamuji, Haris Kuswoyo, Adi Wicaksono, Adhi Darmawan dan ibu Elisa Soegito, dan diselenggarakan launching buku tersebut dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2022.

Dr Ing Ilham Akbar Habibie dalam butir-butir pemikiran sambutannya, yang saya dengar dan pahami, bahwa kita bersyukur sebagai bangsa yang besar dan kaya SDA dan SDM unggul yang dikader BJ Habibie, dan kita pernah berhasil menciptakan pesawat terbang, dan Indonesia berstatus negara produsen industri dirgantara, dengan puncak prestasi berhasil pertama terbang pesawat N 250, Gatot Kaca, pada tgl 10 Agustus 1995, karya para insinyur Indonesia.

Saya dan kita sangat berharap dengan adanya acara Launching buku tersebut, bisa membangkitkan jiwa dan semangat atau membangunkan kembali (reinkarnasi) industri dirgantara pesawat terbang kita. Hadirnya produk-produk pesawat terbang tersebut diharapkan mampu memasok kebutuhan nasional, kebutuhan domestik.

Kenyataannya, seperti sekarang industri jasa transportasi udara Indonesia kian terpuruk dan maaf bisa bangkrut seperti Garuda, juga kita lihat di bandara, dominasi maskapai penerbangan swasta seperti Lion Air grup mendominasi jalur-jalur penerbangan di seluruh Indonesia dengan pesawat Air Bus dan Boeingnya, yang kita tahu itu adalah produk impor dari negara-negara maju seperti Amerika, Jerman dan Perancis.

Jadi ketergantungan kebutuhan kita terhadap produk industri dirgantara negara-negara lain semakin menguat kini dan masa depan, devisa negara akan berkurang dan menghilang karena impor pesawat terbang dan suku cadangnya. Untuk itu solusinya bangsa dan rakyat Indonesia untuk meraih NKRI emas pada tahun 2045, dimana usia 100 Indonesia Merdeka dan Berdaulat secara ekonomi dan inovasi teknologi seharusnyalah kita bisa bangkit kembali.

Dengan kata lain, kita bisa membangun industri dirgantara kembali dengan menghasilkan produk pesawat yang dibutuhkan negara-bangsa seperti alm. N.250 yang menemui “kegagalan” tersebut di awal Reformasi. Walaupun hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan, sebab begitu besarnya tantangan yang akan dihadapi seperti kebutuhan modal finansial yang sangat besar, komitmen Pemerintahan yang kuat untuk bisa mandiri sebagai negara pemasok (supplier) pesawat terbang, dukungan politik yang kuat yang ditetapkan dalam regulasi dan kebijakan publik yang mendukung bangkitnya industri dirgantara mewujudkan Indonesia Emas 2045, dan kemitraan-komitmen stakeholders yang kuat, rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh, sebagaimana isi pesan (content) moral dan etik dari buku tersebut.

Saya dan kita sangat sepaham dan sepakat, apa yang diungkapkan bpk Dr.Ing Ilham Akbar Habibie, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ini, bahwa kita bangsa Indonesia belum cukup merasa satu bangsa, satu tanah-air dan satu bahasa yakni Indonesia.

Akan tetapi yang perlu kita bangun wawasan, dibutuhkannya lagi adanya inovasi-teknologi yang memperkuat kehidupan kebangsaan yakni persatuan dan kesatuan bangsa berbasis karya industri dirgantara yang memiliki “value added” dan “multiple effect” yang tinggi dalam membangun sistem perekonomian nasional, bukan pemborosan (high cost) sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang tak mengerti dan alergi kepemimpinan BJ Habibie pada sidang MPR RI pada sesi Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Presiden RI ke-3, yang mereka tolak LPJ tersebut.

Mereka tidak menghargai karya besar dan jasa-jasa Prof BJ Habibie yang telah ikut aktif memajukan dan bahkan menyelamatkan NKRI yang kita sama-sama cintai ini dari perpecahan. Nauzubillahi minzalik.

Dengan demikian, kejayaan Indonesia Emas tahun 2045, seratus tahun Indonesia, semoga berkat Rahmat Allah SWT selalu menyertai dan insyaAllah bisa terwujud 100 tahun Indonesia Merdeka, dimana masyarakat dan rakyatnya hidup dalam kondisi berkeadilan dan berkemakmuran sejati sebagaimana tercantum dalam amanat Pembukaan UUD 1945, Aamiin-3 YRA.

Demikian narasi ini saya buat sesungguhnya, untuk mengingatkan kita bahwa kita bisa menjadi bangsa dan NKRI yang besar, mandiri dan kuat asal kita bersatu segenap komponen bangsa, point terakhir ini merupakan persyaratan mutlak. Demikian inti sambutan beberapa pembicara dan penanggap isi buku dalam acara Launching buku al spt bpk Cheppy Hakim, Justino Djugo, dll.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih atas undangannya, sehingga saya bisa menulis seperti ini, dan saya mohon maaf apabila ada salah ungkapan kata dan bahasa. Bak pepatah..”tiada gading yang tak retak”.

Penulis adalah Pendiri-Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bogor-Wasek Wankar ICMI Pusat; Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor; Pegiat dan Pengamat Sosial

Exit mobile version