Simalakama Belajar Di Rumah

0
Rendy Dwi Maulana

Oleh : Rendy Dwi Maulana

Di tengah pendemi yang belum juga surut, dunia pendidikan masih terus gencar dengan konsep belajar dalam jaringan dan luar jaringan (daring). Konsep belajar ini dianggap paling efektif dalam situasi saat ini. Memang tidak ada pilihan lain agar pendidikan tetap berjalan sehingga daring merupakan langkah paling aman agar para siswa tetap di rumah tanpa meninggalkan rutinitas belajar. Lalu pertanyaannya, sejauh manakah efektifitas belajar di rumah itu?

Konsep belajar daring yang dilaksanakan secara spontan ini, menurut pengakuan beberapa guru menimbulkan hasil yang tidak maksimal karena berbagai faktor. Faktor siswa kesulitan dengan tugas yang diberikan, tidak punya kuota internet, hingga tidak memiliki fasilitas handphone. Semua menjadi satu dan membentuk permasalahan baru.

Bagaimana nasib para siswa yang tidak dapat mengerjakan tugas, terutama akibat tidak memiliki fasilitas yang memadai. Hal ini menjadi pekerjaan untuk pihak terkait di daerah. Karena Mendikbud memberi keleluasaan pada daerah sesuai kondisi dan potensi daerah untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh.

Menurut beberapa guru di daerah yang sudah menjalankan pembelajaran daring masih tidak berjalan maksimal jika ditinjau dari tugas yang terkumpul masih jauh dari sempurna. Jika situasinya seperti ini, bagaimana proses penilaian dapat dilakukan? Sedangkan sebagian besar siswa belum mengerjakan tugas karena berbagai faktor tadi.

Pada satu sisi, sebagai bentuk integritas pendidikan, penilaian harus tetap dipenuhi sesuai standar, meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Di sisi lain, Covid-19 benar-benar menyumbat proses belajar siswa untuk memenuhi kewajibannya. Lalu, apakah lembaga pendidikan harus memaksakan kewajiban belajar bagi siswa yang tidak bisa melaksanakan pembelajaran daring? Misalnya, dengan cara guru door to door mengunjungi rumah siswa ataupun siswa mengumpulkan tugas yang dikerjakan di buku catatannya kemudian dikumpulkan ke sekolah oleh orang tuanya. Apabila hal itu dilaksanakan tentu bertentangan dengan aturan PSBB yang sedang diterapkan dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19. Selain itu, bagi sekolah dengan jumlah siswa yang banyak akan menyulitkan para guru.

Menjelang ujung semester tahun pelajaran inipun, lembaga pendidikan dirundung permasalahan etis dalam proses penilaian, Pembelajaran daring yang tidak bisa diterapkan seluruh lembaga pendidikan karena tidak meratanya potensi daerah. Keadaan ini harus benar-benar dipecahkan secara arif. Situasi saat ini menyadarkan dunia pendidikan bahwa masih terlihat jurang kesenjangan fasilitas untuk melaksanakan pembelajaran daring, bahkan dalam satu lembaga pendidikan sekalipun. Karena ketidakmerataan kemampuan ekonomi masyarakat berdampak besar terhadap pembelajaran daring. Dan harus menjadi pertimbangan pula semakin hari orang tua siswa bertambah sulit untuk memenuhi ekonomi keluarganya, sementara Penilaian Akhir Tahun (PAT) sudah menanti. Jika situasi belum pulih total maka di sebagian sekolah yang sudah mampu menyusun Ujian Daring pasti akan dicoba. Pertanyaannya, apakah orang tua siswa cukup mampu untuk memfasilitasinya? Atau itu akan menjadi masalah sosial baru. Dalam posisi ini pemerintah harus menyusun strategi yang bijak dan tegas agar dapat dilaksanakan serentak sehingga tidak ada kecemburuan sosial.

Alangkah lebih elok, pembelajaran daring tidak dipaksakan jika tidak mampu mencakup seluruh lembaga pendidikan. Karena akan berdampak pada semakin lebarnya perbedaan taraf pendidikan di kota dan di pelosok daerah. Lebih arif, jika keadaan ini dijadikan terapi untuk siswa dan masyarakat luas betapa pentingnya sekolah. Terutama bagi siswa yang mulai kangen pergi ke sekolah dan berpotensi untuk menjadi pemacu motivasi belajar mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here