Satuan Pedidikan : Sibuk Mengemas Cangkang Pembelajaran

0

Oleh : Rendy Dwi Maulana

Pendidikan tidak pernah luput dengan perkembangan sosial-budaya, serta peralihan sosial politik. Itu pula yang tampak mendasari perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia, hingga perubahan yang terakhir dilakukan. Perkembangan dinamis yang terjadi sehingga membentuk Kurikulum 2013 Edisi Revisi Tidak luput pula perubahan terhadap penyelenggaraan pendidikan. Aturan Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 mengenai jam mengajar 37,5 jam dalam satu minggu membawa angin pengap bagi para guru, khususnya para pegawai negeri sipil.

Beban kerja seorang guru menjadi momok di tengah tanggung jawab guru sebenarnya begitu vital. Seorang guru merupakan aktor penting dalam peradaban. Jika kita tinjau akhir-akhir ini guru begitu disibukkan dengan peralihan kurikulum, diadakannya pelatihan di internal sekolah dalam bentuk IHT (In House Trainning) ataupun pelatihan yang di luar sekolah. Pelatihan yang diadakan membahas mengenai Kurikulum 2013 Edisi Revisi. Di dalamnya menumpuk penjelasan seperangkat administrasi guru yang nantinya mesti dilengkapi. Begitulah tugas seorang guru, menyiapkan perkakasnya saja sudah amat melelahkan.

Pembelajaran diibaratkan buah. Sedangkan perangkat pembelajaran layaknya kulit buah. Nah, selama ini guru disibukkan dengan mengikuti pelatihan untuk memahami kulit tersebut. Sampai lupa bahwa kenikmatan bauh dapat dirasakan dari isinya. Selama ini guru disibukkan untuk merawat kulitnya. Bukan hanya lupa, seorang guru seperti tidak diberi ruang untuk memikirkan isi yang berada di balik kulit. Padahal situasi pendidikan begitu dinamis berubah seiring perkembangan zaman. Guru membutuhkan diskursus baru, misalnya tentang sosial-budaya yang erat sekali dengan sikap belajar dan hidup siswa.

Baca :  Lapenmi PB HMI Dorong Pendidikan Manfaatkan Era 4.0

Bebarapa kasus yang terjadi di dunia pendidikan, seorang guru yang menghukum siswa dilaporkan ke pihak berwajib. Bukan saya mengamini tindak kekerasan melainkan keleluasaan seorang guru di era milenial ini tidak seperti dahulu. Ruang tindakan guru terhadap perilaku siswa begitu sempit. Kasih sayang orang tua hingga melaporkan guru ke pihak berwajib. Padahal dasar tindakan guru sebanarnya tidak jauh dari bentuk teguran terhadap perilaku kurang baik siswa. Dan kasus-kasus seperti ini tidak bisa diselesaikan dalam pelatihan Kurikulum atau perangkat pembelajaran.

Dibutuhkan diskursus tentang sosial-budaya yang terjadi di masyarakat secara mendalam sehingga guru memiliki pemahaman terhadap perkembangan siswa ataupun orang tua siswa di zaman milenial ini. Selain itu guru nantinya dapat bersikap dengan tepat karena sudah diberi pengalaman pengetahuan terhadap sikap atau perilaku masyarakat yang tentunya berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Dan hal itu yang tidak pernah diselenggarakan, baik oleh pemerintah ataupun satuan pendidikan.

Baca :  Manfaatkan Wakaf, Tingkatkan Pendidikan Islam di Pacitan

Pembahasan mengenai sosial-budaya masyarakat milenial ini hanyalah salah satu diskursus yang luput dari kurikulum pemerintah. Program pemerintah terhadap guru seakan mendorong aktivitas guru menjadi padat untuk menyiapkan perangkat mengajarnya. Hal tersebut tidaklah keliru tetapi guru kehilangan sesuatu yang sebenarnya berkedudukan esensial dalam dunia pendidikan, yaitu pemahaman mengenai cara menghadapi sikap siswa di era milenial dan kebaruan terhadap ilmu pengetahuan. Literasi tentang pengatahuannya tidak bertambah setiap waktu karena tidak ada waktu yang disisihkan guru untuk menambah atau sekadar memperbarui keilmuan yang diampu.

Rendahnya literasi guru berdampak besar terhadap budaya literasi peserta didik sehingga sejak 1999 sampai 2015 hasil survey Programme for Internasional Student Assessment (PISA) dan Trends in Internasional Match and Science Survey (TIMSS) menunjukkan siswa Indonesia belum mampu menempati posisi atas. Hal itu membawa angin gelisah terhadap dunia pendidikan Indonesia.

Baca :  Filosofi Pendidikan Indonesia : Antara Kesejahteraan dan Kualitas Pendidikan

Dua ilustrasi di atas terbangun dua tema besar yang mesti secepatnya dituntaskan dalam lembaga pendidikan. Bukan saatnya kita mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Sudah bukan saatnya guru untuk mengeluh meskipun beban kerja, baik secara fisik ataupun moral menumpuk dalam batinnya tetapi tidak boleh dijadikan alasan. Kepentingan merawat masa depan siswa jauh lebih vital dibandingkan keringat yang menetes dalam setiap langkah mengajar. Begitu pun pemerintah mesti memikirkan regulasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan pendidikan agar guru mampu bernafas secara tenang, memberi keleluasaan guru untuk mengembangkan diri dengan cara memfasilitasinya, bukan menambah beban kerjanya. Dua tema besar itu tentu harus mulai dipikirkan dan direalisasikan, tanpa mengenyampingkan kewajiban administrasi yang harus dipenuhi. Kita ingin bangsa ini tumbuh dengan cerdas dalam menjaga keadilan dan mencapai hidup yang makmur, bukan sekadar pintar menyusun perkakas yang menumpuk di meja-meja guru saja.

 

Penulis adalah Praktisi Pendidikan di Daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here