LEAD.co.id | Tawuran antar kelompok yang terjadi akhir pekan lalu menjadi pekerjaan rumah baru dalam sisi keamanan di kota Bogor. Pasalnya bentrokan yang kerap terjadi pada dini hari menjadi waktu yang tepat bagi para kelompok melakukan aksi tawuran.
Namun, kejadian tersebut sering kali di hubungkan dengan tawuran antar pelajar yang ada di wilayah Bogor. Dalam kesempatan yang berbeda Reporter LEAD.co.id menemui Wasi Jastmiko Nugroho, Kasi Kesiswaan Bidang SMP yang juga Ketua Umum Satuan Tugas (Satgas) Pelajar Kota Bogor (31/01/2020) di kantornya Gedung Dinas Pendidikan, Jl Raya Pajajaran Kota Bogor.
Dari catatannya angka pekelahian atau tawuran antar pelajar tiap tahun mengalami penurunan signifikan. Akan tetapi dirinya menyayangkan jika bentrokan yang terjadi pada dini hari tersebut disebut sebagai tawuran antar pelajar.
“Perlu adanya pemilahan antara tawuran pelajar dengan tawuran masyarakat. Sebelumnya juga bisa di cek dari kejadiannya pukul berapa, serta atribut yang digunakan pada saat bentrokan tersebut,” sampainya.
Menurutnya, tawuran antar kelompok yang terjadi pada dini hari tidak serta merta langsung dikatakan sebagai tawuran antar pelajar. Peran orangtua dalam pengawasan anak-anak di dalam rumah menjadi hal penting untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan setelah jam sekolah.
“Kalau bentrokan yang terjadi pada jam sekolah dari pagi sampai sore saya bisa sepakat jika itu dikategorikan sebagai tawuran pelajar, tetapi kalau pada malam hari kan mereka sudah pulang kerumah, lantas dimana peran orangtua dalam pengawasannya ketika sepulang sekolah,” ucapnya.
Saat ini keberadaan Satgas pelajar sangat dibutuhkan untuk menjamin keselamatan dan keamanan para siswa ketika hendak pergi sekolah sampai kembali kerumah. Namun disisi lain peran dan fungsinya sering kali dijadikan titik persoalan setelah mapun saat terjadinya tawuran.
“Peran dan Fungsi dari Satgas ini adalah untuk mengamankan siswa yang hendak berangkat, saat berada disekolah, hingga pulang kerumah sehingga merasa aman ketika proses menimba ilmu. Kadang masyakarat belum mengetahui hal itu yang membuat saya miris,” tambahnya.
Meski terbatasnya jumlah personel dilapangan tidak menjadi hambatan untuk menanggulangi titik-titik rawan pertemuan antar kelompok pelajar. Titik tersebut biasanya merupakan persimpangan hingga tempat transit angkutan umum. (AP)





